DI ZAMAN EDAN SEPERTI SEKARANG INI MEMBUTUHKAN ORGANISASI DAN MANAGEMEN EDAN

“Hanya akan ada dua macam manajer– manajer yang gesit dan manajer yang mati” (David Vicw – Northern Telecom)

Perubahan, perubahan, perubahan, kita harus belajar menghadapinya, tumbuh diatasnya. Itulah yang kini terjadi berulang kali. Tetapi ini tidak benar, Dengan mengejutkan, kita harus bergerak melebihi perubahan dan merangkul melebihi serta meninggalkan kebiasaan yang membawa kita pada posisi ini.Hapuskan “Perubahan” pada kamus kita, gantikan dengan “meninggalkan” atau “Revolusi”.

Dunia makin meriah saja. Hal ini ditandai dengan pada tanggal 18 Oktober 1993, USA Today mengungkapkan bahwa Golden State Warrior menawarkan US$74,4 juta kontrak selama 15 tahun kepada Chris Webber yang berusia 20 tahun, yang belum pernah bermain basket profesional semenitpun pada saat itu. Pada hari yang sama berita utama Financial Times memberitakan ancaman besar pekerjaan bagi 400.000 pekerja suku cadang mobil Eropa. Tiga bulan kemudian, pada bulan januari 1994, Business Week menerbitkan suatu angket yang melaporkan bahwa 90 % eksekutif perusahaan meramalkan kenaikan penjualan sepanjang tahun. Walaupun mereka optimis, lebih dari separuh eksekutif merencanakan untuk mempertahankan biaya gaji atau memecat lebih banyak pekerja.

Mari melanjutkan. Dalam rentangan beberapa minggu di musim panas 1993, MCI dan British Telecom mencapai kesepakatan besar. Time Warner dan US West bergabung, lalu Time Warner dan Silicon Graphics. Kemudian US West dan Microsoft serta General Instruments bergandeng tangan.Lalu Telecommunications Inc dan Time Warner serta Microsoft. Seperti pembentukan system tata surya baru dari debu ruang angkasa, suatu naga raksasa, mega industri pelayanan informasi- elektronik-hiburan-penerbitan- telekomunikasi-TV kabel-perangkat lunak computer- bernilai triliunan dollar lahir dalam ruang cyber dan layar televise.

Sementara itu, suatu benua, suatu peradaban – Asia – bangkit. Ekonomi cina tumbuh sebesar 14 % tahun 1992. Pendapatan perkapita Singapura yang canggih melebihi inggris. Dan berbicara kecanggihan, karya rancang elektronik maju di Asia kini berkembang jauh melebihi batas Negara Jepang sampai di Taiwan, Korea, Malaysia, Thailand, Cina dan India.

Saat beberapa delegasi partai dikirim ke pertemuan partai Komunis Guangdong 1993, yang datang dengan Mercedes bercat emas dan bangsa cina beramai-ramai mengajukan permohonan pembelian saham, apakah ada rasa heran bahwa Pimpinan General Motors, IBM, Westinghouse, American Express, dan Kodak semuanya dipecat dalam selang beberapa bulan.

Sejak hari-hari awal 1992 saat bursa saham menilai Microsoft, dengan pendapatan US$2 milyar saat itu, melebihi saham General Motors, dengan pendapatan US$120 milyar, akankah mengherankan kalau Boing, Kodak, Digital Equipment, Compaq, Daimler Benz dan ICI, Philips, Hyunday, Volkswagen, serta Bosch mengumumkan “revolusi” restrukturisasi- yang sering membantai tenaga kerja, mulai dari pekerja kerah putih yang paling putih.

Kalau Hewlett Packard dapat menjalankan bisnis printer ink-jek bertenaga kerja 9000 orang dengan staf “kantor pusat”-nya hanya terdiri dari 4 orang, dan perusahaan pada umumnya menjadi tumpul dan kekurangan modal dengan kecepatan luar biasa, apakah sukar untuk percaya bila Manpower Inc. Penyedia tenaga kerja sementara terbesar amerika kini memiliki persediaan lebih dari setengah juta pekerja? Atau jumlah pekerja sementara secara umum meningkat 250% sejak 1982, sementara tenaga kerja nasional hanya meningkat 20%, atau beberapa perusahaan penyedia pekerja sementara tumbuh seperti gasing dengan menyediakan Presiden Direktur, Direktur serta manajer proyek senior untuk beraliansi “merangkaikan” perusahaan yang mengganggap bahwa sesuatu yang permanen sebagai dosa bisnis yang mematikan?

Saat kita berhadapan dengan sekitar lebih 300 pengendali mikro elektronik terprogram setiap harinya, dan kamera Minolta 9xi baru lebih “pintar” dari computer Apple II tahun 1982, haruskah kita terheran-heran pada Nintendo, dengan hanya 892 pekerja, mampu mendongkrak penjualan US$5,5 milyar atau US$6 juta per orang, dan menduduki urutan keuntungan ketiga tahun 1992 di seluruh jepang.

Dan dengan Nitendo memacu dunia dan Internet menjaring jutaan orang barusetiap bulan, haruskah heran kalau membaca majalah dalam pesawat terbang akhir-akhir ini berisi Akses online : Majalah yang membuat Modem bekerja dengan isu pertama Makin Pening aja ?

Di Indonesia sendiri, ada seorang Caisar yang dulunya hanya seorang penari figuran, sekarang dengan begitu cepatnya menjadi terkenal berkat goyang/joget Caesarnya dan meningkatkan pendapatannya. Begitupun dengan soimah. Sedangkan banyak pekerja-pekerja  outsousing yang menderita karena diPHK dengan alasan perusahaan sedang sepi order sehingga perusahaan melakukan perampingan.

Menurut Tom Peters, dalam bukunya Liberation Management dan kumpulan artikel seminarnya, berpendapat bahwa dalam dunia yang sudah Edan seperti sekarang ini, dibutuhkan organisasi dan manajer yang edan. Organisasi dan manajer yang edan tersebut dalam hal :

1)    Organisasi dan manajer yang edan dalam hal melebihi perubahan dengan menuju dengan meninggalkan semuanya

Hanya ada sedikit keraguan bahwa zaman sudah edan, dan makin edan- apakah kita seorang bankir, pembuat perangkat lunak, pengusaha restoran, atau pegawai negeri. Dan apabila dalam zaman edan maka lalu apa yang lebih tepat dari organisasi dan manajer edan? Bila kita setuju dengan pengertian ini, maka perlu menyimpulkan bahwa masalah utama organisasi sekarang adalah kurangnya keedanan. Singkatnya kita sedang mencoba memakai organisasi dan manajer yang sehat untuk menghadapi dunia usaha yang edan.

Makin meningkatnya kenyataan busuk, suram dan makin membosankannya kebanyakan organisasi kini. Dan tentang teori-teori baru manajemen kita yang bertahan mengabaikan isu Kreativitas dan Semangat. Kenyataannya banyak teori-teori yang sebenarnya penghambat Kreativitas dan menekan Semangat pada saat keduanya telah menjadi pencipta nilai ekonomi.

“Tahun Sembilan puluhan akan menjadi decade serba cepat, budaya nanodetik”, kata David Vice dari Northerm Telecom. Bagi para pekerja putih biru, bagi Presiden Direktur dan Resepsionis, tubuhnya terbaring di jalanan dan walaupun pemulihan hampir tiga tahun, tidak ada tanda-tanda bahwa darah telah berhenti mangalir, malah sebaliknya.

“Akhir-akhir ini”, tulis Toyoo Gyohten , mantan wakil menteri keuangan jepang, dalam Changing Fortune, buku yang ditulisnya bersama Kepala Bank Sentral Amerika Paul Volcker, “Aku sedang berbicara dengan pedagang valuta asing terbaik Japang, dan kuminta padanya menyebutkan faktor-faktor yang diperhitungkannya dalam membeli dan menjual valuta asing”. Ia berkata , “Banyak faktor, kadang berjangka pendek, dan beberapa menengah, dan beberapa lagi berjangka panjang”. Aku makin menjadi tertarik ketika ia menyebutkan berjangka panjang dan menanyakan apa maksudnya dengan pembagian waktu seperti itu. Ia berhenti sejenak dan menjawab dengan sangat serius, “ Mungkin 10 menit”. “Beginilah caranya pasar bergerak pada masa-masa sekarang”.

Sebagian dari kita bukan pedagang valuta asing, tetapi kita tidak yakin kalau ini menyebabkan perbedaan besar dalam usaha yang sedang kita geluti kini. Metabolisme pasar sedang berpacu melebihi kendali. “Perkembangan baru dalam teknologi telekomunikasi tampaknya terjadi dua kali dalam sehari”, kata Dick Liebhaber, Kepala Teknologi dan Strategi MCI pada akhir tahun 1992. “Sejak 1979, ketika perusahaan Sony menemukan Walkman, tulis Steven Brull dalam International Herald Tribune bulan Maret 1992, Perusahaan ini telah membuat 227 model yang berlainan, atau sekitar 1 dalam tiga minggu”. Bagaimana kita akan bersaing dengan ini?

Perdagangan valuta asing, telekomunikasi, kebutuhan elektronik rumah tangga, bumbu spageti, bumbu dapur, dan lainnya lagi berpacu makin cepat.

Tidak peduli bisnis apa yang kita perhatikan, atau perhatikan operasi computer pribadi IBMdi Vioom Varoom Austin Texas (dan lenyap), dalam 3 tahun terakhir yang sepenuhnya merupakan pengoperasian modern, menurut The Economist, mengurangi siklus waktu perakitan rata-rata dari 7,5 hari menjadi 1,5 hari dan waktu pengembangan produk baru dari 24 minggu menjadi 8 minggu, menaikkan jenis produk dari 19 menjadi 85, dan sekaligus memangkas karyawan dari 1000 menjadi 423.

Tetapi perusahaan tidak perlu harus berteknologi tinggi untuk terlibat dalam perubahan masa kini. Beberap industry lebih tua atau lebih tradisional daripada pemurnian mineral, seperti pertambangan emas Kalgoorlie Australia menggandakan produksinya antara tahun 1989 sampai 1992 dan sekaligus mengurangi pekerjanya dari 1500 menjadi 720.

Revolusi, apa yang kita lakukan, apa yang kita buat, bagaimana kita bekerja, masing-masing dipengaruhi tidak kurang dari revolusi.

Sekarang, tulis Lewis Perelman dari School’s Out tentang rekaman musik yang membicarakan mengenai kondisi sekitar tahun 1992,”Sekarang, sebagian besar piringan hitam bisa direkam tanpa harus sekumpulan orang bermain music bersama dalam satu ruangan. Kini rekaman dirakit dari berbagai unsur yang diciptakan di berbagai tempat di seluruh dunia : trak/jalur disusun dari pemandu gitar di London, penabuh drum di New Orleans, pemain Keyboard di Tokyo, penyanyi di Toronto, dan bahkan mungkin semacam iringan dari panduan suara Afrika Selatan atau orchestra dari Cekoslowakia. Unsurnya mungkin dapat disatukan entah dalam studio di Holywood atau dalam gudang di Berkshire.”

Perelman yang kecemplung demi “akhir dari pendidikan” dengan kagum menjelaskan cara baru penguraian belajar seumur hidup. Universitas Teknologi Nasional, paparnya adalah fakultas tetap yang memancarkan 12.000 jam kuliahnya melalui satelit dari Fort Collins di Colorado, markas besar dari 5.000 insinyur lebih dalam ruang kelas bervideo di berbagai tempat kerja dari organisasi-organisasi pelanggan yang tersebar di seluruh Amerika. Fakultas terkemuka dari 40 lebih Universitas di seluruh Amerika menyelenggarakan kuliah UTN jarak jauh. Mahasiswanya, umumnya para insinyur yang mencari pendidikan lanjut dan pengembangan profesi-dapat mengikuti kuliah secara langsung di tempat kerja atau melalui rekaman. Mereka berkomunikasi dengan dosen melalui telepon atau surat elektronik, menurut rektor UTN Lionel Baldwin, dengan teknologi baru pemadatan sinyal digital, UTN kini dapat memberikan kuliah kemanapun parabola dapat ditempatkan dengan biaya hanya seperempat kelas akademi biasa”.

Kita telah memecah-belahkan perusahaan untuk memproduksi sesuatu (contohnya rekaman), perusahaan untuk menghadapi revolusi pengetahuan (pendidikan seumur hidup perorangan seperti yang diberikan UTN), kenyataannya jaringan sementara yang tersebar menjadi makin baru, dan tulang punggung perusahaan berdasarkan pengetahuan yang dikumpulkan dari siapapun, manapun, dan dikemas dengan seketika untuk memenuhi permintaan kilat pelanggan. Ekonomi mendatang akan berputar disekitar kemampuan otak yang dirakit secara inovatif, bukan kekuatan otot.

“ Kita sedang mencoba menjual lebih banyak dan banyak lagi kepandaian dan lebih sedikit dan sedikit lagi barang”, kata-kata ini diucapkan oleh perencana strategi 3M, George Hegg. 3M sejak lahirnya dan secara tradisi merupakan perusahaan bongkahan, perusahaan barang jadi. Kini sedang mencoba mengurangi bongkahan dan lebih menekankan kepandaian. Eksekutif pemasaran dari devisi elektronik perusahaan di Austin berkata, “para penjual kami tidak membawa-bawa contoh barang lagi. Kini pertarungannya adalah antara flowcart kami melawan flawcart mereka, Yaitu, apakah proses kami memungkinkan kami merekayasakan pemecahan pelanggan (produk dalam bahasa kemarin) mengatasi kebutuhan khas pelanggan lebih cepat daripada pesaing kami?”.

Flowcart dan kepandaian, itulah ceritanya, bahkan kalau suatu bongkahan benda (suatu kabel atau penyambung atau alat lain di 3M di Austin) benar-benar bertukar tangan. Minolta 9xi baru adalah benda bongkahan, tetapi kita curiga kita telah membayar US$10 untuk kemasan plastiknya, US$30 lagi untuk lensa kacanya, dan sisanya sekitar US$640 bagi kepandaian di belakangnya yaitu pemroses mikro dan perangkat lunak yang menggerakkan alat ini dan melakukan sesuatu yang sukar dibayangkan beberapa tahun lalu.

Ini adalah dunia lunak. Nike, suatu perusahaan “sepatu”, dimasukkan dalam daftar 500 perusahaan jasa Fortune, bukan perusahaan Industri 500. Nike mengontrakkan produksi sepatu mereka di pabrik-pabrik di seluruh dunia, tetapi ia menciptakan nilai saham luar biasa melalui desain yang bagus dan yang paling penting ketrampilan pemasaran. Menurut Tom Silverman, pendiri Perusahaan Rekaman Tommy Boy, “Nike adalah perusahaan pertama yang memahaminya bahwa bisnis mereka adalah bisnis gaya hidup”. Bagaimana kita dapat menjelaskan, kalau “pembuat sepatu” bisa memberikan bonus sebesar US$1 juta untuk pemula, dan jaminan US$375,000 setahun selama 15 tahun, dan opsi atas saham Nike untuk membujuk pelatih klub bola basket Duke, Mike Krsyewski membuang Adidas-nya dan memakai “Nike”. Sepatu? Bongkahan? Lupakan itu! Gaya hidup, citra, kecepatan, Nilai melalui kepandaian dan imej.

“Satu-satunya kekayaan pabrik Microsoft adalah imajinasi manusia”.Seperti diamati penulis majalah The New York Times Fred Moody. Setelah mendengar pendapat tersebut, kita jadi mengajukan pertanyaan,”Apakah ada yang tahu apa artinya mengelola imajinasi manusia?”, kita juga tidak tahu apa artinya mengelola imajinasi manusia, tetapi kita tahu bahwa imajinasi adalah sumber nilai utama dalam ekonomi baru.

Perhatikan pemutarbalikan baru yang EDAN secara kuantitatif dalam bentuk tiga pecahan, yaitu :

a)    Pertama adalah 116/129

Beberap tahun lalu, Philip Morris, mengambil alih Kraft seharga US$12,9 miliar, harga yang sesuai dengan kinerjanya. Ketika akuntan menyelesaikan tugasnya, ternyata Philip telah membeli kekayaan barang-barang seharga US$1,3 milyar (kekayaan nyata) dan US$11,6 milyar “lain-lainnya”. Apakah lain-lainnya itu, yang 116/129? Ketika kita belajar akuntansi, “nilai buku” adalah yang terpenting-nilai peleburan baja dalam tungku api pabrik Kraft dan nilai keju Velveeta dalam inventaris. Tetapi kini ceritanya menjedi terbalik.

Selamat datang pada dunia, menurut istilah salah satu eksekutif yang kita kenal, “Kalau anda dapat menyentuhnya, ia tidak nyata”, tetapi ini adalah konsep yang sudah dimengerti bagi insinyur sipil. Ini adalah konsep yang sudah dimengerti juga bagi banyak manajemen untuk dicerna. Tampaknya sesulit orang-orang yang menjalankan usaha menghabiskan sebagian besar waktunya mengelola 13/129 yang dapat mereka sentuh- kekayaan tetap yang kelihatan. Mereka benar-benar membiarkan “lain-lainya” (yang 116/129) menguap sendiri. Manajer perusahaan akan berkonsentrasi dengan setengah lusinan rapat untuk mengusulkan modal US$50,000, lalu melupakan masalah pelatihan dan melewati setahun penuh tanpa membicarakan serius tentang imajinasi, yang menjadi dasar semua yang tidak berwujud itu.

b)   Kedua adalah 97/100

ABB (Asea Brawn Boveri) adalah industry berat klasik yang bersaing dalam segmen usaha seperti instalasi daya listrik, transmisi daya listrik, distribusi daya listrik, pengangkutan, dan pengendalian pencemaran. Perusahaan bernilai US$30 milyar yang berkantor pusat di Zurich ini, berusaha mengurangi siklus waktu semua proses sebesar 50% dalam beberapa tahun mendatang. Keberhasilan dapat memberi dampak besar pada keuntungan. Sebagai bagian dari apa yang disebut program T50, ABB menganalisa dengan cermat siklus penjualan sampai penyerahan (penjualan, pemesanan, rekayasa, sertifikasi, pembuatan, perencanaan, penyerahan). Ternyata bahwa pembuatan hanya terhitung 3% dari siklus waktu. Sisanya, yang 97% dapat disebut “lain-lainnya”.”Seperti dikatakan eksekutif ABB : “Kami mengelola yang 3% menciptakan pembuatan bebas hambatan, lalu membiarkan sisanya berjalan sendiri”.

c)    Ketiga adalah 94/100

Seorang analisa memperkirakan bahwa hanya 6% dari jumlah pekerja IBM bekerja di pabrik. Sisanya yang 94% terikat di bagian lain – yaitu yang tidak berwujud, kegiatan jasa yang berdasarkan kepandaian seperti rekayasa, akuntansi, kepegawaian, persediaan, perancangan, dan keuangan. Lebih jauh lagi, kini bahkan dari yang 6% sekarang yang bekerja di pabrik kebanyakan melakukan tugas pelayanan.”Tangan-tangan” pabrik, kini menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dengan orang luar dalam kelompok multi fungsi yang merampingkan proses, meningkatkan mutu, atau menyeragamkan produksi. Dalam hal apapun, strategi mereka harus jelas, seperti untuk yang 94% lainnya : gunakan lebih banyak kepandaian, gunakan lebih banyak imajinasi.

Lebih dan lebih banyak lagi kepandaian dan makin sedikit barang. Imajinasi manusia adalah satu-satunya kekayaan pabrik. Selamat dating di dunia lunak, dunia keabu-abuan. Dan waspadalah kalau anda masih menganggap pekerja sebagai otot.Revolusi ekonomi terakhir (revolusi industry) memberikan Karl Marx pada kita. Abad Informasi-imajinasi belum menemukan Marx-nya.

“Setiap organisasi harus siap untuk meninggalkan semua yang dikerjakan,” tulis Peter Drucker dalam Harvard Business Review. Drucker tidak berlebihan, perhatikan kata-kata kunci dalam kalimatnya. Dunia sedang berputar balik. Arus naik ini terjadi sekali dalam dua abad, dan hampir tidak mungkin bagi orang yang telah hidup 25,35, atau bahkan 50 atau 60 tahun untuk membayangkannya. Revolusi teknologi makin cepat bertepatan untuk bersinggungan dengan munculnya perkampungan global. Dan tidak ada tempat untuk bersembunyi, tidak ada danau yang tenang untuk membuang semua ini. Ekonomi yang telah dan akan berkembang sedang mengikuti strategi yang sama “ Ciptakan nilai tambah, berdasarkan pengetahuan dan eksport”.

Banyak dari kita berpikir seolah-olah orang yang tidak tinggal dan bekerja di Amerika Utara, Eropa Barat, atau Jepang masih membuat sandal. Salah sekali, Samsung dari Korea, tidak dianggap satu dekade lalu, dengan cepat menjadi produsen no 1 komoditi chip memori semikonduktor, atau DRAMs. Dan di Penang, Malaysia, perusahaan elektronik terkemuka Amerika dan Jepang tidak lagi membatasi pekerja untuk merakit barang, pekerja merancang apa yang mereka buat. Bangalore, di India telah menjadi pusat perancangan perangkat lunak, (bahkan pengamat melihatnya sebagai pusat perangkat lunak dunia dalam 30 tahun). Singapura, bergaya khas sebagai “pulau yang pandai,” adalah penghubung global untuk bank, telekomunikasi, dan logistik.

Kita sedang merampungkan organisasi dan membuang kelebihan birokrasi. Ini bagus – dan lama terlambat. Tetapi memasuki abad Informasi, kita baru saja mencium diambang pintu.CEO Wal-Mart David Glass mengatakan,”Kita kekurangan mutlak dari produk tahun baru yang menarik, suatu kekurangan”.

Produk lunak dan keras baru sama-sama muncul bersamaan menyerang kita dengan jumlahnya yang terus bertambah dari setiap sudut ekonomi global, tetapi apakah semua itu amat menarik, menyihir dan khusus? Apakah semua itu melewati pengujian WOW. “Anda dapat memiliki semua perkawinan agung ini dan menempatkan informasi bebas hambatan semua infrastruktur ini pada tempatnya,”cerita Gerry O’Connell ahli multimedia pada Advertising Age akhir 1993, “tetapi akan membutuhkan kreativitas nyata untuk melakukan sesuatu baru dan menarik.” Atau seperti kata mantan pemimpin Apple Computer John Sculley, “Apakah kemampuan baru itu? .. Itu adalah seperti Rocky IV dan Godfather V”.

Kita sedang mencoba menghadapi perubahan ekonomi terbesar dalam dua abad. Kebenaran ini adalah sangat kelihatan. Tetapi apalah itu artinya bagi anda? Itu berarti bahwa perasaan takut anda wajar. Merasa nyaman adalah bunuh diri. Ini adalah zaman edan dan masa yang sulit. Sampai sejauh ini kita mencoba “melindungi” diri dari ketidakmampuan pencegahan, kita merintangi kemampuan kolektif kita untyk menyesuaikan diri pada pergeseran tektonik pada dasar ekonomi kita. Kita telah setuju bagi lebutuhan untuk menemukan kembali diri kita. Perusahaan dan Pemerintahan harus diubah, dan juga kita. Perlombaan akan menuju keingintahuan, sedikit kegilaan, dan pada mereka dengan gairah tak terpuaskan untuk belajar dan mencari.

2)    Organisasi dan manajer yang edan dalam hal melebihi desentralisasi dengan mengacaukan susunan untuk melampiaskan imajinasi

”Hanya kaum pencuriga yang selamat”, kata Andy Grove, Intel.  Dalam abad baru, kecurigaan bukanlah suatu penyakit. Sebaliknya, ia merupakan langkah pertama menuju kelanggengan kerja dan penghasilan perusahaan yang mantap.

Banyak dan lebih banyak lagi desentralisasi sangat berarti ketika organisasi harus berhadapan dengan lonjakan hal-hal yang tidak diketahui. Tetapi sebagian besar desentralisasi perusahaan, bahkan sekitar 1994, gagal melepaskan kebebasan sebenarnya maupun yang kebebasan khusus yang tertinggal dalam satuan bawahannya. Maka idenya disini adalah pindah melebihi desentralisasi menuju pengacauan susunan – atau penghancuran seperti dikatakan satu pimpinan perusahaan.

”Kita menyingkirkan semua organisasi resmi. Kita memperoleh keuntungan bersaing yang luar biasa, karena kita tidak memperhatikan hal yang resmi”, sebagaimana dikatakan oleh Lars Kolind, Direktur Oticon. Dan pada tanggal 8 Agustus 1991, pukul 8.00 pagi, tempatnya di Copenhagen, Denmark, Lars Kolind, Direktur Oticon, melakukan sesuatu yang tidak biasa. Ia mengubah perusahaannya menjadi apa yang ia sebut ”Organisasi Spageti”, suatu bentuk tanpa pusat.

Oticon, pembuat alat bantu dengar terkemuka dunia didirikan tahun 1904, telah merosot menjadi sangat buruk. Pangsa pasar anjlok sampai setengah dekade yang lalu. Kolind membongkar dinding kantor, menghilangkan sekretaris, dan menghapuskan rincian kerja dan spesialisasi untuk menciptakan unit-unit yang 100% mengarah pada proyek dimana pekerja dapat segera menemukan tugas yang harus dilakukan, lalu secara fisik mengatur diri ketika mereka melihat kemungkinan melakukannya. Untuk menegaskan perubahan, satu bulan kemudian, tanggal 8 September 1991, perusahaan melelang perlengkapan kantor yang lama kepada pegawainya. Ini adalah suatu tindakan yang telah diperhitungkan bertujuan untuk mencegah pengorganisasian kembali perusahaan. Kini orang memasukkan barang-barangnya dalam kantung atau keranjang pribadi dan memindahkannya ke tempat yang sesuai dalam ruang yang benar-benar terbuka agar mereka dapat bekerja beramai-ramai dengan berbagai rekan kerja.

Setelah tersendat beberapa kali, secara mengejutkan mulai membuat rekor keuntungan dan merebut kembali pangsa pasar yang hilang. Berhadapan dengan persaingan yang lebih tangguh daripada sebelumnya terhadap raksasa seperti Philip, ia memperkenalkan produk baru berkelas dunia separuh lebih cepat daripada jangka waktu normal. Ketika ditanya apakah ia mengandalkan keajaiban (kecepatan dan kreativitas) kepada keliarannya dan bentuk perusahaan yang baru, Kolind berkata, ”Tentu saja”. Kami memutuskan untuk menghilangkan struktur sebelumnya, kami meniadakan semua bagian, kami mengabaikan semua gelar manajer, dan jalur birokrasi juga lenyap. Tidak ada sekretaris untuk melindungi kita. Kami menyingkirkan keseluruhan organisasi resmi, kami memperoleh keuntungan bersaing yang luar biasa, karena kami tidak memperhatikan hal yang resmi, Kami hanya memperhatikan tentang kinerja dan Hasil.”Singkirkan keseluruhan organisasi resmi”. Dan apa yang dilakukan oleh Kolind pada Oticon tersebar bermil-mil melebihi desentralisasi, bahkan dipraktekan oleh perusahaan yang maju.

Contoh cerita menghancurkan nilai terjadi pada perusahaan kereta api Union Pacific yang menemukan masalah pada pagian rel yang dimiliki pelanggan. Prosedur penyelesaiannya terlalu birokratis dan berlebihan (absurd), sehingga perusahaan pada tahun 1987 menunjuk pemimpin baru, Mike Walsh, Ia melakukan pengorganisasian kembali secepat kilat. Kini kalau pengawas jalur menemukan masalah pada bagian rel milik pelanggan, ia dapat langsung memberitahu pelanggan. Kalau pelanggan tidak mau menerimanya (jarang terjadi), maka pelanggan bisa menghubungi pimpinan pengawas jalur, pengawas pelayanan angkutan, tetapi sang pemimpin ini nyatanya hanya berkata,”Dengar, aku tidak mengurus jalur. Aku hanya pimpinan. Lanjutkan saja bicarakan dengan pengawas jalur”. Maka untuk menghilangkan masalah tanpa akhir ini, yang dapat mematikan perusahaan, Walsh menghapuskan jenjang lama. Hanya dalam 120 hari, ia menghapuskan dua pertiga atau 6 lapisan organisasi operasional Union Pacific. Ini bukan cerita tentang kereta api, tetapi lebih banyak tentang manajemen. Banyak teknik manajemen modern ditemukan oleh perusahaan kereta api, seperti Union Pacific, yang merupakan perusahaan rumit lintas benua. Pada akhir abad 20, jenjang organisasinya yang luar biasa besar telah membuatnya, dan banyak perusahaan Amarika lainnya tidak dapat bersaing. Sistem yang diciptakan untuk mengatur masalah dalam perusahaan besar telah tumbuh dengan liar dan menghambat mereka. Nilai apa tepatnya yang diberikan oleh para berwenang 6 lapisan organisasi pada Union Pacific tersebut bagi produk domestik bruto amerika? Jawabannya kuantitatifnya adalah negatif. Kebenaran tidak menyenangkan yang tidak ingin kita dengar adalah bahwa para manajer menengah – bukan orangnya yang manis, melainkan fungsi mereka – tidak hanya memperlambat organisasi kita. Mereka bahkan memundurkannya. Manajer menengah menyumbat saluran perusahaan kita.

IBM pun telah melakukan pengorganisasian kembali, dan mengorganisasikan kembali, dan kembali lagi, hampir tanpa hasil.Kemudian IBM menjual beberapa anak perusahaan, bagian dari perusahaan yang dinilai manajemen senior tidak mempunyai masa depan, salah satunya Lexmark, yang membuat mesin tik elektrik IBM yang lemah dan sekarang kebanyakan membuat printer. Lexmark dijual pada para manajernya pada awal 1991. Hannya dalam waktu 16 bulan terjadi hal-hal sebagai berikut: jenjang manajemen dikurangi 60%, otoritas para manajer banyak ditingkatkan, diciptakan unit-unit usaha strategis yang otonom, prosedur banyak disederhanakan, terutama yang membutuhkan persetujuan keuangan, staf pusat dikurangi dan jenjang disederhanakan, terjadi penyebaran luar biasa, dengan banyak kegiatan produksi dibuat diluar, dan perakitan diorganisasikan kembali secara total. Hasil akhirnya usaha yang sebelumnya lemah membukukan keuntungan sebelum pajak sebesar US$100 juta atas omset US$2 milyar dalam setahun pertama setelah pisah dari induknya IBM.

Kita mungkin berada dalam abad canggih, tetapi segenggam dolar, yang kebanyakan diperoleh dengan menjaminkan rumah untuk kedua kalinya, akan masih memingkinkan anda menjalankan usaha apa saja yang terbanyangkan oleh anda.

Pada tahun 1992, Jack Welch presiden direktur General Electric yang baru mengubah dari likuidasi kepada pembebasan, berkata, ”Apa yang sedang kita coba lakukan tanpa henti adalah mendapatkan jiwa perusahaan kecil – dan kecepatan perusahaan kecil – di dalam tubuh perusahaan besar kita”.

Dan tiada yang telah mengejar situasi ini secara lebih agresif daripada kepala ABB (Asea Brown Bovari) Percy Barnevik. Siasat Barnevik : Singkirkan (hampir semuanya) dari pusat, pindahkan tanggung jawab pada unit-unit manusia berskala sedang”. Barnevik kini menjalankan perusahaan dengan karyawan sebanyak 210.000 orang dengan staf kantor pusat 150 orang : 100 Profesional dan 50 pembantu tatausaha. Staf perusahaan, yang ditempatkan dalambangunan biasa dekat stasiun pusat Zurich dan sederhana sekali. Hanya ada tiga lapisan manajemen yang memisahkan Barnevik dan tim eksekutif yang kecil dengan 190.000 orang lapangan yang melakukan pekerjaan yang sesungguhnya. Tetapi pencapaian Barnevik yang paling mengesankan adalah memecah perusahaan menjadi 5.000 bagian-masing-masingnya merupakan sumber keuntungan, dan mempekerjakan sekitar 40 orang. Sumber keuntungan sangat otonom. Umumnya, dipimpin oleh seorang pemimpin dengan 4 pembantu (kepala keuangan, teknik, operasi dan pemasaran/penjualan). Hampir setiap devisi memiliki pembukuan keuntungan/kerugiannya sendiri, neraca rugi laba dan pelanggannya sendiri. Barnevik mengatakan,” kalau bukan karena rumitnya masalah administrasi atau rincian hukum. Ia akan membuat PT (perusahaan) untuk masing-masing devisi. Dengan melakukan hal ini, katanya, akan mengubah unit-unit kecil itu menjadi usaha nyata dan jujur pada Tuhan – dan pimpinan unit menjadi pengusaha tangguh.” Inilah yang dikejarnya.

Logika pimpinan ABB sederhana saja.Ada ”kelebihan dari segalanya”, dalam pasar yang sesak sekarang ini, ia mengamati, dan menambahkan bahwa keberhasilan hanya akan muncul pada perusahaan yang memberikan dan menambahkan nilai melalui mutu, pelayanan, inovasi, dan perkawinan dengan pelanggan mereka. Hal ini dapat dicapai, pikirnya, hanya dengan unit-unit yang ”bersemangat, berobsesi, danberenergi.” Dan jadilah berukuran menengah. Dan angka ajaib bagi unit usaha dalam ekonomi yang berdasarkan kepandaian berdasarkan pengalaman Barnevik sekitar 50 orang adalah sudah cukup. Bahkan dalam industri berat, Richard Branson, pendiri Kelompok Virgin (hiburan, real estate, penerbangan) memikirkan hal yang sama. ”Sekali orang tidak saling mengenal dalam satu gedung dan ini mulai menjadi tidak pribadi,” katanya pada Succes,”Itulah saatnya memecah perusahaan”.”Menurutku batasnya adalah antara 50 sampai 60 orang, orang harus tidak boleh tersesat dalam jalur kekuasaan”.

Titeflex, anak perusahaan kelompok TI Inggris sedang terombang-ambing ketika pada tahun 1988 John Simpson mengambil alih dan mengorganisasikannya kembali. Ia menghilangkan lapisan jenjang jabatan dan memperkecil staf pusat. Yang lebih drastis, ia memecah kelompok besar 500 orang, pembuat selang berteknologi tinggi menjadi kelompok pengembang usaha atau KPU yang terdiri dari 6 – 10 orang. Kelompok pengembang usaha mengelola sendiri, mereka nyatanya, berupa perusahaan kecil, seperti model Barnevik. KPU terdiri dari hampir semua fungsi staf lama – pembukuan, teknik, penjadwalan produksi, penerapan mutu, dan sumber daya manusia. Kelompok ini langsung berhadapan dengan pelanggan dan penjual, terlibat dekat dengan penumpukan modal, dan mencari peluang usaha baru.

Ini adalah abad, ”Lebih banyak kepandaian dan lebih sedikit barang”. Ini adalah abad saat ” Satu-satunya kekayaan pabrik adalah imajinasi manusia.”Dan seperti apa yang dikatakan oleh salah seorang eksekutif , ”Jelas demi Tuhan, bukan? Anda tidak melakukan kerja otak dalam kelompok ribuan, atau mungkin bahkan ratusan. Anda melakukannya dalam kuartet, oktet, kelompok sepuluh, lima belas, duapuluh lima orang, atau pasangan ganda”.

Perubahan radikal terjadi pada perawatan kesehatan di Amerika. Pembentukan kembali secara dramatis dari rumah sakit kuno tanpa harapan menjadi ”Perusahaan yang memperhatikan pasien”, diterapkan dengan kuat dan diuji oleh wakil direktur Booz Allen Healthcare, Phil Lathrop. Perubahan desaknya, harus radikal, tidak boleh setengah-setengah. Kenyataannya, hanya 20 sen dari setiap dolar biaya rumah sakit yang langsung digunakan untuk perawatan pasien.  30% dari waktu pekerja garis depan dihabiskan untuk mencatat. Dan dibalik spesialisasi (dengan penggolongan sampai 600 pekerjaan, termasuk berbagai jenis petugas pembersih lantai, dalam rumah sakit besar) sebagian besar kegiatan adalah rutin. Untuk memulai revolusi rumah sakit, Lathrop menulis dalam Restrukturing Health Care: The Patient Focused Paradigm (Pengaturan kembali Perawatan Kesehatan : paradigma Memusatkan pada Pasien), ”kita harus menghilangkan jajaran pelaku tugas yang sempit dari ruangan pasien”. Satu dari model kentuk baru kesukaan Lathrop adalah Pusat Kesehatan Daerah Lakeland, di Lakeland Florida. Rumah sakit besar (897 tempat tidur) ini sedang dalam proses pembentukan lima rumah sakit kecil, yang masing-masing memiliki unit bedah mandiri (seperti kelompok pengembang usaha di Titeflex) dengan lab mini, ruang diagnosa radiologi, ruang penyimpan pasokan, dan bagian adminstrasi sendiri. Tetapi pemisahannya tidak berhenti sampai disini saja, Rumah Sakit mini nyatanya terdiri dari rumah sakit mikro yang kuncinya pada ”Pasangan Pemeliharaan” Lakeland. Pasangan pemeliharaan adalah kelompok pasangan dua orang, perawat terdaftar dan teknisi, yang telah dilatih sebagai ”praktisi berketrampilan majemuk”. Setelah hanya kursus khusus 6 minggu, pasangan pemeliharaan dapat melakukan 80 – 90% – perawatan kesehatan sebelum dan setelah bedah bagi 4 – 7 pasien, dan mengatur 10-20% sisanya melalui perangkat lunak pendatang canggih khusus. Dalam rumah sakit, model industri spesialisasi telah mencapai puncak ekstrimnya (penggolongan 600 pekerjaan dalam rumah sakit besar), tetapi ternyata hanya 2 orang, setelah pelatihan selang secukupnya dapat menjalankan rumah sakit mereka sendiri. Yaitu pasangan Lakeland dapat melaksanakan sebagian besar perawatan yang dibutuhkan oleh setengah lusin pasien. Pelayanan apa yang tidak dapat mereka tangani sendiri dapat mereka koordinasikan bagi pasien mereka melalui terminal komputer dalam ruangan pasien, yang diisi dengan perangkat lunak yang dirancang khusus bernama ”Carelink”.

Hasilnya, waktu keliling bagi pemeriksaan rutin berkurang dari 157 menit menjadi 48 menit dalam sekitar setahun pertama bagi operasi yang dipusatkan pada pasien. Dalam diagnosis radiologi, suatu tindakan 40 langkah, yaitu selama 140 menit berkurang menjadi hanya 8 langkah, selama 28 menit. Kegagalan pasien lebih sedikit dan tingkat kesalahan pengobatan paling rendah serumah sakit. Perputaran perwat terdaftar juga yang paling rendah serumah sakit, biaya di luar resmi berkurang dan kepuasan dokter dan pasien sama-sama bertambah. Dua petunjuk paling jelas adalah lebih manusiawi, yaitu pertama, kini rata-rata pasien hanya bertemu dengan 13 dan bukannya 48 petugas rumah sakit selama perawatan, dan kedua, perawat terdaftar kini menghabiskan lebih separuh dari waktunya – 53% dan bukannya 21% – bersama pasien.

Pasangan pemeliharaan di tempat seperti Lakeland melakukan tugas yang biasa melibatkan lusinan orang dan akan melakukannya dengan berlari, dalam beberapa hal ya, tetapi seperti kebanyakan dari kita, pasangan pemeliharaan tidak keberatan bekerja keras kalau ada tujuannya. Dan pengalaman mantan perawat Lakeland : Ia secara khusus melihat perbedaan hari-hari yang luar biasa sibuk dan penuh tekanan. Kini ketika semuanya benar-benar sibuk, ia pulang dengan tubuh lebih lelah daripada sebelumnya. Ia lebih banyak pekerjaa, tetapi ia tidak pulang dengan menangis.  Kini, bahkan kalau ia harus terburu-buru menjalankan tugas, ia dan pasangannya masih dapat melakukan segalanya yang diperlukan, dan mereka dapat merahasiakan hal-hal yang tidak kritis. Yang terbaik adalah bahwa pasien melihat dan menghargai semuanya.

Pasar yang kacau kini membutuhkan tanggapan seketika bagi kebutuhan pelanggan, pengaturan produk dan pelayanan- dan imajinasi dari satu dan semuanya. Tidak ada dari semua ini yang ada di dalam birokrat besar seperti perusahaan kereta api Union Pacific, ABB (Asea Brown Boveri), Titeflex, atau Pusat Kesehatan Daerah Lakeland, IBM yang didesentralisasi berulang kali, dan tidak juga di GE sebelum Welch.

Menerapkan konsep unit terpaksa nyaris membutuhkan keberanian – membuatnya mutlak perlu bagi unit untuk memberikan tanggapan kejiwaan bagi setiap pelanggan.

Perusahaan menempatkan diri ke dalam semua perubahan radikal, karena pelanggan membutuhkan pemecahan yang cepat, baku atas masalah mereka, dan perusahaan yang cerdik membentuk diri kembali untuk memenuhi kebutuhan mereka.”Jiwa dan kecepatan perusahaan kecil dalam tubuh perusahaan besar”. Perusahaan CSR mengalihkan perhatiannya dari usaha perakitan langsung bermargin rendah kepada kegiatan usaha kecil yang berpenghasilan lebih tinggi. Secara umum, perusahaan membayangkan bahwa pelayanan”penambahan” adalah tempat perampasan-memungkinkan perusahaan dapat mengembangkan budaya pembawaan – pelayanan berorientasi lokal yang bergairah. Ini semua menambah untuk menjelajah jauh melebihi In Search of Excellence (Dalam pencarian Keutamaan) – istilah revolusioner bagi dan pendekatan pelanggan dan menuju pada sesuatu seperti simbiosa – seperti grosir, jalinan tanpa putus dengan pelanggan dan anggota lainnya dari rantai nilai tambah.

”Semua pekerjaan bagus dikerjakan bertentangan dengan manajemen”, kata Bob Woodward, seorang manejer pada Esquire. Dengan anugrah luar biasa otonomi intelektual dan akses keuangan yang besar serta sistem distribusi yang hebat, Vitale mampu menarik dan mepertahankan orang yang bersemangat bebas, senang bertengkar seperti Mehta dan hampir sepenuhnya menghindari pengaruh otokorelasi. Mehta akan dan benar-benar menjalani caranya sendiri, dan telah membentuk Knopf seperti yang diinginkannya.

Barry Diller, pimpinan QVC, Jaringan Belanja di Rumah menjelaskan pada suatu wawancara televisi bulan Agustus 1993, bahwa kebahagiaan memulai sesuatu dengan baru. Ia berkata, ” Anda melakukan pekerjaan yang baru dalam industri baru dengan ”keadaan yang bersih”. Anda bertindak ”berdasarkan naluri” dan ”menyelesaikan masalah” secara teratur. Semaunya untuk kebaikan, tetapi segera saja, ia menambahkan, anda menjadi kian canggih dan mulai memperhatikan penelitian pasar, anda tercebak dalam proses, dengankata lain  makin banyakmanda tahu, anda makin kurang kreatif.

”Satu-satunya keuntungan kompetitif yang abadi berasal dari Inovasi Kompetisi”, kata James Morse. Kekacauan selalu bersama kita, ini pasti, Tetapi cara untuk mengahadapinya adalah dengan mengejar perubahan, tidak mengelola (memadamkan)nya. Pimpinan bagian teknologi George Gilder berkata dalam tulisan di Majalah Forbes ASAP, ”Dalam era transisi yang kian pesat, aturan keberhasilan adalah kanibalisasi diri”. Sama halnya, kaum analis Wall Sterrt menganggap keberhasilan fenomenal Intel pada ketrampilan menghancurkan diri. Pencapaian tinggi bagi pegawai atau unit intel adalah untuk melontarkan diri dari keberhasilan perusahaan sendiri, kekotoran produk menguntungkan. Intel membayangkan bahwa kalau ia tidak melewati puncak produksinya dengan cepat, orang lain akan mendahului mereka. (Ingat,”Hanya kaum pencuriga yang akan selamat”). Quad/Graphics, perusahaan percetakan yang berinovasi secara cemerlang sama jelasnya dengan intel dalam hal ini. Tema bagi sekumpulan strategi terkahir perusahaan, dimana semua pekerja berpartisipasi, adalah ”Quad/Graphics harus MENGHANCURKAN diri atau resiko dihancurkan”. Ini adalah kata kunci baru perusahaan yang telah memberikan lesensi dari kebanyakan teknologi majunya pada pesaing dengan tujuan tetap menaikkan persaingan dengan sendirinya dan sambil jalan mendatangkan uang.

Sama halnya, Pimpinan Nike yang berulang kali tak puas, Phil Knight menyatakan baru-baru ini, ”Targetnya kini adalah menemukan permainan baru, yaitu hari-hari ini, saat dunia adalah kerang anda, raihlah! Bukalah ! Makanlah! Lalu raihlah yang lainnya dengan cepat. Seperti ”barang” multimedia yang muncul ke permukaan, entah bagaimana memadukan perangkat lunak, penerbitan, hiburan, komputasi, telekomunikasi, dan sejenisnya dalam suatu mega industri super, Intel mengetahui harus membayangkan secara baru kembali apakah kita, dan sedang apa kita, serta memutuskan apakah wewenang initi sebeumnya masih berharga untuk digosok. ” Kita semua harus kembali bersekolah”, papar pimpinan Intel Andy Grove pada The Econimist. Ia menambahkan bahwa perusahaan harus”melunakkan fokus strateginya untuk melihat semua kemungkinan baru teknologi komputer baru dan komunikasi”. Gosok wewenang inti anda, dan lunakkan fokus strategi anda. Agar menjadi baik, pertajamlah fokus anda, yang dengan pengertiannya, berarti anda akan mudah dibutakan oleh yang baru. Maka, jadilah besar dengan memusatkan … dan lalu bersiap untuk bersungguh-sungguh bunuh diri dengan melunakkan fokus anda dan belajar bertoleransi, bahkan menyambut perubah sial itu.

Perubahan yang berhasil berasal dari Penciptaan ”Kehancuran yang melukai diri”, kata pimpinan Symmetrix Geroge Bennett.”Idenya adalah mendirikan rumah tanaman untuk menanam orde baru – untuk menguji bentuk pengorganisasian baru dan penggunaan kreatif teknologi baru – memecahkan peraturan dan menemukan masa depan. Rumah tanaman lalu mendorong mengkanibal pelanggan dan staf organisasi lama bertahun-tahun.

3)    Organisasi dan manajer yang edan dalam hal melebihi pemberian kekuasaan dengan mengubah setiap pekerjaan menjadi bisnis 

Untuk memperkecil atau otomisasi organisasi, untuk memunculkan semangat, kreativitas, dan simbiosa nyaris otomatis dengan pelanggan dapat dilakukan dengan langkah lain, langkah besar lainnya adalah mewiraswastakan setiap pekerjaan. Seratus persen dari pegawai yang diubah menjadi ”Pengusaha”. ”Jangan pernah menggunakan kelemahan mengikuti peraturan sebagai alasan untuk mengikuti arah tindakan yang salah”, kata Roger Meade.

”Kami ingin setiap pegawai menjadi pengusaha”, kata Ralph Stayer, Pimpinan Johnsonville Foods. Pernyataan tanpa kesalahan. Jauh dari itu, Stayer telah melakukan pekerjaan luar biasa memecahkan dengan keberhasilan fenomenal perusahaan bernilai US$130 juta di Winconsin menjadi kelompok kecil yang herannya sangat percaya diri serta orang-orang garis depan yang ”diberi kekuasaan”. Tetapi ia dengan dramatis bermaksud mengambangkan kemungkinan pemberian kekuasaan, partisipasi, dan pengelolaan diri ketika ia berkata bahwa setiap pegawai hendaknya menjadi ”pengusaha”.

Seorang pengusaha adalah lawan kutub dari pengisian celah/tempat, seorang pengusaha adalah seorang wiraswasta atau 90% wiraswasta yang memiliki minat dan kesungguhan bisnis kecil dari perusahaan kecil. Seorang pengusaha akan pergi kemanapun menjumpai siapapun dan menjebol kotak apapun untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan cepat. Stayer berkeras bahwa 100% pegawai manapun dapat menjadi pengusaha, aku yakin itu, dan pernyataannya konsisten dengan tema dalam suatu dunia yang edan dengan usaha bermetabolisme kalong, dan untuk bersaing harus tidak hanya desentralisasi saja, tetapi dikacaukan (deorganized), dan batasan yang masuk akal dari pengacauan adalah wiraswasta – unit usaha suatu perusahaan.

Dalam perusahaan kecil, yang mewiraswastakan setiap pekerjaan, contohnya di Titeflex, mereka menambahkan unsur lain yaitu kelompok pengembangan cepat yang terdiri dari 2 orang, yaitu kusir pembawa kartu,  Tom Strange dan Joe Tilli. Dengan kemampuannya sendiri, orang ini dapat menjalankan pesanan, termasuk perekayasaan yang dibakukan, dalam 3 sampai 4 jam.  Tom dan Joe melakukan semuanya, meraka langsung berhubungan dengan pelanggan. Mereka merencanakan dan membakukan pekerjaan, melakukan sebagian besar perekayasaan sendiri. (Persis seperti pasangan pemeliharaan Pusat Kesehatan Daerah Lakeland yang merasa mereka tidak memerlukan gelar profesional tujuh tahun untuk melaksanakan 90% perawatan pasien, dan Tom dan Joe tidak membutuhkan restu dari gelar MIT atau CalTech untuk melaksanakan 90% dari apa yang disebut rekayasa). Mereka membuat selang, lalu membawanya ke galangan pemuatan untuk pengapalan. Mereka bertanggungjawab atas ”manajemen hubungan” bagi pelanggan dan pemasok, untuk menggunakan kalimat penanaman US$29,95 semenit perbankan. Pekerjaan mereka seluruhnya terdiri dari proyek nilai tambah rahasia.

Sebagian besar perusahaan dapat belajar sesuatu dari pasangan Strange dan Tilli. Dipuncak daftar : Rata-rata pegawai dapat melakukan lebih jauh daripada kebutuhan kerjanya saat ini- dan lebih jauh lagi dari penerapan istilah – ”Pemberian kekuasaan pada pegawai”,”manajemen partisipasi”, dan ”ketrampilan kerja majemuk”.

Dengan sedikit imajinasi, pekerjaan rata-rata sebenarnya, setiap pekerjaan – dapat menjadi tantangan wiraswasta. Dan anda akan menemukan mereka semua melakukan sebagian besar proyek atas kemauan sendiri, melaksanakan pemecahan masalah sementara secara langsung bagi pelanggan dalam atau luar, bekerja dalam susunan fungsi majemuk, dengan jalur hubungan atas usaha sendiri pada ahli di dalam dan di luar perusahaan, dan mengukur diri dari hasil paling bawah, terutama berdasarkan pelanggan dan evaluasi rekan kelompok daripada pertimbangan subyektif pimpinan.

Membisniskan suatu pekerjaan, agar menjadi”bisnis” adalah menjalankan perusahaan sendiri, pekerjaan seperti ini dalam perusahaan harus mencakup pelatihan silang – pelatihan dalam hampir semua ketrampilan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas dari awal sampai akhir, penyusunan anggaran – bertanggung jawab merumuskan, menelusuri dan pelaksanaan anggaran, kendali mutu- pengukuran mutu, pemantauan mutu dan proses perbaikan mutu, otonomi – tempat bagi seseorang sendiri dalam suatu organisasi yang direkayasakan kembali, sama dengan kekuasaan mengambil keputusan, termasuk mengerahkan sumber daya penting, juga uang tanpa campur tangan atasan, hubungan dengan ahli – dari staf ahli yang ada yang nyatanya – bekerja di belakang dan dipanggil ke depan) serta penasehat luar sesuai kebutuhan, Pelanggan nyata milik sendiri – luar atau dalam, yang memperkuat rasa kepemilikan pengusaha, dan anggaran perjalanan tidak terbatas.

Ada kebutuhan besar lainnya yang diperlukan seorang pengusaha, yaitu informasi, Shoshana Zuboff melingkari kata ”Informasi” dalam buku yang cemerlang In The Age of The Smart Machine (Dalam Abad Mesin Cerdik), Menginformasikan/memberitahukan adalah menggunakan teknologi untuk menanamkan modal pada seseorang dengan memberinya cukup pengetahuan dan pemahaman proses tempat mereka bekerja untuk memungkinkan mereka berlatih, dengan cerdik, hak-hak yang biasanya hanya diberikan pada manajemen. Tak ada manfaatnya memberitahu orang untuk memutuskan sendiri atau memberikan kekuasaan kepada mereka, tanpa memberi mereka informasi yang mereka butuhkan untuk mengambil keputusan. Anda tidak dapat ”membisniskan” pekerjaan kecuali anda menginformasikannya.

Kalau anda dapat secara jujur mengatakan bahwa semua pekerjaan dalam perusahaan anda/unit menggunakan sebagian besar karakteristik yang baru disebutkan diatas, maka anda telah bertahun-tahun lebih maju dalam ”pemberian kekuasaan” dan ”manajemen sendiri” seperti dilakukan dan direncanakan dalam kebanyakan organisasi. Anda berada dalam jalur perubahan orang biasa menjadi ”wiraswastawan 90%”, pengusaha yang jujur kepada Tuhan.”Batas perancangan bagi organisasi masa depan”, tulis Stan Davis dan Bill Davidson dalam 2020 Vision (Wawasan 2020), adalah bahwa ”setiap pegawai menjadi pengusaha ….perubahan ’organisasi’ menjadi ’usaha’ SELALU memperkuat kinerja perusahaan”.

”Satu-satunya cara membuat orang dapat dipercaya adalah dengan mempercayainya”, Henry Stimson. Sebagaimana pasangan Tom dan Joe sebagai perumpamaan, mereka mensarikan (1) pembebasan, (2) perubahan buruh menjadi pekerja otak bernilai tambah, (3) mengkerahkan rasa ingin tahu dan imajinasi diseluruh jajaran, dan (4) desentralisasi yang dilakukan sepanjang masa.

Henry Stimson, Menteri Pertahanan Amerika selama PDII, menyatakan, ”Pelajaran utama yang diperoleh adalah satu-satunya cara untuk membuat orang dapat dipercaya adalah dengan  mempercayainya”. Pimpinan Rich Teerlink menyebutkan satu demi satu filosofi pejabat yang sederhana namun penting yang telah mengubah Harley Devidson dari mengemis pada pemerintah menjadi cemerlang yaitu katakan yang sebenarnya, pegang janji anda, bersikap jujur/adil, menghargai orang, dan tingkatkan rasa ingin tahu.

Di perusahaan Sistem Informasi Scitor, Presdir Roger Meade telah membuat manajemen yang menantang sebagai bagian kredo perusahaan, yaitu ”Gunakan pertimbangan terbaik anda setiap saat. Tanya diri sendiri : Adilkah dan beralasan? Jujurkah? Baikkah artinya bagi usaha secara obyektif? Kalau anda dapat menjawab ya bagi semua ini, maka lakukanlah. Ingat, anda harus bertanggungjawab atas kebijaksanaan ini bagi semua tindakan anda. Kalau anda menemukan bahwa arah manajemen tidak sesuai dengan kenyataan dari situasi yang ada, adalah tanggung jawab anda untuk bertindak berdasarkan pertimbangan anda yang terbaik. Jangan pernah dan aku bersungguh-sungguh jangan pernah menggunakan kelemahan mematuhi perintah sebagai alasan untuk melakukan tindakan ke arah yang salah. Ini adalah kebodohan yang tidak dapat dimaafkan.

4)    Organisasi dan manajer yang edan dalam hal melebihi kesetiaan dengan belajar berpikir seperti wiraswasta

Lupakan kesetiaan, atau paling tidak kesetiaan pada perusahaan. Cobalah setia pada Rolodex anda – jaringan anda sebagai gantinya. Untuk mengatasi jaman edan dengan proporsional, perusahaan yang curiga tertentu diperkecil dengan otomisasi dan mengubah setiap pekerjaan menjadi suatu bisnis. Bagaimana pekerja biasa terhindar menjadi pion dalam ajang permainan baru ini? Dengan berpikir sebagai wiraswasta. Atau mungkin menjadi salah satunya. ”Keamanan kerja lenyap.Kemudi suatu karier harus berasal dari diri semdiri”, kata Homa Bahrami.

Orang-orang seperti Tom dan Joe, Pasangan pemeliharaan dari Pusat Kesehatan Daerah Lakeland, Russ Sherlock, Usaha Acordia, pegawai dari devisi ABB, dan konsultan Arthur Andersen memiliki dan melakukan lebih banyak kepandaian, lebih sedikit barang, mereka menambah nilai melalui umajinasi mereka, melaksnakan jasa profesional, apapun yang mereka lakukan sebelumnya, dan mereka kini pengusaha apapun kebutuhannya. Dan mereka melakukannya dengan cara mengikhtisarkan.

PENERAPAN SAK ETAP PADA PDAM

LATAR BELAKANG:

  1. Kepmen Otda tahun 2000 tentang Pedoman Akuntansi PDAM sudah tidak sesuai dengan perkembangan terkini PSAK yaitu:

1)  PSAK 19 (2000) tentang Aset Tidak Berwujud yang berlaku efektif 1 Januari 2001. 2)  PSAK 5 (2000) tentang Pelaporan Segmen yang efektif berlaku 1 Januari 2002. 3)  PSAK 57 (2000) tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontijensi dan Aset Kontijensi yang berlaku efektif 1 Januari 2001. 4)  PSAK 8 (2003) tentang Peristiwa Setelah Tanggal Neraca efektif berlaku 1 Januari 2003. 5)  PSAK 24 (2003) tentang Imbalan Kerja berlaku efektif 1Januari 2005. 6)  PSAK 50 (2006) tentang Pengungkapan Instrumen Keuangan berlaku efektif 1 Januari 2010. 7)  PSAK 16 (2007) tentang Aset Tetap yang efektif berlaku 1 Januari 2008. 8)  PSAK 13 (2007) tentang Properti Investasi yang efektif berlaku 1 Januari 2008. 9)  PSAK 30 (2007) tentang Sewa efektif berlaku 1 Januari 2008. 10)      PSAK 14 (2008) tentang Persediaan efektif berlaku 1 Januari 2009. 11)      PSAK 26 (2008) tentang Biaya Pinjaman efektif berlaku 1 januari 2010.

  1. Konvergensi IFRS kedalam PSAK mulai tahun 2007 sampai dengan tahun 2012.
  2. IAI menerbitkan SAK ETAP tahun 2009 yang harus mulai diimplementasikan dalam penyusunan Laporan keuangan tahun buku 2011.
  3. PDAM memiliki kriteria sebagai entitas tanpa akuntabilitas publik sehingga dapat menggunakan SAK ETAP dalam pembukuan dan penyusunan laporan keuangannya.
  4. Apabila PDAM tidak menggunakan SAK ETAP dalam tahun 2011 maka dianggap menggunakan SAK umum yang berbasis IFRS.

POTENSI PERBEDAAN MATERIAL ANTARA KEBIJAKAN AKUNTANSI KEMEN OTDA DENGAN PSAK TERKINI:

  1. Cadangan dana yang disisihkan oleh Perusahaan dari distribusi laba setelah laba bersih dicatat sebagai komponen kewajiban. PSAK 57 mengharuskan dicatat pada saat terjadinya dan dibebankan sebagai beban dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya serta bukan sebagai distribusi laba dalam ekuitas.
  2. Akun yang terkait dengan PSAK 16 (2007) diantaranya aset tetap, bahan instalasi, aset dalam pembangunan dan aset yang tidak digunakan. Yaitu:

1)  Bahan instalasi disajikan bukan sebagai aset tetap. 2)  Penggantian bagian/komponen aset tetap dilakukan dengan menambahkan nilai perolehan komponen/bagian aset yang dipasangkan, namun demikian nilai buku aset tetap yang digantikan tidak dikeluarkan dari pembukuan. 3)  Belum dilakukan evaluasi terhadap umur manfaat, nilai residu, dan metode penyusutan aset tetap. 4)  Belum dilakukan evaluasi atas kemungkinan penurunan nilai terhadap aset tetap. 5)  Belum memilih metode pengukuran dengan model biaya atau model revaluasian untuk mengukur nilai aset tetap setelah tanggal perolehan. 6)  Aset tetap tidak digunakan disajikan sebagai aktiva lain-lain. Seharusnya disajikan sebagai aset tetap dan dilakukan evaluasi penurunan nilai.

  1. Terdapat beberapa aset tanah yang tidak digunakan yang besar kemungkinan termasuk dalam lingkup property investasi sesuai PSAK 13 (2007).
  2. Pembebanan biaya pensiun, uang penghargaan masa kerja, uang pesangon, dan uang penggantian hak dicatat sebagai beban pada tahun dimana realisasi pembayaran dilakukan atau pada saat telah purna tugas.

PSAK 24 revisi 2004 mengharuskan beban diakui pada saat karyawan (termasuk direksi) masih aktif melakukan hubungan kerja dengan perusahaan, perhitungan beban dilakukan dengan metode Projected Unit Credit Method. Demikian pula dengan aset dan kewajiban imbalan paska kerja diakui di neraca berdasarkan perhitungan tersebut.

  1. Biaya imbalan kerja jangka pendek kepada karyawan berupa bonus sebagai distribusi laba diakui dengan mengurangi ekuitas dan bukan sebagai beban dalam laporan laba rugi pada tahun berjalan.

PSAK 24 revisi 2004 mengharuskan pembayaran kepada karyawan dalam bentuk apapun diperlakukan sebagai beban tahun berjalan dan bukan sebagai distribusi laba yang diccatat dalam ekuitas.

  1. Dana meter yang diterima dari pelanggan dicatat sebagai kewajiban dan bukan sebagai pendapatan melalui laporan laba rugi.

Pengakuan dana meter sebagai kewajiban tidak tepat karena tidak ada peristiwa masa lalu atau kewajiban konstruktif yang mengharuskan perusahaan mengeluarkan sumber daya pada masa mendatang tekait dengan meter air setiap pelanggan. Penggantiaan meter air dilakukan semata-mata pada saat rusak dan hal tersebut merupakan tanggungjawab dan resiko perusahaan karena meter air yang terpasang di setiap pelanggan dicatat sebagai aset tetap perusahaan. Penggantian meter air merupakan aktivitas normal perusahaan pada saat memberikan jasa pengaliran air kepada pelanggan, sehingga perlakuan dana meter tanpa melalui laporan laba rugi akan mendistorsi kinerja perusahaan.

  1. Hibah aset-aset yang dibangun developer dan diserahkan ke PDAM dicatat sebagai modal/ekuitas.

Seharusnya menurut PSAK 1 dan PSAK 21 diakui sebagai pendapatan. Sesuai PSAK 1, transaksi yang dapat dilaporkan dalam Laporan Perubahan Ekuitas adalah transaksi dengan pemilik, koreksi kesalahan, dampak atas perubahan kebijakan akuntansi, transaksi yang menurut PSAK dibebankan langsung ke ekuitas dan saldo laba.  PSAK 1 juga menjelaskan bahwa penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi modal. Tidak ada PSAK lainnya yang mengharuskan sumbangan sebagai transaksi yang dicatat dalam ekuitas. PSAK 21 tidak secara tegas mengatur penerimaan sumbangan sebagai modal, namun hanya mengatur tentang penarikan kembali saham sumbangan.

  1. Terdapat beberapa akun yang tidak normal antara lain akun R/C Pemda.
  2. Kapitalisasi terhadap pengeluaran yang diakui sebagai aset tidak berwujud yang tidak memenuhi definisi sebagai aset sehingga semestinya harus diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya.
  3. Beban bunga dan denda atas pinjaman yang diterima belum diakru dalam laporan keuangan.

KETENTUAN TRANSISI

  1. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya dipersyaratkan dalam SAK ETAP.
  2. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan tersebut.
  3. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu aset, kewajiban atau komponen ekuitas berdasarkan kerangka pelaporan sebelumnya, tetapi merupakan jenis aset, kewajiban, atau komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP.
  4. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.
  5. Pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban didasarkan pada prinsip pervasif dari Kerangka Dasar Pengukuran dan Penyajian Laporan Keuangan (KDDPPLK) sebagaimana diatur dalam SAK ETAP.
  6. Jika SAK ETAP tidak secara spesifik mengatur suatu transaksi, peristiwa atau kondisi lainnya yang terjadi pada PDAM, maka manajemen harus menggunakan SAK Umum dalam pengakuan dan pengukuran aset, kewajiban, penghasilan dan beban.
  7. Kode perkiraan dan prosedur pembukuan berupa dokumen dasar, jurnal dan buku besar yang diatur dalam Kepmen Otda masih bisa digunakan sepanjang tidak bertentangan dengan SAK ETAP.

HAL-HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN

  1. Pencatatan dan pelaporan transaksi akuntansi dengan menggunakan program aplikasi mengakibatkan tenaga pembukuan di PDAM kurang memahami prinsip-prinsip dasar dan siklus pembukuan meliputi jurnal standar, buku besar dan sub buku besar.
  2. Ketepatan waktu dalam membuat dokumen dasar/dokumen sumber pembukuan. Antara lain setiap transaksi biaya dan pembelian yang telah didukung oleh bukti-bukti yang cukup harus segera dibuatkan bukti/pengakuan hutang yang sah (voucher) yang merupakan dasar pencatatan kedalam DVUD. Dalam prakteknya voucher dibuat pada saat akan dilakukan pembayaran sehingga mengakibatkan ketidaktepatan dalam pengakuan biaya,hutang dan pencatatan persediaan.

CARA SEDERHANA MEMBANGUN BISNIS BESAR

Membangun Bisnis Besar seperti yang dilakukan oleh para Enterpreneur Besar dan Sukses adalah dengan Membangun Bisnis berdasarkan Segitiga B – I.

Karena tujuan suatu bisnis adalah membeli ASET.

Syarat untuk menjadi seorang pemilik bisnis/wiraswasta adalah kemampuan menjual.

Kesalahan terbesar yang dibuat banyak orang adalah mereka terlalu keras untuk mengejar uang dan sebagian besar orang tidak maju secara financial karena ketika membutuhkan uang mereka menerima pekerjaan penuh waktu. Jika mereka betul-betul ingin maju, mereka perlu mempertahankan pekerjaan pokok mereka dan memulai bisnis/usaha paruh waktu. Pekerjaan paruh waktu membuat kita terpaku di kuadran E/S, tetapi bisnis paruh waktu memasukkan kita ke kuadran B/I. Kebanyakan perusahaan besar dimulai sebagai bisnis paruh waktu, seperti Microsoft Corp, Mc Donald dll.

Alasan utama mengawali suatu bisnis paruh waktu bukanlan untuk membuat suatu produk hebat, alasan nyatanya adalah untuk menjadikan diri kita sendiri seorang pebisnis besar.

Memulai suatu usaha/bisnis di rumah paruh waktu memungkinkan kita mempelajari ketrampilan bisnis yang sangat berharga dalam hal :

1) Ketrampilan berkomunikasi;

2) Ketrampilan memimpin;

3) Ketrampilan membangun tim;

4) Hukum perpajakan;

5) Hukum dagang;

6) Hukum securitas dll.

Alasan –alasan tita membangun bisnis :

  • Untuk memberi kita uang yang berlebihan(excessive cash flow), sehingga kita mempunyai banyak waktu dan memberinya waktu bebas dan uang ekstra untuk terus berinvestasi dalam aset-aset bebas pajak yang makin lama makin banyak.
  • Untuk menjualnya, aset adalah sesuatu yang mengalirkan uang ke dalam saku kita atau bisa dijual kepada orang lain dengan harga lebih tinggi dari harga yang kita beli atau dari uang yang kita investasikan. Jika kita belajar membangun bisnis yang sukses, berarti kita membangun suatu profesi yang hanya pernah dicapai oleh sedikit orang.
  • Untuk membangun bisnis dan membawanya ke bursa, membangun bisnis adalah jalan yang paling riskan bagi kebanyakan orang, tapi jika kita terus bertahan dan terus meningkatkan ketrampilan-ketrampilan bisnis kita, potensi kita untuk meraup kekayaan menjadi tidak terbatas.Membangun bisnis dan membawanya ke public adalah profesi seorang ultimate investor/pemegang saham penjual/insiders.

Bentuk Segitiga B – I yang merupakan alat kendali bagi Pemilik Bisnis/Pengusaha adalah sebagai berikut :

Segitiga B – I mempunyai keampuhan untuk mengbah ide-ide biasa menjadi keberuntungan besar, merupakan panduan mengambil sesuatu ide dan menciptakan suatu ASET, yang mewakili pengetahuan yang diperlukan untuk sukses di Kuadran B dan I atau menjadi Pengusaha/Investor.

MISI

Unsur utama dan paling dasar dari segitiga B – I adalah Misi.

Misi adalah pernyataan tentang tugas khusus yang diemban oleh suatu entity/seseorang/pekerjaan/bisnis.

Suatu bisnis, pada permulaan memerlukan misi spiritual dan misi bisnis untuk berhasil. Misi adalah unsur terpenting dari segitiga B – I, karena jika misi jelas dan kuat, bisnis itu akan mampu bertahan terhadap berbagai cobaan sebagaimana yang dialami oleh setiap bisnis selama 10 tahun pertmanya. Ketika bisnis makin besar dan melupakan misinya atau misi yang diciptakan untuk itu tidak lagi diperlukan, bisnis itu mulai mati.

Pada awal suatu bisnis, misi dan semangat si Wiraswasta/Pengusaha sangat penting bagi kelangsungan hidup bisnis itu, oleh karena itu semangat dan misi itu harus tetap hidup jauh sesudah si Wiraswasta/Pengusaha itu sendiri meninggal atau bisnisnya mati. Misi suatu bisnis adalah cerminan dari semangat si Wiraswasta/Pengusaha. Banyak Wiraswasta/Pengusaha tidak menjadi pebisnis sejati sampai mereka kehilangan bisnis pertama mereka.

Wiraswasta/Pengusaha yang sukses bekerja dengan ”pekerjaan hidup”, yaitu mereka mencintai pekerjaan mereka dalam pengertian sampai mereka tidak memperhatikan waktu. Pekerjaan hidup mereka itu merupakan hasrat dan misi mereka.

Saya pernah mendengar sebuah sebuah perkataan bahwa komponen utama kesuksesan dini dalam mimpi di masa muda adalah memimpikan sebuah mimpi yang besar(John Alan Appleman).

Kejarlah hasrat anda, maka kesuksesan akan mengikuti anda(Faiez H Seyal).

Kita harus memiliki sebuah mimpi jika akan membuatnya menjadi suatu kenyataan(Denis E Waitley).

Kita harus berani memikirkan sesuatu yang tidak dapat dipikirkan(James W Fulbright).

Tidak ada sesuatu yang bisa menciptakan masa depan selain mimpi. Hari ini berupa utopia, besok menjadi daging dan darah(Victor Hugo).

Masa depan adalah kepunyaan mereka yang percaya akan keindahan mimpi(Eleanor Roosevelt).

Pengusaha/Wiraswasta yang sukses menemukan sesuatu yang sangat mereka cintai, sehingga mereka tidak akan pernah merasa dipaksa untuk bekerja, karena meraka tidak akan pernah lelah dengan sesuatu yang mereka cintai. Pengusaha/Wiraswasta yang meraih kesuksesan luar biasa tidak pernah mengatakan bahwa mereka akan bekerja. Mereka terbiasa pergi untuk cinta, bukan untuk kerja. Setiap hari mereka hidup untuk meraih satu atau sepasang langkah yang lebih banyak menuju mimpi/misi meraka. Pekerjaan mereka adalah hidup mereka.

Semua prestasi terbesar membutuhkan seseorang yang mampu berpikir secara berbeda(Faiez H Seyal).

Jika anda mengejar mimpi, maka anda mengejar kehidupan(Malcom S Forbes).

Di dunia ini, Wiraswasta/Pengusaha yang ingin meraih kesuksesan, umumnya mereka fokus pada kebutuhan-kebutuhan orang lain dan memenuhinya. Misi mereka mendefinisikan manfaat-manfaat untuk orang lain yang akan mengambil haknya dari berbagai usaha, produksi dan pelayanan mereka.Semua Pengusaha/Wiraswasta yang telah meraih kesuksesan luar biasa dalam hidupnya, adalah mereka yang telah menolong orang lain agar hidup lebih baik melalui sesuatu yang berbeda-beda, seperti tranportasi yang lebih baik nyaman dan murah, kesehatan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, makanan yang lebih baik murah dan cepat, dan sebagainya.

Misi tidak pernah dapat menghasilkan uang. Menghasilkan uang bukanlah akhir dari misi, ia adalah sebuah produk sampingan dari misi tersebut. Jika misi kita adalah mendampingi orang lain mengangkat mimpi mereka atau meningkatkan kualitas pribadi mereka dan hidup profesional mereka, maka kita sedang menuju menjadi orang kaya.

TIM WORK

Bisnis adalah olah raga tim dan investasi juga adalah sama olah raga tim.

Masalhnya bila berada di kuadran E dan Kuadran I adalah bahwa kita memainkan pertandingan sebagai seorang individu, yang bertanding melawan Tim.

Di dunia bisnis yang nyata, para pebisnis bekerja sama pada saat ujian, dan di dunia bisnis setiap hari adalah hari ujian.

Pelajaran tentang Teamwork sangat menentukan dan kerja tim adalah salah satu kunci utama menuju kesuksesan financial.

Dalam Bisnis, kesuksesan datang dari menjalani ujian sebagai suatu Tim, bukan sebagai seorang Individu.

Jika sampai pada masalah Investasi, sebaiknya kita berinvestasi sebagai anggota Tim. Dan jika seseorang ingin menjadi Sophisticated Investor dan diatasnya, kita harus berinvestasi sebagai sebuah Tim.

Tim Work Bisnis/Investasi adalah terdiri dari Para Akuntan, Para Pengacara, Para Pialang/Perantara, Para Penasehat Keuangan, Para Agen Asuransi dan para Bankir.

Dalam memulai sebuah Bisnis/Investasi, sebaiknya kita memimpikan punya satu tim besar yang penuh dengan Akuntan dan Pengacara yang bekerja penuh waktu/purna waktu, sehingga kita memiliki perahu Bisnis/Investasi besar dan Waktu luang, dan itu hanya masalah prioritas.

Orang-orang yang bermain aman/tidak membangun Bisnis/Investasi, tidak mendapatkan pendidikan terbaik di dunia ini dan gagal memperoleh pengalaman dunia nyata yang tidak ternilai serta gagal mendapatkan pendidikan terbaik di dunia ini, yaitu pendidikan yang datang dari Tim Penasehat dan mereka menyia-nyiakan waktu mereka yang sangat berharga, khususnya jika mereka makin menua.

Perbedaan antara Bisnis Kuadran B dan Bisnis Kuadran S adalah Tim Work.

Tim Work adalah orang-orang dari berbagai tipe yang berlainan, yang mempunyai ketrampilan yang berlainan, yang berkumpul untuk bekerja sama memikirkan Bisnis/Investasi.

Salah satu hal yang pertama kali kita perhatikan sebagai seorang Investor/Pebisnis terhadap Bisnis/Investasi adalah Tim di belakang Bisnisnya/Investasinya.

Dalam menganalisis Bisnis/Investasi pertama-tama selidiki Tim yang ada di Struktur Manajemen, ada tidak Orang yang berpengalaman di Tim tersebut membawa Perusahaan/Bisnis ke Publik, dan angka Rencana Bisnis ”Gaji/Tunjangan TIM Manajemen.

Investor/Pebisnis yang cerdik berinvestasi dalam manajemen, mereka mengamati Tim Manajemen dalam Bisnis/Investasi yang disodorkan dan ingin melihat pengalaman, semangat dan Komitmennya.

KEPEMIMPINAN

Tugas seorang Pemimpin adalah membuat orang-orang tampil sebaik mungkin, bukan menjadi yang terbaik.

Jika Kita adalah orang yang paling pintar di Tim Bisnis Kita, Bisnis kita dalam kesulitan. Cara untuk mendapatkan ketrampilan-ketrampilan Kepemimpinan adalah lebih banyak mengajukan diri sebagai sukarelawan.

Ada 5 macam Tipe Pemimpin, Yaitu

  • Pemimpin yang dicintai;
  • Pemimpin yang dipercaya;
  • Pemimpin sekaligus sebagai Pembimbing;
  • Pemimpin yang Berkepribadian;
  • Pemimpin yang Abadi

Pemimpin sejati tidak dilahirkan, melainkan Pemimpin sejati ingin menjadi pemimpin dan bersedia dilatih sebagai Pemimpin, dan berlatih berarti menjadi berjiwa cukup besar untuk menerima umpan balik korektif. Seorang Pemimpin sejati tahu kapan harus mendengarkan orang lain.

Peranan Pemimpin adalah perpaduan antara Pemimpi, Pemamdu Sorak dan Mandor Lapangan, dengan penjalasan sebagai berikut :

  • Pemimpin berperan sebagai Pemimpi, berarti bahwa Pemimpin harus menjaga fokusnya pada Misi Perusahaan/Bisnis/Institusi.
  • Pemimpin berperan sebagai Pemandu Sorak, berarti bahwa Pemimpin harus menyemangati Tim Worknya sewakti Tim tersebut bekerja bersama-sama untuk mewujudkan Misi dan mengumumkan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai sepanjang jalan.
  • Pemimpin berperan sebagai Mandor Lapangan, bererti bahwa Pemimpin harus mampu membuat keputusan-keputusan tegas berkenaan dengan masalah-masalah yang mengalihkan perhatian Tim dari Pencapaian Misinya.

MANAJEMEN ARUS KAS

Manajeman Arus Kas adalah salah satu ketrampilan esensial dan fundamental bagi seorang Wiraswasta/Enterpreneur, jika mereka ingin sukses di Kuadran B dan I. Melek Finansial memungkinkan mereka untuk membaca angka-angka, dan angka-angka menceritakan Bisnis/Investasi yang mereka miliki dan ingin mereka miliki berdasarkan fakta-fakta.

Sungguh mengejutkan untuk melihat usaha yang bagus dan sempurna ambruk hanya karena para pemiliknya tidak melek finansial.

Banyak pemilik usaha kecil gagal karena mereka tidak tahu perbedaan antara profit dan arus kas, akibatnya banyak sekali bisnis yang sangat menguntungkan akhirnya bangkrut, karena mereka tidak sadar profit dan arus kas itu tidak sama.

Manajemen Arus Kas sangat penting bagi Enterpreneur/Wiraswasta/Pemilik Bisnis, karena mereka perlu melihat kedua tipe arus kas jika mereka ingin sukses, yaitu arus kas aktual dan arus kas bayangan, dan kesadaran mengenai ke dua jenis arus kas inilah yang menjadikan orang kaya/makmur atau miskin.

Semakin sering kita memainkan arus kas aktual dan arus kas bayangan, semakin kaya kita, karena pikiran kita mulai merasakan arus kas bayangan yang sering kali tidak kasat mata.

Kemampuan menjalankan perusahaan/Investasi berdasarkan Laporan-laporan Keuangan adalah salah satu perbedaan utama antara Pemilik Bisnis Kecil dan Pemilik Bisnis Besar.

Arus Kas bagi suatu Bisnis/Investasi ibarat darah bagi tubuh manusia.

MANAJEMEN KOMUNIKASI

Semakin baik kita berkomunikasi dan semakin banyak orang yang kita ajak berkomunikasi, maka akan makin baik pula arus kas Bisnis/Investasi Kita. Untuk menjadi komunikator yang baik, pertama-tama kita harus bagus dalam psikologi manusia dan kita tidak pernah tahu apa yang memotivasi orang-orang, oleh karena itu kita harus tahu tombol mana yang harus ditekan, karena lain orang punya lain tombol.

Banyak orang yang pandai berbicara, tetapi hanya sedikit orang yang mau mendengarkan.

Dunia ini penuh dengan produk-produk hebat, tetapi uangnya mengalir ke Komunikator yang terbaik. Uang yang mengalir masuk ke dalam Bisnis/Investasi kita berbanding langsung dengan komunikasi yang mengalir ke luar. Pada umumnya terdapat siklus enam mingguan antara komunikasi dan arus kas, karena jika kita menghentikan komunikasi hari ini, maka dalam enam minggu kita niscaya akan melihat dampaknya pada arus kas kita.

Kebijakan umum untuk baik dalam berkomunikasi, seharusnya kita diusahakan untuk menghadiri 1 seminar komunikasi tiap tahun, dan biasanya setelah kita menghadiri seminar, pendapatan kita meningkat.

Ketrampilan-ketrampilan komunikasi yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh seorang wiraswasta/enterpreneur adalah :

  • Penjualan;
  • Sistem-simtem Pemasaran;
  • Periklanan, Penulisan Judul dan Penulisan Iklan;
  • Negosiasi;
  • Bicara di depan umum(Public Speaking);
  • Periklanan via Pos, Televisi, Radio dan Internet;
  • Penyelenggaraan Seminar(Event Organiser);
  • Menggalang Dana.

Mengumpulkan Modal adalah tugas terpenting sang Wiraswasta/Enterpreneur, maksudnya sang Wiraswasta/Enterpreneur harus selalu memastikan agar modal mengalir masuk, entah lewat Penjualan, Pemasaran Langsung, Penjualan Privat, Penjualan Institutional, Para Investor dan lain-lain. Sampai system Bisnis terbangun, sang wiraswasta/enterpreneur sendirilah yang bertindak sebagai System yang menjaga agar uang selalu mengalir masuk.

Pada awal mula setiap bisnis, menjaga masuknya uang adalah tugas terpenting sang Wiraswasta/Enterpreneur.

Jika kita ingin jadi seorang kuadran B/I, ketrampilan pertama kita adalah mampu berkomunikasi dan berbicara dengan bahasa ke 3(tiga) kuadran yang lain. Tugas utama dan mungkin satu-satunya dari seorang kuadran B/I adalah berkomunikasi dengan orang-orang di kuadran lain.

Jika suatu bisnis mempunyai pemasaran yang kuat dan menyakinkan, maka penjualan akan datang dengan mudah.

MANAJEMEN SISTEM

Suatu Bisnis/Investasi adalah suatu sistem kompleks yang terdiri dari sub sistem – sub sistem lintas operasi, seperti sub sistem penjualan, produksi, akuntansi, operasi dan lain-lain dan saling tergantung satu sama lain bekerja untuk mencapai tujuan/misi tertentu dari suatu Bisnis/Investasi tersebut.

Agar Bisnis/Investasi bisa berkembang, individu harus bertanggung jawab terhadap masing-masing sistem dan seorang Direktur Umum bertugas memastikan agar semua sistem beroperasi sampai kapasitas tertinggi mereka.

Tiap kali membaca Laporan Keuangan, kita seperti seorang pilot di kokpit pesawat yang membaca panel-panel meteran dari semua sistem operasi, jika salah satu sistem mulai terganggu, prosedur-prosedur darurat harus dijalankan. Begitu banyak bisnis pemula atau bisnis kuadran s gagal, karena operator sistemnya mempunyai terlalu banyak sistem untuk dipantau dan dipelihara.

Real Estate adalah Investasi yang bagus sebagai bekal memulai Bisnis, sebab Investor rata-rata menangani semua sistem secara serampangan, dan karena Real Estate cukup stabil, hal itu memberi si Pebisnis baru waktu lebih banyak untuk mengoreksi berbagai hal jika ada sesuatu yang mulai tidak beres. Belajar mengelola Property selama 1 atau 2 tahun mengajarkan pada kita ketrampilan-ketrampilan manajemen bisnis yang sangat bagus. Bank umumnya akan meminjamkan uang kepada kita, ketika kita mempunyai sistem yang stabil dan memiliki nilai serta ketika kita menunjukan bahwa uang pinjamannya akan kembali.

Pebisnis/Wiraswasta yang baik bisa mengelola berbagai sistem secara efektif tanpa menjadi bagian dari sistem itu.

Sistem Bisnis/Investasi sejati sangat mirip dengan sistem yang ada pada mobil, mobil tidak tergantung pada hanya 1 orang untuk mengendarainya, siapapun yang tahu cara mengendarai mobil bisa mengendarainya, hal yang sama berlaku bagi Bisnis Kuadran B/I.

Ingatlah selalu bahwa Seorang Kuadran B mendapatkan uang lebih banyak dari para Investor karena para Investor berinvestasi dalam sistem-sistem yang bagus dan orang-orang yang mampu membangun sistem-sistem bagus.

Investor umumnya tidak suka berinvestasi dalam bisnis-bisnis yang sistemnya pulang ke rumah setiap malam. Peranan CEO adalah mengawasi semua sistem dan mengidentifikasi kelemahan sebelum kelemahan itu berubah menjadi kegagalan sistem.

Disetiap tingkat pertumbuhan baru, CEO harus mulai merencanakan sistem-sistem yang dibutuhkan untuk mendukung tingkat pertumbuhan berikutnya.

MANAJEMEN HUKUM

Diabad Informasi ini, para pengacara Property Intelektual/Pengacara Kontrak termasuk diantara para penasehat terpenting kita, karena mereka membantu menciptakan aset-aset kita yang paling penting. Para Pengacara, jika mereka bagus, akan melindungi ide-ide dan penjanjian-perjanjian kita dari bandit-bandit intelektual, yaitu orang-orang yang mencuri ide-ide kita dan juga keuntungan-keuntungan kita.

Contoh-contoh Pebisnis yang mampu melindungi ide-ide adalah sebagai berikut :

  • Bill Gates menjadi orang terkaya hanya dengan 1 ide, dan dia hanya mengambil informasi serta melindungi informasi tersebut.
  • Aristotle Onassis menjadi raksasa perkapakan dengan sebuah dokumen legal sederhana, yaitu sebuah kontrak dari perusahaan manufaktur besar yang memberi jaminan pada dia akan hak-hak eksklusif untuk mengangkut muatannya ke seluruh penjuru dunia. Dia hanya memiliki dokumen tersebut dan tidak memiliki kapal, namun dengan dokumen tadi ia mampu meyakinkan bank-bank agar meminjamkan uang untuk membeli kapal-kapal dan dia dapat kapal dari pemerintah USA. Untuk membeli kapa harus warga negara USA, maka dengan memahami hukum-hukum kuadran B, Onassis membeli kapal-kapal dengan menggunakan perusahaan USA yang dia kontrol.

Banyak bisnis telah dimulai dan bertahan hidup hanya dengan secarik kertas. Beberapa dari aset paling berharga yang bisa kita miliki adalah aset-aset tidak berwujud yang disebut Paten, Merek Dagang dan Hak Cipta.

Melesensikan hak-hak kita pada pihak ketiga adalah salah satu contoh sempurna tentang aset yang bekerja untuk kita.

Mendapatkan Penasehat Hukum yang kompeten adalah sangat penting tidak hanya sewaktu kita sedang membangun bisnis kita, tetapi juga sebagai bagian yang berkelanjutan dari Tim Penasehat kita.

Beberapa bidang spesifik dimana nasehat hukum yang tepat bisa membantu kita menghindari kemungkinan timbulnya berbagai masalah dalam aspek legal suatu bisnis :

  • Korporat Umum, yaitu meliputi pilihan entitas bisnis, perjanjian jual beli, lisensi bisnis, kepatuhan pada peraturan, kontrak sewa/pembelian kantor.
  • Hukum-hukum Konsumen, yaitu meliputi syarat kondisi penjualan, direct mail, hukum pertanggungjawaban produk, kebenaran dalam hukum periklanan, hukum lingkungan.
  • Kontrak-kontrak, yang meliputi kontrak dengan pemasok, pelanggan grosir, karyawan, peraturan perdagangan, jaminan, yurisdiksi.
  • Property Intelektual, yaitu meliputi perjanjian kekaryaan, perjanjian kerahasiaan, hak cipta, mask works, paten, merek dagang, pemberian lisensi property intelektual.
  • Hukum-hukum Tenaga Kerja, yaitu meliputi masalah Sumber Daya manusia, perjanjian karyawan, pertikaian karyawan, kompensasi pekerja.
  • Sekuritas dan Instrumen Utang, yaitu meliputi pembelian dan penyewaan peralatan, dokumen pinjaman, penempatan dana pribadi, IPO.
  • Masalah-masalah Pemegang Saham, yaitu meliputi peraturan perusahaan, wewenang dewan komisaris, penerbitan saham, merger dan akusisi, spin – offs.

MANAJEMEN PRODUCT

Produk Perusahaan, yang dibeli dari perusahaan adalah aspek penting terakhir dalam segitiga B – I, dan produk bisa berupa item yang berwujud fisik seperti humberger atau tidak mempunyai wujud fisik seperti jasa konsultan.

Ketika mengevaluasi bisnis/Investasi, banyak investor rata-rata memusatkan perhatian pada produknya dan bukan pada bagian-bagian bisnis itu. Produk adalah bagian paling tidak penting untuk dicermati ketika mengevaluasi suatu perusahaan.

Berpikir bahwa suatu produk atau jasa yang lebih baik adalah yang paling penting biasanya merupakan pemikiran orang-orang kuadran S dan E, karena menjadi yang terbaik atau berkualitas terbaik adalah penting untuk kesuksesan.

Kuadran B dan I berpikir bahwa bagian terpenting dari suatu bisnis baru adalah Sistem di belakang Produk atau Idenya atau Sisa Segitiga B – I.

Belajar membangun suatu Bisnis menurut Model Segitiga B – I menanggung resiko tinggi,  banyak orang mencobanya dan hanya sedikit yang berhasil. Tetapi meskipun ada resiko tinggi pada awalnya, jika kita belajar bagaimana membangun bisnis-bisnis dengan Model Segitiga B – I, potensi pendapatan kita tidak terbatas. Bagi orang-orang yang tidak bersedia menanggung resiko tersebut, mereka yang tidak ingin mendaki kurva Pembelajaran yang terjal itu, dan resiko mereka mungkin lebih rendah, begitu pula pendapatan mereka seumur hidup.

Dengan menjalani semua kesalahan, kerugian dan pembelajaran membangun Bisnis berdasarkan Segitiga B – I, setiap kesalahan adalah pengalaman belajar yang sangat berharga dan pengalaman membangun watak. Pada permulaan membangun bisnis berdasarkan Segitiga B – I resikonya memang sangat tinggi, tetapi jika kita tabah dan terus belajar, imbalan-imbalannya akan tidak terbatas.

Pebisnis/Wiraswasta sukses seperti Henry Ford, Thomas A Edison, Bill Gates dll memperoleh kekayaan mereka dengan cara mereka menemukan semangat dan misi mereka, membangun sebuah Bisnis, dan mengijinkan orang-orang lain berbagi dalam impian-impian mereka, resiko-resiko mereka dan imbalan-imbalan mereka.

Kebahagiaan sejati tidak diperoleh lewat pemuasan diri, melainkan lewat kesetiaan pada suatu tujuan mulia(Helen Keller).

Segitiga B – I itulah yang memberi bentuk pada ide-ide kita, dan pengetahuan tentang segitiga B – I itulah yang memungkinkan seseorang menciptakan suatu Aset yang membeli Aset-aset lain. Umumnya Bisnis gagal disebabkan karena kegagalan salah satu sektor atau lebih dari Segitiga B – I.

Setelah kita pandai mengambil ide-ide, membangun Segitiga B –I di sekitar ide tersebut, orang-orang akan mendatangi kita dan menginvestasikan uang mereka dengan kita dan kemudian akan kita buktikan bahwa untuk meraup uang tidak perlu uang, karena orang akan memberi kita uang untuk menciptakan uang bagi kita dan bagi mereka.

Daripada sepanjang hidup bekerja demi uang, kita akan lebih baik jika menciptakan aset-aset yang menciptakan uang yang makin lama makin banyak.

Sebenarnya ada sebuah Segitiga B – I di dalam diri kita masing-masing, dan tiap kali kita menemukan seseorang/keluarga/perusahaan/kota/negara yang menghadapi kesulitan financial, itu berarti bahwa salah satu segmen atau lebih dari Segitiga B – I tidak ada atau tidak selaras dengan bagian-bagian yang lain.

Alasan unik untuk kita mulai menguasai Segitiga B – I adalah begitu kita menguasai seni membangun bisnis berdasarkan Segitiga B – I, kita akan tahu bahwa semakin sedikit kita bekerja, semakin ada banyak uang yang akan kita dapatkan dan semakin berharga pula apa yang sedang kita bangun. Agar kita bisa makmur/kaya, kita perlu belajar membangun bisnis berdasarkan Segitiga B – I dan menyelaraskan Sistem-sistem dalam Bisnis tersebut yang bisa bekerja tanpa kita.

Jika kita ingin menjadi orang yang menciptakan Aset-aset yang membeli Aset-aset lain, kita perlu mencari cara-cara untuk bekerja lebih sedikit sehingga kita bisa menghasilkan lebih banyak. Dan Segitiga B – I mewakili serangkaian sistem yang didukung oleh suatu Tim dengan seorang Pemimpin yang kesemuanya bekerja mewujudkan suatu Misi bersama, jika salah satu anggota tim lemah atau sempoyongan, seluruh keberhasilan perusahaan bisa terancam.

Uang selalu mengikuti manajemen, jika salah satu fungsi manajemen di kelima tingkat Segitiga B – I lemah, perusahaan akan lemah.

Beberapa dari Investasi dan Bisnis terbaik adalah Investasi atau Bisnis yang justru kita jauhi,dan jika salah satu dari kelima level segitiga B – I lemah, dan manajemen tidak siap untuk memperkuatnya, paling baik adalah menjauhi Investasi atau Bisnis tersebut. Sekarang dengan adanya Komputer Pribadi dan Internet telah menjadikan Segitiga B – I lebih luas tersedia, lebih terjangkau dan lebih praktis bagi tiap orang.

Dan dengan hanya bermodalkan Komputer/Leptop, kemampuan Otak, sambungan tepelon, sedikit pendidikan dalam ke 5 aspek dari Segitiga B – I, maka dunia ini bisa menjadi milik kita.

Jika kita ingin menjadi Enterpreneur/Wiraswasta yang membangun Bisnis-bisnis yang sukses atau berinvestasi dalam Bisnis, seluruh Segitiga B – I Bisnis kita harus kuat dan saling bergantung, sehingga bisnis akan tumbuh dan berkembang.

Jika kita seorang pemain Tim, tika tidak harus menjadi seorang pakar di setipa level Segitiga B – I, yang diperlukan hanya menjadi salah satu bagian dari Tim dengan Visi yang Kuat, Misi yang kuat dan Ketegaran.

Suatu Bisnis dengan Misi yang jelas, pemimpin yang bertekad kuat, dan Tim yang bermutu serta terpadu mulai terbentuk ketika bagian-bagian Segitiga B I nya menyatu menjadi tida Dimensional dan berubah menjadi Tetrahedron dann titik penyempurnaannya dicapai dengan memasukkan Integritas(Keutuhan,Keseluruhan, kondisi yang sempurna dan Kesehatan, kejujuran , ketulusan) akan menciptakan Bisnis yang Lengkap, Utuh dan Sehat.

MENGUNGKAP TINDAK KECURANGAN (KORUPSI) DENGAN BANTUAN FORENSIC ACCOUNTANT (FRAUD AUDITOR)

Penyakit berdimensi ekonomi, politik, kultur, etika, moral bahkan agama, yang kini sedang menggerogoti segala aspek kehidupan kita saat ini adalah korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) atau system kroni. Kata-kata tersebut hampir setiap hari kita baca dan kita dengar sehingga hampir membuat kita mengacuhkan dan bersikap masa bodoh terhadapnya. Kata kolusi berarti persekongkolan (collusion) atau mufakat jahat untuk melakukan suatu kejahatan yang menimbulkan kerugian pada pihak tertentu. Nepotisme adalah suatu kebijakan yang didasarkan atas hubungan keluarga yang muaranya bertujuan untuk mendapatkan keuntungan baik bersifat keuangan atau bukan. Sedangkan system kroni adalah hubungan yang tidak didasarkan atas pertimbangan yang obyektif sama sekali. Korupsi termasuk dalam kelompok kecurangan (fraud). Dalam buku ajar yang ditulis Jones dan Bates (1990:213) dinyatakan bahwa menurut Theft Act 1968 yang termasuk dalam fraud adalah penggelapan yang mencakup berbagai jenis kecurangan, antara lain penipuan yang disengaja, pemalsuan rekening, praktik korupsi, dan lai-lain. Fraud terjadi dimana seorang memperoleh kekayaan atau keuangan melalui kecurangan atau penipuan. Korupsi pada dasarnya berhubungan dengan imbalan atau perangsang seperti suap. Dengan kata lain korupsi terjadi karena adanya suatu dorongan untuk melakukan penyuapan. Sedangkan menurut Ramsay (2000), Fraud menyangkut kesalahan disengaja yang dapat diklasifikasi kedalam dua tipe: (1) Fraudulent financial reporting yang meliputi: manipulasi, pemalsuan, atau alteration catatan akuntansi atau dokumen pendukung dari laporan keuangan yang disusun, tidak menyajikan dalam atau sengaja menghilangkan kejadian, transaksi, dan informasi penting dari laporan keuangan, dan sengaja menerapkan prinsip akuntansi yang salah, dan (2) misappropriation of assets yang meliputi; penggelapan penerimaan kas, pencurian aktiva, dan hal-hal yang menyebabkan suatu entitas membayar untuk barang atau jasa yang diterimanya. Hampir senada dengan Ramsay, Penulis lain (Calhoun dan Luizzo,1992) mengatakan bahwa irregulaties menyangkut kesalahan penyajian yang disengaja atau menghilangkan suatu jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan. Ini menyangkut fraudulent financial reporting (kecurangan pelaporan keuangan) yang menyebabkan laporan keuangan salah saji, yang kadang-kadang disebut manajemen fraud, dan misappropriation of assets, kadang-kadang disebut defalcations.

         Dalam tulisan ini yang dimaksud korupsi adalah konsep umum dan tidak terbatas seperti yang dimaksudkan dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Konsep korupsi dalam tulisan ini diartikan sebagai “perbuatan tercela” yang menimbulkan kerugian kepada lembaga public (keuangan Negara), lembaga swasta, maupun pihak perorangan.

         Teknik melakukan korupsi banyak sekali, yang kita simak tidak semuanya berkaitan langsung dengan akuntansi. Modus operandinya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (Regar,1998) antara lain: (1) mark-up pembelian/pengeluaran, (2) mark-up penjualan/penerimaan, (3) manipulasi pencatatan, (4) pemalsuan dokumen, (5)menghilangkan dokumen, (6) pencurian, (7) memalsukan kualitas, dan (8) membuat peraturan yang hanya membela atau menguntungkan pihak tertentu saja. Sedangkan menurut Jones dan Bates (1990), yang termasuk aktifitas-aktifitas yang cenderung korupsi adalah: (1) Tendering, hadiah dan penyelesaian kontrak, (2) pressure selling, (3) hospitality, (4) pemberian izin, lisensi, dan lain-lain untuk perencanaan atau perdagangan, (5) pembelian barang yang dikirim langsung ke tempat pembangunan dari pada ke stores, (6) konflik kepentingan yang timbul saat politikus atau pejabat (atau keluarga dan sahabat) mereka mempunyai suatu kepentingan dalam pekerjaan yang diberikan oleh badan public, (7) penggunaan peralatan khusu seperti computer atau sarana lain untuk kepentingan pekerjaan pribadi, dan (8) penghancuran dan pembuangan persediaan, mebel, dan perlengkapan yang usang.

         Dari informasi yang ada, terbukti bahwa praktik korupsi di Indonesia sudah melampaui batas dan termasuk tertinggi pada peringkat korupsi Negara-negara di Asia (misalnya di Kompas, “Korupsi di Indonesia Paling Parah di Asia,” Kamis 2 Maret 2000) bahkan di Dunia (Media Akuntansi, Juli 1999;16). Usaha-usaha untuk memberantas korupsi pembuatan Undang-undang No. 3 tahun 1971 (sekarang Undang-undang No. 31 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi) dengan peraturan pelaksanaanya, peraturan disiplin pegawai dan sumpah jabatan, bahkan dulu dengan penataran P4 bahkan menghabiskan anggaran Negara yang sangat besar, semua ini tidak menunjukkan hasil yang maksimal bahkan korupsi makin mengganas dan bahkan makin tersistem. Khusus mengenai penataran P4, sangat jelas bahwa saat itu kegiatan ini hanya dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan pemerintah bahkan tidak jarang dijadikan perisai untuk berbuat nista, seperti menjadi lahan korupsi misalnya! Sungguh ironi. Sementara perangkat pengawas keuangan dari yang tertinggi, seperti BPK (Badan Pengawas Keuangan), BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) dan berbagai tingkat inspektorat sektoral dan lintas sektoral praktis seakan tidak berdaya untuk mengurangi gelombang korupsi yang makin dahsyat.

         Salah satu upaya alternative untuk memberantas dan membuka rahasia korupsi yang sudah dahsyat tersebut adalah disamping oleh aparat BPK, BPKP, Kejaksaan dengan bantuan BPKP, adalah forensic accountant (fraud auditor). Bahkan dalam Media Akuntansi (juli 1999:17) dikatakan bahwa hampir semua auditor BPKP yang ada bisa atau dapat melakuakan pekerjaan akuntan forensic.

         Finansial audit yang diterapkan untuk menemukan penyimpangan keuangan untuk dituntut di peradilan disebut forensic auditing yang juga dimaksudkan untuk menemukan korupsi. Forensik Auditing mengandalkan kepada pengetahuan akuntansi dan auditing yang dibantu dengan kemampuan untuk melakukan penyidikan. Oleh sebab itu auditor yang sudah terlatih dalam bidang audit mempunyai potensi untuk menjadi forensic accountant. Forensic accountant adalah auditor yang melaksanakan suatu tugas yang berkenaan dengan akuntansi, auditing dan penyidikan pada umumnya dalm suatu forum peradilan umum atau forum public lainnya untuk pembahasan yang pada akhirnya sampai pada suatu kesimpulan yang akan dipergunakan oleh pihak tertentu. Forensic accountant dibekali dengan pengetahuan audit yang dalam termasuk akuntansi. Oleh sebab itu forensic accountant dapat secara efektif untuk membantu dalam menemukan dan memastikan adanya tindak pidana korupsi.

 Institusi yang Dapat Memanfaatkan Forensic Accountant (Fraud Auditor)

         Institusi yang dapat memanfaatkan forensic accountant (fraud auditor) adalah : lembaga pemerintah;penegak hukum; pengacara; perusahaan asuransi; perbankan; lembaga peradilan; masyarakat bisnis, dan lain-lain.

 Persyaratan keahlian audit

         Forensik auditing mengandalkan mengandalkan pada pengetahuan akuntansi dan auditing yang dibantu dengan kemampuan melakukan penyidikan. Forensic accountant (fraud auditor) dibekali dengan pengetahuan audit yang dalam termasuk akuntansi. Walaupun demikian, secara ringkas mengenai persyaratan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang forensic accountant (fraud auditor) akan dijelaskan berikut ini.

         Orang yang ahli adalah orang yang dengan keterampilannya mengerjakan suatu pekerjaan dengan cara mudah, cepat, menggunakan intuisinya, dan sangat jarang melakukan kesalahan (Trotter dalam Murtanto dan Gudono, 1999). Menurut para ahli lain, keahlian merupakan pengetahuan tentang linkungan tertentu, pemahaman terhadap masalah dalam lingkungan tersebut dan keterampilan untuk memecahkan masalah yang timbul dalam lingkungan tersebut (Bedrad, 1998).

         Di bidang auditing, beberapa peneliti menyamakan keahlian audit dengan pengalaman audit, dan beberapa peneliti lain menggunakan penglaman ini sebagai variable pendukung keahlian. Bedrad (1998) menyatakan bahwa keahlian audit adalah pengetahuan dan ka=eahlian procedural yang luas yang ditunjukkan dalam penglaman audit. Tan dan Libby (1997) mengelompokkan keahlian dalam berdasarkan evaluasi kinerja auditor pada kantor akuntan public. Evaluasi ini di dasarkan pada pada tugas yang dibebankan pada auditor untuk menangani penugasan dari klien. Penanganan tugas tersebut memerlukan keahlian teknis dan non teknis. Sedangkan dalam Murtanto dan Gudono (1999) menyebutkan ada 5 kategori atribut personal yang ahli, yaitu: (1) komponen pengetahuan, (2) ciri-ciri psikologis, (3)kemampuan berpikir, (4) strategi penentuan keputusan, dan (5) analisis tugas.

         Pertama, komponen pengetahuan (knowledge component). Komponen pengetahuan terhadap fakta-fakta, prosedur-prosedur dan pengalaman. Kedua, cirri-ciri psikologis (psychological traits). Atribut ini merupakan lahiriah seseorang yang memiliki hal-hal personal dari seseorang, yang meliputi kemampuan dalam berkomunikasi, kreatifitas, dapat bekerja sama dengan orang lain, dan kepercayaan terhadap keahlian. Tan dan Libby (1997) misalnya, menyatakan bahwa keahlian komunikasi dan keahlian interpersonal menjadi factor yang lebih penting dibangkan technical competence pada tingkatan manejerial.

         Ketiga, kemampuan berfikir (cognitive abilities). Atribut ini merupakan kemampuan dalam mengakumulasikan dan mengolah informasi. Salah satu contoh dari kemampuan berpikir adalah kemampuan untuk beradaptasi pada situasi yang baru yang baru dan ambiguous yaitu memberikan perhatian terhadap fakta yang relefan serta kemampuan untuk mengabaikan fakta yang tidak relevan yang dapat secara efektif digunakan untuk menghindari tekanan. Keempat, strategi penentuan keputusan (decision strategies). Strategi penetuan keputusan baik formal maupun informalakan membantu membuat keputusan yang sistematis dan membantu keahlian dalam mengatasi keterbatasan manusia (Shanteau 1989 dalam Murtanto dan Gudono, 1999).

         Kelima, analisis tugas (task analysis). Analisis tugas dipengaruhi oleh kompleksitas tugas (Raaheim, 1998; Bonner dan Lewis, 1990; dan Tan dan Libby, 1997). Sedangkan menurut Abdolmuhammadi dalam Murtanto dan Gudono (1999) menyatakan bahwa karakteristik ini banyak dipengaruhi oleh penglaman-pengalaman audit dan analisis tugas ini akan mempengaruhi pilihan terhadap bantuan keputusan oleh auditor yang mempunyai pengalaman banyak. Sedangkan menurut Tan dan Libby (1997), keahlian audit dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan yaitu: (1) keahlian teknis, dan (2) keahlian non teknis.

 Keahlian Teknis (Technical Skills)

         Keahlian teknis merupakan kemampuan mendasar seorang auditor berupa pengetahuan procedural dan kemampuan klerikal lainnya dalam lingkup akuntansi secara umum dan auditing. Menurut Bonner dan Lewis (1990) keahlian mencakup tiga bentuk yaitu : (1) pengetahuan akuntansi dan auditing, (2) pengetahuan subspesial (derifative contract), dan (3) pengetahuan bisnis secara umum. Yang termasuk dalam keahlian teknis adalah:

a. Komponen pengetahuan dengan factor-faktornya yang meliputi pengetahuan umum dan khusus, berpengalaman, mendapat informasi yang cukup relevan, selalu berusaha untuk tahu dan mempunyai visi.

b.  Analisis tugas yang mencakup ketelitian, tegas, professional dalam tugas, keterampilan teknis, menggunakan metode analisis, kecermatan, loyalitas, dan idealisme.

         Sedangkan menurut Regar (1998) pengetahuan yang harus dimiliki forensic accountant (fraud Auditor) adalah keahlian yang dalam mengenai: akuntansi umum (meliputi akuntansi keuangan  dan akuntansi manajemen/biaya); auditing keuangan, manajemen dan operasi; dan pengetahuan yang memadai mengenai hukum yang berkaitan dengan masalah tertentu.

 Keahlian Non Teknis

         Keahlian non teknis merupakan kemampuan dari dalam diri seorang auditor yang banyak dipengaruhi oleh factor-faktor personal dan pengalaman. Keahlian non teknis mencakup:

a. Ciri-ciri psikologis yang meliputi rasa percaya diri, tanggungjawab, ketekunan, ulet dan enerjik, cerdik dan kreatif, adaptasi, kejujuran, dan kecekatan.

b.Kemampuan berpikir yang analitis dan logis, cerdas, tanggap dan berusaha untuk, menyelesaikan masalah, berpikir cepat dan terperinci.

c. Strategi penetuan keputusan yang mencakup independent, objektif, dan memiliki integritas.

Kemampuan atau keahlian nonteknis jug mencakup kemampuan interpersonal yang meliputi kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan dapat bekerjasama serta kemampuan relasional (Murtanto dan Gudono, 1999). Sedangkan Tan dan Libby (1997) mengelompokkan keahlian non teknis sebagai keahlian interpersonal, ciri-ciri psikologis, dan kemampuan berfikir.

     Disamping itu, forensic accountant (fraud auditor) harus memiliki ciri khusus (Regar, 1998) sebagai berikut:

a. Sikap ingin tahu (curiosity)

b.Curiga professional (professional skepticism)

c. Ketangguhan (persistence)

d.Kreatifitas (creativity)

e. Kepercayaan (confidence)

f.  Pertimbangan professional (professional judgment)

 Apa yang dilakukan oleh Forensic Accountant (Fraud Auditor)?

         Jenis Pekerjaan yang dapat dilakukan oleh forensic accountant (fraud auditor) menurut Regar (1998) adalah sebagai berikut: penyidikan criminal ekonomi; sengketa antara pemegang saham; tututan atau klaim asuransi; penggelapan oleh karyawan; kerugian usaha; masalah profesi akuntan (misalnya penggunaan prinsip akuntansi); dan penyidikan dalam hal korupsi.

         Kalau kita lihat bahwa perkembangan teknologi forensic auditing semakin pesat untuk menjawab tantangan era baru white collar crime dan cretive accounting sendiri. Dan dalam melaksanakan pekerjaannya sendiri forensic accountant (fraud auditor) melakukan analisis, menafsirkan, mengikhtisarkan, dan menyajikan masalah keuangan dan bisnis sehingga dapat dipahami dengan dukungan bukti yang memadai seperti:

a. Penyidikan dan analisis bukti keuangan.

b.Mengkomunikasikan hasilnya dalam bentuk laporan.

c. Memberikan kesaksian sebagai ahli di persidangan peradilan dengan menyediakan dukungan bukti.

         Dalam hal korupsi, forensic accountant (fraud auditor) mempergunakan standar audit yang berlaku. Standar audit lapangan yang kedua harus dilaksanakan dengan patuh sebagai langkah awal. Standar tersebut mengatakan “pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan untuk menentukan sifat, saat, dan luas pengujian yang akan dilakukan” (Standar Akuntansi Keuangan, IAI, 1994: hal.150.2).

Pembahasan Mengenai Struktur Pengendalian Intern

       Perkembangan konsep pengendalian intern yang mutakhir harus dicermati oleh forensic accountant (fraud auditor) karena peranannya terbukti sangat besar dalam setiap audit. Forensic Accountant (fraud auditor) harus mempelajari dan menakuni secara sungguh-sungguh konsep tersebut, khususnya yang menyangkut dengan lingkungan pengendalian (control environment) yang salah satu komponennya adalah komite audit yang sangat mempengaruhi hasil suatu audit.

         Seperti yang dijelaskan diatas bahwa, modus operandi korupsi yang paling umum adalah mark-up pembelian/pengeluaran, mark-down penjualan/pemasukan, dan ditambah dengan dengan pengambilan komisi yang dilakukan pada BUMN/BUMD dan proyek atau lembaga pemerintah merupakan praktek yang merupakan bukan “rahasia umum” lagi. Bahanya lagi, hampir semua perbuatan in dilakukan dengan sengaja dengan memanfaatkan kelemahan struktur pengendalian intern dan juga memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki. Dan hampir semua perbuatan tersebut dilakukan secara kolusi (collusion) dengan melibatkan beberapa pihak seperti pimpinan/pejabat teras sehingga sulit untuk dilacak walaupun terlacak masalahnya langsung terkotakkan. Audit keuangan yang dilakukan oleh forensic accountant (fraud Auditor) dapat saja menemukan praktek ini jika ia diberi kewenangan yang cukup ditambah dalam melaksanakan pekerjaannya, ia melakukannya secara taat standar audit.

         Jika kita baca undang-undang yang menyangkut tindak korupsi di Indonesia (yaitu UU No. 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi), kita akan menjumpai bahwa undang-undang ini selain memberi ganjaran terhadap pelakunya, juga menguraikan cara pelaksanaan dan bagaimana mengungkapkannya. Hanya saja untuk pembuktian korupsi yang dilakukan melalui proses atau meminta bantuan forensic accountant (fraud auditor) sebagai orang yang ahli. Finansial audit yang lazim mengharuskan auditor untuk menilai apakah financial statement mengandung salah saji material sebagai akibat dari penyimpangan yang disengaja (irregularities) maupun yang tidak disengaja (errors). Standar audit yang umum pada dasarnya mampu mengetahui adanya kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja kecuali apabila dilakukan secara rapid an dengan cara kolusi seperti dijelaskan diatas. Jika audit yang akan dilakukan untuk mengetahui penyimpangan dan kecurangan (fraud) seperti korupsi, maka program audit harus diutamakan untuk maksud tersebut. Kemudian pengetahuan mengenai standar harga barang atau jasa dan pengetahuan pasarnya merepakan hal yang juga penting dikuasai oleh forensic accountant.

 Mengapa Korupsi di Indonesia Sulit Diberantas?

         Seperti dijelaskan sebelumnya, Indonesia merupakan Negara yang paling parah penyakit korupsinya. Penyakit ini tidak hanya dimonopoli oleh lembaga pemerintah, tetapi keberadaan penyakit ini di lembaga pemerintah harus disoroti sejalan dengan keinginan untuk untuk menciptakan system pemerintahan yang bersih (good government governance). Sebenarnya Indonesia mempunyai lembaga-lembaga sebagai perangkat pengawas keuangan mulai dari tertinggi seperti badan pemeriksa keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan berbagai tingkat inspektorat sektoral dan lintas sektoral serta kantor akuntan pulik yang dapat diminta untuk melaksanakan audit jika dirasakan ada indikasi tindak pidana korupsi. Namun yang terjadi sampai detik ini kasus korupsi baik kecil maupun besar masih saja sulit diberantas, bahkan cenderung meningkat.

         Penyebab utama yang mungkin adalah karena kelemahan audit pemerintahan Indonesia. Mardiasmo (2000) menjelaskan bahwa terdapat beberapa kelemahan dalam audit pemerintahan di Indonesia, yaitu:

         Pertama, tidak tersedianya performance indicator yang memadai sebagai dasar untuk mengukur kinerja pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun daerah. Hal tersebut umum dialami oleh organisasi public karena output yang dihasilkannya berupa pelayanan public yang tidak mudah diukur. Kelemahan pertama ini bersifat inherent.

         Kedua, terkait dengan masalah struktur lembaga audit terhadap pemerintah pusat dan daerah di Indonesia. Permasalahannya adalah banyaknya lembaga pemeriksa fungsional yang overlapping satu dengan lainnya yang menyebabkan ketidak efisienan dan ketidakefektifan pelaksanaan pengauditan. Untuk menciptakan lembaga audit yang efisien dan efektif, maka diperlukan reposisi lembaga audit yang ada, yaitu pemisahan fungsi dan tugas yang jelas dari lembaga-lembaga pemeriksa pemerintah tersebut, apakah sebagai internal auditor atau eksternal auditor. Berdasarkan kedudukannya kedudukannya terhadap pemerintah kita mengenal adanya audit internal maupun audit eksternal. Audit internal dilaksanakan oleh Inspektorat jendral Departemen, Satuan Pengawas Interen (SPI) di lingkungan lembaga Negara/BUMN/BUMD, Inspektorat Wilayah Propinsi (Itwilprop), Inspektorat Wilayah Kabupaten/Kota (Itwilkab/Itwilko), dan BPKP. Sedangkan audit eksternal dilaksanakan oleh BPK sebagai unit pemeriksa yang independent karena berada di luar organisasi yang diperiksa.

         Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan diatas, Saefuddin (1997) menguraikan hal-hal yang menyebabkan mengapa korupsi di Indonesia sulit diberantas Yaitu:

1.Mental pegawai yang keropos, yang menyababkan mereka tidak ambil pusing untuk mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya. Mereka tak peduli untuk menyalahgunakan jabatan atau posisinya demi untuk kepentingan pribadi.

2.Adanya ketidakrelaan menerima gaji yang relative terbatas dibandingkan dengan tingkat kebutuhan yang layak. Hal ini menggiring mereka untuk mengejar pendapatan cepat tanpa memperhatikan proporsi.

3.Hampir seluruh jenjang berlomba mencari peluang untuk menggapai pendapatan sampingan, yang nilainya jauh lebih besar. Praktik korupsi terstruktur ini terkristalisai sejalan dengan struktur “ABS (Asal Bapak Senang)”. Implikasinya, banyak pimpinan yang  “tutup mata” ketika disodori amplop. Implikasi lebih lanjut adalah : siapa yang menolak amplop terimakasih dinilai menentang pimpinan, minimal menentang kemauan bersama. Tambahan lagi, menurut Baswir (2000) dijelaskan bahwa skandal-skandal yang terjadi di Indonesia (Buloggate misalnya) adalah disebabkan karena kekacauan manajemen keuangan public di Indonesia yang meliputi : (a) penyelenggaraan sejumlah kegiatan kegiatan public diluar mekanisme APBN, (b) dipeliharanya sejumlah dana public diluar APBN, (c) kehadiran sejumlah lembaga semipublic-semiprivat dalam lingkungan pemerrintahan. Dalam situasi manajemen keuangan public yang kacau itu, praktik korupsi terus merajalela dalam tubuh pemerintahan. Praktik korupsi di Indonesia tidak lagi dapat diisolir sebagai ekspresi niat jahat seseorang atau sekelompok orang untuk memperkaya diri mereka sendiri, melainkan telah  menjadi bagian yang integral dari system penyelenggaraan Negara yang telah dijalankan oleh pemerintah. Situasi korupsi seperti ini disebut sebagai korupsi sistemik. Artinya, tingkat perkembangan praktik korupsi di Indonesia sangat jauh melampaui tingkat korupsi personal dan korupsi institusional. Praktik korupsi di Indonesia tidak dilakukan hanya oleh beberapa orang atau oleh beberapa lembaga pemerintahan tertentu, melainkan langsung dipelihara oleh Negara.

4.Adanya diskriminasi penindakan terhadap pidana korupsi. Hanya kelas teri yang terjaring pasal pidana korupsi, sementara koruptor kelas kakap didera dengan mutasi, maksimal diberhentikan dengan tidak tidak terhormat.

         Untuk memberantas korupsi maupun penyalahgunaan jabatan dalam bentuk kolusi atau lainnya diperlukan kemauan politik dan aksi politik yang konkrit dari pemerintah. Keberadaan lembaga anti korupsi sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang No. 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan bBebas dari korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN) perlu diwujudkan peran nyatanya untuk membantu memberantas korupsi.

 Kesimpulan

Sebenarnya tindak pidana korupsi di Indonesia dilakukan dengan cara yang tidak sulit bahkan dengan “kasat mata” mudah mengetahuinya.

Good Corporate Governance Vs Bad Corporate Governance : Pemenuhan Kepentingan Antara Para Pemegang Saham Mayoritas dan Pemegang Saham Minoritas

Image PENDAHULUAN

Karakteristik Perusahaan Publik di Indonesia Perusahaan di Indonesia memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan perusahaan di Asia pada umumnya. Perusahaan-perusahaan di Asia secara histories dan sosiologis adalah perusahaan yang dimiliki dan dikontrol oleh keluarga. Meskipun perusahaan tersebut tumbuh dan menjadi perusahaan publik, namun kontrol tetap dipegang oleh keluarga masih signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Claessens, Stijin, Simeon Djankov dan Larry H.P ditemukan bahwa dalam tahun 1996 kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 10 perusahaan keluarga di Indonesia mencapai 57,7%. Untuk Filipina dan Thailand mencapai 52,5% dan 46,2%. Sedangkan kapitalisasi pasar dari saham yang dikuasai oleh 15 perusahaan keluarga di Korea sebesar 38,4% dan Malaysia sebesar 28,3%. Pemegang saham mayoritas memanfaatkan kekuatanya pada perusahaan publik untuk kepentingannya yang sebenarnya merugikan pemegang saham minoritas. Hal-hal seperti inilah yang menjadi penyebab konflik antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas. Belajar dari perilaku usaha di Indonesia selama kurun waktu yang sangat panjang telah tercemar dengan berbagai tindakan, kegiatan, dan modus usaha yang tidak sehat, karena pola dan kepemilikan usaha yang hanya terkonsentrasi pada segelintir kelompok dan menyebabkan terjadinya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Di sisi lain, penegakkan hukum untuk berbagai kasus yang menyangkut praktik bad corporate governance juga belum tampak 3. Hal ini membuat skeptisme terhadap corporate governance sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan iklim usaha yang kompetitif. Krisis moneter dan ekonomi menjadi bukti bahwa perilaku-perilaku negatif tersebut telah menjerumuskan perusahaan kedalam berbagai permasalahan yang semakin rumit dan berat. Krisis yang melanda Indonesia tidak terlepas dari pengaruh lemahnya penerapan good corporate governance. Hal ini ditandai dengan kurang transparannya pengelolaan perusahaan sehingga kontrol publik menjadi sangat lemah dan konsentrasi kepemilikan saham pada beberapa keluarga. Minimnya perlindungan pada pemegang saham minoritas menyebabkan hilangnya kepercayaan investor, terutama investor asing untuk tetap memegang saham-saham perusahaan publik di Indonesia. Pelaksanaan corporate governance di Indonasia sebatas wacana konsep dan jauh dari esensinya, walaupun ada beberapa perusahaan publik yang telah menerapkan good corporate governance namun jumlahnya belum signifikan dibanding perusahaan yang masih tergolong bad corporate governance. Oleh karena itu diperlukan suatu solusi dalam penerapan good corporate governace untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh pemegang saham minoritas dalam melindungi haknya sebagai pemegang saham.

PEMBAHASAN

Seputar Permasalahan Ownership dan Control Selama satu dekade lalu, corporate governance telah memainkan peran penting bagi private sector di seluruh dunia dan terintegrasinya pasar keuangan yang mendorong terciptanya. kompetisi dan risiko dari mobilitas aliran modal. Pengalaman-pengalaman selama masa transisi perbaikan ekonomi dan financial crisis pada negara-negara berkembang dan emerging market, telah menunjukkan bahwa kelemahan pada kerangka corporate governance yang ada akan memperlemah pengembangan pasar keuangan. Studi-studi akademis juga menujukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara financial market development, economic performance, dan corporate governance4. Pada negara-negara berkembang dimana, pemegang saham mayoritas memiliki kemampuan mengendalikan perusahaan. Di Asia, Amerika Latin, dan di kawasan regional lainnya, hampir semua pengendalian perusahaan adalah segelintir individu ataupun keluarga. Secara historis, negara juga ikut berperan dalam mengendalikan atau control perusahaan dibanyak negara. Bahkan ketika isu-isu seputar privatisasi telah bergulir dan mengurangi peranan negara, tetap saja masih ada control yang dipegang negara 5 Pemegang saham yang memiliki control sebenarnya memiliki insentif secara lebih dekat untuk memonitor perusahaan serta manajemen yang memberikan pengaruh positif bagi corporate governnance. Sebaliknya, pemegang saham pengendali juga berpotensi untuk berkonflik dengan pemegang saham lain, khususnya pemegang saham minoritas. Konflik ini akan memberikan akibat buruk ketika pengendali perusahaan melakukan eksploitasi perusahaan yang dikontrolnya dengan cost yang juga di tanggung para pemegang saham lain, khususnya para pemegang saham minoritas. Pemegang saham minoritas bukan satu-satunya korban, pengendali perusahaan sendiri akan menanggung cost dari buruknya corporate governance dalam bentuk rendahnya valuasi atas nilai saham yang dimiliki pada perusahaan bersangkutan, terbatasnya akses ke pasar saham, dan kesulitan dalam mewujudkan rencana-rencana bisnis serta mengakses potensi pasar yang ada diluar. Tingginya concentration ownership dapat diasumsikan bahwa tingginya konsentrasi kepemilikan saham akan ditemui pada kondisi dimana hak milik tidak mampu dilindungi oleh negara. Dengan tidak adanya perlindungan dari negara, maka pengendali perusahaan akan mendapatkan kekuasaan (power) melalui voting right dan isentif (melalui tingginya cash flow right). Kekuasaan itu berguna mempengaruhi negosiasi dan pelaksanaan kontrak-kontrak perusahaan terhadap para stakeholders, termasuk pemegang saham minoritas, para manajer, para supplier, tenaga kerja, kreditior, konsumen, dan pemerintah6. Disisi lain akan berdampak negatif karena negara tidak dapat melindungi hak pribadi, dimana tingginya konsentrasi kepemilikan perusahaan khususnya dominasi oleh group bisnis keluarga akan menghadapi kendala berupa lemahnya sistem hukum, penegakkan hukum, dan korupsi. Bisnis group dan pengendalian oleh keluarga merupakan cara yang digunakan untuk melakukan transaksi-transaksi dimana biaya transaksi antara perusahaan keluarga atau terafiliasi akan mengurangi kadar keterbukaan informasi yang mana hal itu tidak akan terjadi jika transaksi dilakukan dengan pihak diluar dalam hubungan keluarga maupun afiliasi. Dari Tabel hasil survey Claessens, et all. (2000) and La porta, et al. (1999) memperlihatkan 90% listed company yang ada mempunyai pengendali, dengan rata-rata 87% dan pengendali yang dominan berasal dari pihak keluarga atau individu. Permasalahan seputar valuasi dengan performance perusahaan akan lebih kompleks jika pengendali merupakan negara. Ada beberapa alasan yaitu pertama, negara bukanlah pemilik terakhir, negara hanyalah agen dari warga negara. Apakah dengan besarnya kepemilikan (cash flow right) memberikan dorongan bagi negara untuk memaksimalkan valuasi kontrol yang dimilikinya? dimana insentif negara tersebut dapat saja menyimpang dari insentif yang dimiliki pemegang saham lainnya akibat pengaruh ekonomi politik, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kedua, negara sebagai pemilik perusahaan menghadapi banyak konflik kepentingan akibat kedudukan sebagai pemain dan di satu sisi sebagai regulator untuk mengontrol sistem perbankan. Ketiga, apabila negara mengontrol perusahaan dalam negara yang menganut paham socialist seperti Cina, akan timbul kesulitan untuk memahami hubungan antara ownership dan performance tanpa memperhitungkan struktur lembaga-lembaga yang ada, dimana berbeda dengan negara-negara yang menganut paham kapitalis8. Potensi Konflik Antara Ownership dan Control Berdasarkan struktur kepemilikan perusahaan yang ditemukan, La Porta et al. (1998,1999) dan Claessens et al. (1999a) mengemukakan masalah keagenan yang harus diperhatikan dalam perusahaan modern adalah masalah keagenan antara pemegang saham pengendali dan minoritas terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Claessent et al. (1999b) memperlihatkan terjadinya ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dengan data asia, La Porta et al. (2002), Claessens et al (2002), Burkart et al. (2003), Joh (2003), Kappler and Love (2004), serta Durnev dan Kim (2005) memperlihatkan terjadinya ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas baik langsung atau tidak langsung. Disisi lain, La Porta et al. (1998, 2000) mengemukakan pentingnya peranan praktek corporate government untuk memproteksi pemegang saham minoritas. Indra dan Ivan (2006) menyatakan bahwa perusahaan dengan struktur kepemilikan yang tersebar kepada outside investors perlu menerapkan corporate governance untuk meningkatkan kewenangan yang dimiliki para pemegang saham publik dalam rangka penyeimbang pihak manajemen. Sedangkan perusahaan dengan struktur kepemilikan yang memiliki control pada segelintir pemegang saham perlu menerapkan corporate governance untuk meminimalkan potensi konflik kepentingan yang timbul antara pengendali perusahaan dan outside investor (pemegang saham publik).

Ekspropriasi Terhadap Pemegang Saham Minoritas

Claessens et al. (2000) membuktikan terjadinya ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas berdasarkan penelitian terhadap 2.980 perusahaan dari 9 negara Asia (Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Thailand), dimana ditemukan bahwa konsentrasi control right9 yang melebihi cash flow right10 berdampak positif pada tingkat ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. Claessens et al. (2000) juga menemukan bahwa ketika terjadi kesenjangan yang besar antara control right dan cash flow rights dan sekaligus ketika pemegang saham pengendali akhir adalah keluarga, maka tingkat ekspropriasi terhadap pemegang sahamminoritas lebih tinggi. La porta et al (2002) meneliti 539 perusahaan yang terdiri dari 27 negara yang terkaya. Variabel utama yang dipakai dalam penelitian mereka antara lain adalah proksi proteksi investor yakni common law, anti-director right dan cash-flow right. Hasil regresi dengan metode randomeffects menyatakan bahwa negara-negara yang menerapkan common law lebih tinggi nilai perusahaannya. Hasil penelitian ini mendukung secara tidak langsung bahwa masalah ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas merupakan masalah yang penting dan hukum berperan penting dalam membatasi ekspropriasi itu. Lemmon dan Lins (2003) meneliti pengaruh struktur kepemilikan terhadap imbal hasil saham pada masa krisis (Juli 1997 – Agustus 1998) dengan 800 perusahaan dari 8 negara Asia termasuk Indonesia. Krisis berdampak negatif pada kesempatan investasi perusahaan dan meningkatkan dorongan (incentive) bagi pemegang saham pengendali untuk mengekspropriasi investor minoritas. Kerangka Hukum Tentang Ekspropriasi Pada Pememegang Saham Minoritas La Porta et al. (1998) meneliti pengaruh sistem hukum negara pada proteksi terhadap pemegang saham luar dan kreditor dengan data 49 negara. Hasilnya menyatakan bahwa negara- negara yang mengikuti sistem common-law11 memproteksi investor paling kuat, sedangkan negara-negara yang mengikuti sistem French-civil-law paling lemah dalam hal proteksi investor. Selain itu juga ditemukan bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi berhubungan negatif pada proteksi investor. Proteksi terhadap investor pada negara-negara yang mengikuti Frenchcivil- law berkaitan erat dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Dalam penelitian La porta et al. (1998), sistem hukum Indonesia tergolong dalam French-civil-law bersama Belanda. Jadi sistem hukum Indonesia lemah dalam hal proteksi hak investor, sedangkan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi. Wolfenzon (1999) menginterpretasikan adanya sistem piramidal sebagai cara ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. Struktur yang ditemukan oleh Classens et al. (1999b dan 2000) menunjukkan struktur piramidal banyak dipakai oleh pemegang saham pengendali Indonesia. Hal tersebut mengimplikasikan bahwa di Indonesia ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dapat terjadi secara kuat. Penelitian Empiris Hubungan Praktek Good Corporate Governance dan Ekspropriasi Pemegang SahamMinoritas La porta et al. (2000) beragumen bahwa proteksi investor menjadi krusial dalam corporate governance, karena terjadi banyak ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dan pemegang saham obligasi oleh pemegang saham pengendali. Menurut mereka pendekatan hukum merupakan pendekatan terpenting untuk memproteksi investor luar dalam corporate governance. Namun, meningkatkan proteksi investor luar meruapak masalah yang tidak mudah, sebab regulasi pasar keuangan berakar mendalam pada struktur hukum negara masing-masing dan sumber hukumnya. Johnson et al. (2000a) meneliti pengaruh corporate governance pada IFC Indeks (International Finance Corporation’s Investable Index) yang mengukur imbal hasil saham perusahaan-perusahaan tertentu dalam dollar AS di masa krisis keuangan. Dengan data dari 25 negara dan variabel-variabel spesifik dari negara, mereka menyatakan bahwa jika suatu negara tidak mempunyai sistem proteksi pemegang saham minoritas yang baik, ekonominya akan terpukul berat, terutama jika para investor secara mendadak kehilangan keyakinan akan investasi. Hasilnya menunjukkan bahwa pada masa krisis variabel-variabel praktek corporate governance, khususnya efektivitas proteksi pemegang saham minoritas lebih mampu menjelaskan perubahan nilai tukar dan kinerja pasa saham daripada variabel-variabel makroekonomi. Dengan kata lain, di negara yang praktek corporate governance lemah, hal ini akan membawa ekspropriasi yang lebih besar oleh pemegang saham pengendali terhadap pemegang saham minoritas ketika prospek ekonomi mendadak memburuk, sehingga harga saham akan jatuh lebih besar. Berdasarkan data 398 perusahaan dari 4 negara Asia yang mendalami krisis ekonomi termasuk Indonesia, Mitton (2002) meneliti pengaruh variabel-variabel yang berhubungan dengan praktek corporate governance pada tingkat ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dan pada nilai perusahaan. Variabel utama yang dipakai adalah disclosure quality, struktur kepemilikan yang diukur cash flow rights, dan diversifikasi perusahaan. Hasilnya menyatakan bahwa tingkat disclosure quality, konsentrasi kepemilikan luar atau kepemilikan tersebar, dan rendahnya tingkat diversifikasi berhubungan positif dengan imbal hasil saham pada krisis keuangan. Hasil ini menyatakan bahwa meskipun proteksi hak investor lewat hukum merupakan elemen yang terpenting dalam corporate governance, perusahaan-perusahaan individual dapat mengurangi ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas dengan memperbaiki paraktek corporate governance perusahaannya. Klapper dan Love (2004) meneliti variasi praktek corporate governance di tingkat perusahaan dan hubungan praktek corporate governance perusahaan spesifik dan proteksi investor dalam tingkat negara. Berdasarkan data 495 perusahaan dari 25 emerging markets, perusahaan dalam sistem hukum yang lemah secara rata-rata rendah juga peringkat praktek corporate governancenya Suatu Solusi : Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Penerapan prinsip good corporate governance secara kongkrit memiliki tujuan terhadap perusahaan antara lain :12 memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing, mendapatkan cost of capital yang lebih murah, memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan, meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholder terhadap perusahaan, melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum, dan melindungi hak dari pemegang saham minoritas. Prinsip-prinsip dari good corporate governance yang menjadi indikator sebagaimana ditawarkan oleh Organization for economic Cooperation and Development (OECD), adalah :13 Fairness (Kewajaran), Disclosure atau Transparency (Keterbukaan atau Teranparansi), Accountability (Akuntabilitas), Responsibility (Responsibilitas). Apabila pemenuhan kepentingan menjadi seimbang, maka benturan kepentingan yang terjadi dapat diarahkan dan dikontrol sehingga tidak menyebabkan timbulnya kerugian bagi masing-masing pihak. Aspek hukum perseroan yang terkait dengan aspek hukum publik yaitu ketika perseroan menjadi suatu badan hukum yang berbentuk perusahaan terbuka, maka mewajibkan perseroan untuk memenuhi kewajibannya yang berbeda dengan kewajiban sebagai perusahaan tertutup. Oleh karena itu prinsip-prinsip GCG memegang peranan penting, antara lain : (1) Pemenuhan informasi penting yang berkaitan dengan kinerja suatu perusahaan sebagai bahan pertimbangan bagi para pemegang saham atau calon investor untuk menanamkan modalnya; (2) Perlindungan terhadap kedudukan pemegang saham dari penyalahgunaan wewenang dan penipuan yang dapat dilakukan oleh direksi atau komisaris perusahaan; (3) Perwujudan tanggung jawab perusahaan untuk mematuhi dan menjalankan setiap aturan yang ditentukan oleh peraturan perundangundangan di negara asalnya atau tempatnya berdomisili secara konsisten, termasuk peraturan dibidang lingkungan hidup, persaingan usaha, ketenagakerjaan, perpajakkan, perlindungan konsumen, dan sebagainya. Hal ini akan menjadi alasan yang cukup kuat bagi para pemegang saham termasuk pemegang saham minoritas untuk mendapatkan keadilan melalui implementasi GCG. Peranan Akuntan Dalam Penerapan Good Corporate Governance Untuk dapat mengembangkan dan menerapkan GCG dibutuhkan peran akuntan, baik sebagai akuntan perusahaan maupun sebagai praktisi accounting dan auditing baik secara internal maupun sebagai eksternal auditor. Untuk membuktikan bahwa perusahaan sudah menjalankan GCG maka perlu dilakukan penilaian oleh pihak ketiga yang independen terhadap praktek corporate governance. Pihak ketiga independen tersebut adalah akuntan manajemen dan akuntan publik. Akuntan manajemen antara lain membantu direksi dan dewan komisaris menyusun dan mengimlementasikan kriteria GCG di perusahaan, membantu menyediakan data keuangan dan operasi serta data lain yang dapat dipercayai, accountable, akurat, tepat waktu, obyektif, dan relevan. Selain itu, akuntan manajemen membantu direksi menyusun dan mengimplementasikan struktur pengendalian intern. Akuntan publik sebagai pihak luar yang independen dituntut menjunjung tinggi kode etik profesi akuntan publik. Dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia ditetapkan delapan prinsip etika yang meliputi tanggung jawab profesi, kepentingan umum, integritas, obyektivitas, kompetensi dan kehati-hatian professional, kerahasiaan, perilaku professional, dan standar teknis. Akuntan publik melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan klien, apakah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterima umum (generally accounting accepted principle). Laporan auditor akan digunakan berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan untuk mengambil keputusan ekonomi, untuk itu auditor dituntut bersikap independen.

KESIMPULAN

Perusahaan di Indonesia memiliki karakteristik dimana perusahaan dimiliki dan dikontrol oleh keluarga, meskipun perusahaan tersebut tumbuh dan menjadi perusahaan publik. Pemegang saham mayoritas yang memiliki control berpotensi untuk berkonflik dengan pemegang saham lain, khususnya pemegang saham minoritas. Untuk meminimalkan praktek ketidakadilan terhadap pemegang saham minoritas, maka diperlukan penerapan good corporate governance yang konsisten. Good corporate overnance merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan manajemen dan pemodalnya. Peraturan tersebut memuat empat unsur penting yaitu fairness, transparency, accountability, dan responsibility. Untuk melaksanakan good corporate governance diperlukan peran para akuntan dalam mengembangkan dan mengimlementasikannya dalam pembentukkan struktur pengendalian intern yang memadai, penyediaan data yang akurat, dan bertindak independen sesuai kode etik profesi. Dengan demikian akan dihasilkan pertanggungjawaban dalam penegakkan good corporate governance pada perusahaan publik.

PENERAPAN STRATEGI BISNIS MODERN YAITU CRM (CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT) PADA BUMN

Latar Belakang
Era globalisasi dan berkembangnya komitment pemerintah untuk menerapkan
ekonomi pasar serta memangkas praktek-praktek monopoli, telah menyebabkan
meningkatnya iklim persaingan usaha di Indonesia. Kondisi tersebut memaksa setiap
perusahaan, baik publik maupun privat untuk mengkaji ulang strategi bisnis yang
telah diterapkan selama ini, agar mereka dapat terus bertahan hidup dan mampu
memenangkan persaingan.
BUMN sebagai institusi bisnis publik sekaligus asset negara disatu sisi memiliki
kewajiban untuk menciptakan kesejahteraan nasional dan melindungi kepentingan
publik, namun disisi lain pengelolaannya perlu segera diarahkan pada peningkatan
daya saing, agar BUMN dapat mengikuti perkembangan pasar yang semakin
kompetitif. Tetapi pada kenyataannya, hal tersebut belum sepenuhnya dapat tercapai,
bahkan kinerja BUMN cenderung masih dinilai rendah.
Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo mengakui sendiri tingkat kinerja
BUMN pada umumnya masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya : (Kompas, 15 Januari 2001)
1) BUMN selama ini masih cenderung merupakan perpanjangan dari programprogram
pemerintah dalam konteks BUMN sebagai agent of development.
2) Terdapat pengaturan dan kebijakan pemerintah yang terkesan tidak konsisten
dalam sektor tertentu.
3) Kegiatan-kegiatan BUMN pada umumnya tidak terfokus.
4) Belum terciptanya prinsip GCG pada pengurusan BUMN.
5) Sistem pengelolaan ataupun manajemen internal BUMN yang dalam beberapa hal
belum mencerminkan pola yang dewasa ini berlaku.
Karenanya, mulai tahun 2001 pengelolaan BUMN dikoordinasikan langsung
oleh Kantor Menteri Negara BUMN yang dibentuk berdasarkan kepres No 228/ 2001
yang bertugas untuk membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan

koordinasi di bidang pembinaan BUMN. Untuk kedudukan, tugas dan beragam
kewenangannya diatur melalui PP No. 64 / 2001.
Sementara itu dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Menteri Negara
BUMN mengacu kepada GBHN 1999-2004, antara lain :
1) Menata BUMN secara efisien, transparan dan profesional terutama yang usahanya
berkaitan dengan kepentingan umum yang bergerak dalam penyediaan fasilitas
publik, industri, pertahanan dan keamanan, pengelolaan asset strategis dan
kegiatan usaha lainnya yang tidak dilakukan oleh swasta dan koperasi.
2) Mengembangkan hubungan kemitraan dalam bentuk keterkaitan usaha yang
saling menguntungkan antara koperasi, swasta dan BUMN serta antara usaha
besar, menengah dan kecil dalam rangka memperkuat struktur ekonomi nasional.
3) Menyehatkan BUMN terutama yang usahanya berkaitan dengan kepentingan
umum. Bagi BUMN yang usahanya tidak berkaitan dengan kepentingan umum
didorong untuk di privatisasi melalui pasar modal.
Untuk meningkatkan kinerja dan menyehatkan BUMN, salah satu upaya yang
dilakukan adalah dengan melakukan reformasi terhadap BUMN. Reformasi terhadap
BUMN yang sedang berjalan sekarang sebenarnya juga merupakan momentum yang
tepat bagi pemeritah untuk memperbaiki citra BUMN dimata masyarakat.
Berkaitan dengan kerjasama antar BUMN dalam rangka meningkatkan nilai
BUMN dan kontribusinya kepada negara dan bangsa, Kementerian BUMN selaku
pihak yang mewakili pemilik BUMN, sewajarnya mengupayakan agar BUMNBUMN
dapat saling bersinergi secara sehat sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis yang
berlaku. Itu berarti pelaksanaan sinergi bersifat natural, yang tumbuh sebagai akibat
dari adanya mutual benefit dari kerja sama tersebut.
Pemerintah percaya bahwa bila sinergi antar BUMN terlaksana dengan baik,
maka aset yang kurang optimal akan dapat di optimalkan sehingga nilai BUMN dapat
di tingkatkan. Dengan memiliki BUMN yang efisien dan berproduktivitas tinggi,
perekonomian Indonesia akan tumbuh pesat dan masyarakat konsumen tidak
mendapatkan tambahan beban untuk membayar ketidakefisienan BUMN.
Disamping itu, semakin banyak bidang-bidang yang dulunya menempatkan
pemerintah sebagai pemain dominan telah turut dirambah oleh swasta, baik asing
maupun domestik. Di bidang-bidang yang membutuhkan modal besarpun dewasa ini
sudah bisa ditangani oleh sektor swasta, karena tersedianya modal dalam masyarakat
yang diikuti dengan kemajuan di bidang perbankan dan lembaga pasar modal serta
terbukanya akses terhadap modal luar negeri.
Sebaliknya, dengan semakin terbukanya akses terhadap sistem manajemen dan
teknologi canggih, maka hal-hal yang tadinya merupakan faktor kelebihan swasta,
kini juga dapat dimanfaatkan oleh BUMN. Dengan perkataan lain, BUMN dan sektor
swasta mempunyai kesempatan yang sama untuk mengembangkan profesionalisme
dan mencapai efisiensi usaha.
Karena itu, BUMN harus segera melakukan penyesuaian-penyesuaian dan
menyusun strategi pengembangan organisasi yang ideal menurut kebutuhan BUMN
saat ini. Strategi ini harus sejalan dengan prinsip-prinsip bisnis modern, namun tetap
dapat mempertahankan hakekat keberadaan BUMN, yaitu sebagai milik publik dan
bangsa Indonesia yang berorientasi untuk menciptakan kesejahteraan sosial.
Salah satu konsep bisnis yang saat ini cukup banyak menarik perhatian dunia
usaha adalah CRM atau Customer Relationship Management. CRM merupakan
strategi pemasaran yang berfokus pada pelanggan. Strategi ini berusaha
mengoptimalkan keuntungan perusahaan dengan cara menjalin hubungan yang lebih
dekat (customer intimasy) dengan pelanggan serta mengelola hubungan tersebut
menjadi lebih baik sehingga akan tercipta nilai tambah bagi pelanggan.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dapat kami
sampaikan adalah bagaimana dinamika yang terjadi ditubuh BUMN dalam proses
reformasinya dan bagaimana kemungkinan penerapan CRM pada BUMN.
CRM Sebagai Sebuah Strategi Bisnis
Berbagai survei menunjukkan bahwa kunci keberhasilan perusahaan bukan
semata terletak pada produk ataupun jasa yang ditawarkan tetapi seberapa jauh upaya
perusahaan memuaskan kebutuhan para pelanggannya. Yang dimaksudkan dengan
kebutuhan pelanggan adalah perusahaan menyediakan produk/jasa yang sesuai
dengan kebutuhan dan keinginan mereka, kemudian menjaga hubungan erat dengan
para pelanggan untuk memastikan agar mereka menjadi pelanggan setia (Sihaloho,
2002).
Kesetiaan pelanggan akan menjadi kunci sukses, tidak hanya dalam jangka
pendek tetapi keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kesetiaan
pelanggan memiliki nilai strategik bagi perusahaan. Kenyataan menunjukkan bahwa
suksesnya IBM, Coca Cola, Singapore Airlines, Xerox dan sejumlah merek lain tidak
terlepas dari kuatnya ikatan dengan para pelanggannya, yaitu kesetiaan (Tatik, 1998:
29).
Dalam menghadapi terpaan gelombang perubahan yang begitu cepat dari yang
berorientasi produk (product focused) kepada orientasi pelanggan (customer focused),
banyak perusahaan kini sudah menyadari bahwa melayani pelanggan yang sudah ada
dengan telaten merupakan sumber utama keuntungan dan pertumbuhan pendapatan
yang berkelanjutan (sustainable). Khususnya dalam era ekonomi baru ini, perusahaan
lebih ditantang untuk bukan hanya sekedar memuaskan pelanggannya, namun juga
delight (Sugiono, 2002).
Perusahaan yang gagal memuaskan pelanggannya akan menghadapi masalah
yang lebih kompleks lagi dikarenakan dampak bad word-of-mouth. Rata-rata seorang
pelanggan yang puas akan memberitahu tiga orang tentang pengalaman produk yang
baik, sedangkan rata-rata seorang pelanggan yang tidak puas akan menyampaikan
pengalaman buruknya kepada 11 orang lain (Kotler, 1998: 95).
Kepuasan pelanggan merupakan salah satu konsep baru dalam dunia pemasaran,
karena dalam perkembangannya teori ini mencoba untuk memaparkan bagaimana
tingkat kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan setelah menikmati barang/jasa yang
telah dibelinya. Oleh karena, kepuasan pelanggan merupakan fungsi dari perbedaan
antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Pelanggan dapat mengalami salah satu
dari tiga tingkat kepuasan secara umum. Kalau kinerja di bawah harapan, maka
pelanggan akan kecewa. Kalau kinerja sesuai harapan, pelanggan puas. Kalau kinerja
melebihi harapan, pelanggan sangat puas, senang atau gembira. Sehingga kepuasan
pelanggan dapat dikatakan tercapai apabila antara persepsi dan harapan tidak lagi
terdapat celah (gap).
Pada prinsipnya, ada tiga kunci dalam memberikan pelayanan yang unggul
(Tjiptono, 1997: 185), yakni : pertama, kemampuan memahami kebutuhan dan
keinginan pelanggan. Kedua, pengembangan database yang lebih akurat (mencakup
data keinginan setiap segmen pelanggan dan perubahan kondisi persaingan). Ketiga,
pemanfaatan informasi-informasi yang diperoleh dari riset pasar dalam suatu
kerangka strategik.
Satu cara yang terbukti efektif dan sukses untuk memenuhi dan memuaskan
kebutuhan pelanggan ini adalah melalui CRM atau Customer Relationship
Management. CRM bukanlah hal baru di dunia bisnis. Strategi mengenal dan
menjalin hubungan dengan pelanggan sudah lama diterapkan oleh para pebisnis
“kelas kampung,” misalnya pedagang rokok maupun penjual bakmi tenda di pojok
jalanan komplek perumahan kita. Mereka tahu banyak mengenai pelanggannya,
misalnya apa merk kesukaan kita, makanan apa yang biasa kita beli, bahkan sampai
apa kita termasuk tipe pelanggan yang suka ngutang apa tidak.
CRM sebenarnya sama dengan customer service, hanya sekarang dikemas
dengan automisasi, personalisasi, dan insight terhadap tingkah laku pelanggan.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan pelanggan
dan membuat pelanggan melakukan pembelian ulang serta tetap loyal selamanya.
(Azzaro, 2000).
CRM sendiri dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas terintegrasi
untuk mengidentifikasi, mengakuisisi, mempertahankan dan mengembangkan
pelanggan yang menguntungkan. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan
keuntungan perusahaan melalui kepuasan pelanggan (Citramaya, 2002)
Untuk memahami CRM maka kita harus mengenali tiga pilarnya, yaitu :
Pertama, proses menciptakan nilai tambah (value creation). Sasarannya bukanlah
memaksimalkan penjualan dari suatu transaksi, tetapi lebih kepada membangun
hubungan yang berkelanjutan untuk menciptakan nilai tambah bagi pelanggan, karena
menurut ancangan ini keunggulan kompetisi tidak semata-mata didasarkan atas
kualitas produk ataupun harga.
Kedua, melihat produk sebagai proses. Dalam konteks ini, perbedaan antara produk
(barang dan jasa) tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah bagaimana hubungan
dengan pelanggan. Atau dengan kata lain fokusnya bukan pada diferensiasi produk,
tapi diferensiasi dalam hubungan dengan pelanggan yang berorientasi kemitraan.
Ketiga, tanggung jawab perusahaan untuk membangun hubungan kemitraan yang
lebih kuat dengan mengambil alih tanggung jawab dalam proses peningkatan nilai
tambah kepada pelanggannya yang berorientasi jangka panjang, misalnya dengan
mengetahui kebutuhan para pelanggan kelak (future needs) (Permas, 2002).
Berdasarkan ketiga pilar diatas, maka secara keseluruhan kerangka CRM dapat
diklasifikasikan kedalam tiga komponen utama, yaitu : operational CRM, analytical
CRM dan collaborative CRM. (Permas, 2002)
Operational CRM adalah pengelolaan secara otomatis dari proses bisnis secara
terintegrasi dan horizontal termasuk customer touch-points dan integrasi front-back
office. Analytical CRM adalah analisis data yang diperoleh dari operational CRM
dengan memanfaatkan tools dan softwares untuk mendapatkan pemahaman yang
lebih baik tentang perilaku pelanggan atau kelompok pelanggan. Collaborative
CRM adalah seperangkat aplikasi dari pelayanan kolaborasi termasuk e-mail, ecommunities,
publikasi personal, dan alat lainnya yang sejenis yang dirancang untuk
memfasilitasi interaksi antara para pelanggan dengan perusahaan, untuk memperbaiki
proses dan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Indikator dari kinerja CRM adalah dicapainya efisiensi, mutu pelayanan,
kepuasan pelanggan serta tersedianya data atau pengetahuan mengenai perilaku
pelanggan. Keberhasilan CRM ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu : manusia,
proses, dan teknologi. Manusia adalah faktor nomor satu, karena CRM sebenarnya
adalah bagaimana mengelola hubungan / relasi antar manusia, sehingga diperlukan
personal touch” atau sentuhan-sentuhan pribadi dan manusiawi. Diperlukan “attitude”
dan semangat dari dalam pelaku bisnis untuk lebih proaktif menggali dan mengenal
pelanggannya secara lebih mendalam.
Disamping itu dibutuhkan pula proses, yaitu sistem dan prosedur yang
membantu manusia untuk lebih mengenali dan menjalin hubungan dekat dengan
pelanggan. Struktur organisasi, kebijakan operasional, serta system rewardpunishment
harus dapat mencerminkan apa yang dicapai dengan CRM.
Terakhir, setelah manusia dan prosesnya dipersiapkan, baru diperkenalkan
teknologinya untuk lebih mempercepat dan mengoptimalkan faktor manusia dan
proses dalam aktivitas CRM sehari-hari. teknologi yang akan digunakan harus dapat
diintegrasikan dengan infrastruktur yang sudah ada di perusahaan, harus sesuai
dengan prasarana yang didasarkan kebutuhan, dan juga harus melihat visi arsitektur
teknologi penunjang.
Banyak orang beranggapan CRM itu sebuah hasil dari konsep ataupun aplikasi
teknologi informasi. Suatu survei menunjukan bahwa lebih dari 70% perusahaan yang
menerapkan CRM mengalami kegagalan. Hal ini terjadi karena berangkat dari
kesalahpahaman dalam melihat inisiatif CRM sebagai suatu teknologi, bukan suatu
cara pandang baru dalam menjalankan bisnis (www.yahoo.com)
CRM bukanlah alat atau solusi cepat untuk menghadapi tantangan bisnis,
melainkan suatu strategi yang tiada hentinya (on going) dan melibatkan seluruh
aktivitas di dalam usaha untuk melayani pelanggan semakin lebih baik lagi.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini banyak melakukan kajian teoritis terhadap sebuah strategi
pemasaran yang disebut CRM, yang dihubungkan dengan berbagai informasi seputar
kondisi terkini BUMN. Jenis penelitian ini adalah studi pustaka dengan pendekatan
kualitatif. Adapun fokus penelitian ini adalah pada proses reformasi yang kini sedang
dijalankan oleh BUMN beserta semua dinamika yang menyertainya, lalu
kemungkinan penerapan CRM di BUMN. Sumber data pada penelitian ini adalah data
sekunder, dengan teknik pengumpulan data, yaitu teknik dokumentasi. Sedangkan
metode analisa data yang digunakan adalah analisa data sekunder.
Strategi Pemerintah Dalam Mereformasi BUMN
Pada era awal kemerdekaan, sekitar tahun 1940-an dan 50-an, sektor korporasi
masih belum berkembang. Di masa itu kegiatan usaha lebih banyak didominasi oleh
perusahaan asing dan sekelompok kecil pengusaha, akibatnya banyak sektor-sektor
yang menyangkut hajat hidup orang banyak belum terkelola dengan baik.
Pemerintah menyadari bahwa terdapat kebutuhan terhadap adanya sektor
korporasi yang dapat diandalkan untuk membangun perekonomian nasional, maka
mulailah pemerintah mengembangkan sektor korporasi (BUMN) yang berasal dari
hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan eks Belanda yang disebut The big ten atau
the big five, seperti Borsumij, Jacobson van den Berg, Internatio, Lindeteves atau
Beo Wehry (Dawam, 1992).
Bahkan sejak saat itu, negara juga ikut serta sebagai investor di berbagai bidang
kegiatan ekonomi, terutama disektor pertanian, perbankan, pelayanan umum,
pertambangan, energi dan perdagangan. Bahkan terakhir sektor pariwisata dan
industri juga cukup diwarnai oleh peran negara. Karenanya, pemerintah sampai
dengan awal tahun 1970-an mendominasi kegiatan ekonomi, sementara sektor swasta
belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Sekalipun demikian, pada awal tahun 1980-an Pemerintah mulai menyadari
bahwa untuk mendorong perekonomian nasional, tidak cukup dengan peran
pemerintah saja. Peranan sektor korporasi swasta (termasuk usaha kecil dan
menengah) serta koperasi perlu untuk segera ditingkatkan. Peranan pemerintah
melalui BUMN harus dikurangi. Kebijakan-kebijakan pembangunan sejak era itu
dikembangkan kearah peningkatan peran sektor korporasi swasta, hal ini terbukti
dengan menurunnya dominasi kontribusi BUMN terhadap Produk Domestik Bruto
dari 70 % di tahun 1970-an menjadi hanya 40% dewasa ini. (Yasin, 2002)
BUMN hingga akhir 2001 memiliki aset senilai Rp. 772,5 triliun, namun
dengan Return on Asset (ROA) sebesar + 3,6 % menunjukkan bahwa pengelolaan
BUMN masih belum optimal.(Sukardi, 2002). Walaupun BUMN telah mencapai
tujuan awal sebagai agen pembangunan dan pendorong terciptanya sektor korporasi,
namun tujuan tersebut dicapai dengan biaya yang relatif tinggi.
Menyadari peran, tantangan, dan rendahnya kinerja BUMN tersebut, maka
Pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis sebagaimana dituangkan
dalam Master Plan BUMN 2002-2006 yang diluncurkan pada 17 April 2002.
Dalam Master Plan BUMN tersebut tergambar langkah-langkah yang perlu
ditempuh dan targetan yang harus dicapai pada setiap periode, sehingga sasaran yang
diinginkan untuk lima tahun kedepan dapat diwujudkan, yaitu BUMN
berkarakteristik kelas dunia dengan ciri-ciri sebagai berikut : (Sukardi, 2002)
1) Berorientasi pada penciptaan nilai dengan kinerja finansial dan operasional.
2) Berorientasi pada pengembangan core competencies dengan fokus pada industri
sekunder dan tertier (hilir).
3) Skala usaha internasional dalam pendapatan, produksi, pemasaran, dan
kemampuan pendanaan dengan akses global.
4) Usaha yang terfokus dan terintegrasi dalam satu sektor tertentu.
5) Dipimpin oleh CEO dengan tim manajemen yang professional dan mandiri serta
bebas dari intervensi politik.
6) Sebagian besar atau mayoritas badan usaha telah diprivatisasi, sehingga mampu
menjadi badan usaha yang tangguh untuk bersaing secara global.
Untuk mewujudkan itu, pemerintah secara terencana mencoba untuk melakukan
reformasi terhadap BUMN yang juga telah diformalkan sebagai progam negara
dengan dimasukkannya masalah pengelolaan dan privatisasi BUMN pada butir 12
dan 28 GBHN tahun 1999 – 2004.
Upaya pemerintah untuk melakukan reformasi BUMN sebenarnya telah dimulai
pada tahun 1980-an melalui penerbitan Inpres No.5/1988 yang dijabarkan lebih lanjut
dengan SK Menteri Keuangan Nomor 740 dan 741 tahun 1989. Regulasi ini
memberikan wewenang kepada BUMN untuk menggunakan berbagai perangkat
reformasi seperti restrukturisasi, penggabungan usaha (merger), kerjasama operasi
(KSO) dan bentuk-bentuk partisipasi swasta lain termasuk penawaran saham kepada
masyarakat dan penjualan strategis. Sektor-sektor yang dibuka bagi partisipasi pihak
swasta tidak saja dalam sektor yang kompetitif, tetapi juga dimungkinkan dalam
bentuk kerjasama usaha di sektor infrastruktur, transportasi dan energi. Sebagai
akibat dari kebijakan reformasi BUMN di atas, dalam kurun waktu 1990-1998 pihak
investor swasta, asing dan domestik diundang untuk berpartisipasi dalam memiliki
saham BUMN.
Secara umum reformasi BUMN diperlukan untuk memperbaiki kinerja dan
kondisi-kondisi yang dirasakan menghambat roda perekonomian nasional dan
memperburuk keuangan Pemerintah. Dalam melakukan reformasi instrument yang
digunakan BUMN adalah restrukturisasi dan privatisasi, disamping beberapa
instrumen lainnya seperti deregulasi dan debirokratisasi.
Terkait dengan restrukturisasi dan privatisasi BUMN, ditegaskan oleh Menteri
Negara BUMN, Laksamana Sukardi (2002), bahwa :
Restrukturisasi tidak selalu berarti melikuidasi perusahaan yang mengalami
kesulitan, tetapi dapat pula dengan memperbaiki struktur organisasi dan
manajemennya, memfokuskan kegiatan bisnisnya, dan memperbaiki struktur
permodalan dan hutangnya. Dengan demikian restrukturisasi tidak akan selalu
identik dengan upaya memperkecil aktivitas perseroan yang akhirnya mengurangi
jumlah karyawan. Apabila restrukturisasi tersebut telah mampu meningkatkan nilai
perseroan, maka untuk pengembangannya, kepemilikan perusahaan dapat diperluas
sepanjang perusahaan tersebut memenuhi syarat untuk diprivatisasi. Perluasan
kepemilikan saham perseroan tersebut tidak hanya akan dapat menambah
penerimaan pemerintah, tetapi sekaligus akan dapat meningkatkan nilai perseroan
sebagai konsekuensi dari statusnya yang telah mampu menekan praktek-praktek KKN
dan telah diterapkannya prinsip-prinsip GCG. Peningkatan nilai perusahaan tersebut
pada gilirannya kembali akan meningkatkan pembayaran pajak dan bagian laba
(deviden) kepada pemerintah .
Sebagai kelanjutannya, pemerintah telah mengambil langkah-langkah konkrit
untuk merestrukturisasi BUMN, diantaranya :
a. Menyatukan tanggung jawab reformasi dan pembinaan BUMN dari yang pada
awalnya di Departemen Teknis ke Menteri Negara BUMN., melalui PP No.12
dan 13 diikuti dengan PP Nomor 50 dan 64 tahun 1998, kemudian diperbaharui
dengan PP Nomor 96 dan Nomor 98 tahun 1999, diikuti PP Nomor 1 dan Nomor
89 tahun 2000, terakhir dengan PP Nomor 64 / 2001.
b. Percepatan restrukturisasi dan privatisasi BUMN, dengan memperbanyak metode
privatisasi, misalnya IPO, Stratergic Sales, Employee / Management Buy out,
Regional Government Buy Out dan metode lain yang lazim.
c. Dengan PP No. 6 / 2000, Pemerintah juga merestrukturisasi unit-unit kegiatan
pelayanan Pemerintah yang sudah mandiri menjadi suatu badan usaha bisnis
(BUMN), misalnya Yayasan TVRI menjadi Perjan TVRI dan RRI menjadi Perjan
RRI, serta Swadana Rumah Sakit Umum menjadi Perjan Rumah Sakit.
d. Memaksimalkan nilai / kepentingan Pemegang Saham.
e. Menyiapkan rencana jangka panjang bagi reformasi BUMN, khususnya
privatisasi. (Kementerian BUMN, 2002)
Privatisasi sendiri merupakan penyerahan kontrol efektif dari sebuah perseroan
(BUMN) kepada manajer dan pemilik swasta dan biasanya terjadi apabila mayoritas
saham BUMN dialihkan kepemilikannya kepada swasta. Dengan demikian, maka
secara bertahap akan terjadi perubahan peranan Pemerintah, dari peran sebagai
pemilik (shareholder), pelaksana (operator) sekaligus pembuat kebijakan (regulator)
menjadi hanya sebagai regulator dan promotor suatu kebijakan.
Untuk menjamin bangsa ini mendapatkan manfaat maksimal dan resiko yang
minimal dari program privatisasi, pemerintah mengambil langkah-langkah yang
terbagi dalam dua kategori yaitu kerangka regulasi dan prosedur yang transparan.
Kerangka regulasi terdiri dari pedoman dan kebijakan yang mengatur perilaku
perusahaan, misalnya : (Kementerian BUMN, 2002).
1) Mengenai Harga dan Standar Kualitas.
2) Pemberlakuan dan pengawasan implementasi UU No.5 / 1999 tentang Larangan
Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
3) Peraturan perlindungan keselamatan konsumen dan kualitas produk.
4) Peraturan keselamatan kerja termasuk didalamya perlindungan terhadap
pemutusan kerja yang tidak adil.
5) Kewajiban pelayanan masyarakat atau Public Service Obligations (PSOs) akan
ditetapkan oleh Pemerintah pada industri yang produk dan harganya tidak
seluruhnya ditentukan berdasarkan persaingan.
Sedangkan kerangka prosedur yang transparan, mencakup :
1) Tahapan seleksi terhadap metode privatisasi bagi setiap perusahaan.
2) Proses seleksi bagi mitra bisnis yang memiliki catatan kinerja dan komitmen
untuk mengembangkan BUMN.
3) Proses pelaksanaan privatisasi sendiri.
Pemerintah mengakui bahwa program restrukturisasi dan privatisasi
bagaimanapun juga berpotensi menimbulkan dampak sosial, terutama adanya resiko
pengangguran. Pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa badan usaha publik
pada umumnya mempekerjakan tenaga kerja 10-20 % lebih banyak dari kebutuhan
sebenarnya. Jumlah tenaga kerja yang diserap BUMN tahun 1997 adalah sekitar 1,4
juta dari total 70 juta tenaga kerja.
Dalam rangka menanggulangi dampak sosial tersebut, pemerintah menerapkan
kebijakan-kebijakan sebagai berikut : (Kementerian BUMN, 2002)
1) Pemutusan hubungan kerja sedapat mungkin dihindari, kecuali bila kinerja
pekerja itu sendiri kurang memenuhi standar.
2) Pekerja yang telah mendekati usia pensiun dapat mengambil pensiun dipercepat,
tanpa kehilangan hak pensiunnya.
3) Apabila PHK tidak terhindarkan, pekerja berhak atas kompensasi yang adil
berdasarkan lamanya bekerja.
4) Para pekerja yang terkena PHK tersebut berhak atas bantuan pelatihan kembali,
fasilitasi untuk mendapatkan pekerjaan lain, relokasi atau dukungan untuk
menciptakan dan membiayai usaha wiraswasta.
Masih terkait dengan proses reformasi BUMN, juga turut ditekankan
pentingnya penerapan Good Corporate Governance (GGG). GCG merupakan sistem
yang harus menjamin terpenuhinya kewajiban perusahaan kepada shareholders dan
seluruh stakehaloders dalam kerjasama mencapai tujuan perusahaan. Buruknya
hubungan perusahaan dengan stake holders dapat menimbulkan hambatan dan
gangguan pada jalannya operasi perusahaan.
Prinsip-prinsip utama yang harus dikembangkan menuju terciptanya GCG
adalah : keterbukaan (transparancy), keadilan (fairness), dan akuntabilitas. Prinsip
keterbukaan mengandung makna bahwa sistem yang berjalan dan perkembangan
suatu korporasi benar-benar dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berkompeten
(stakeholder) sesuai dengan kompetensinya. Prinsip keadilan mengandung arti
bahwa semua pihak yang terkait dengan perusahaan (stakeholder) berperan secara
fair sesuai ketentuan yang berlaku / disepakati. Sedangkan prinsip akuntabilitas
menekankan bahwa semua tindakan yang terjadi dalam korporasi harus dapat
dipertanggungjawabkan.
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) memaknai Corporate
Governance sebagai seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara
pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para
pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya sehubungan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan.
Kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa salah satu
penyebab krisis yang melanda Asia, termasuk Indonesia, adalah lemahnya
implementasi GCG. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain adalah minimnya
keterbukaan perusahaan berupa pelaporan kinerja keuangan, kewajiban kredit dan
pengelolaan perusahaan terutama bagi perusahaan yang belum go public, kurangnya
pemberdayaan komisaris sebagai organ pengawasan terhadap aktivitas manajemen
dan ketidakmampuan akuntan dan auditor memberi kontribusi atas sistem
pengawasan keuangan perusahaan.
Lemahnya implementasi GCG akan menyebabkan perusahaan tidak dapat
mencapai tujuannya berupa profit yang maksimal, tidak mampu mengembangkan
perusahaan dalam persaingan bisnis serta tidak dapat memenuhi berbagai kepentingan
stakeholders.
Belajar dari pengalaman tersebut, pemerintah telah membuat komitmen untuk
menerapkan praktek-praktek GCG dengan menerbitkan Surat Edaran No.S–106/MPM.
PBUMN/2000 tanggal 17 April 2000 yang menyerukan agar BUMN
melaksanakan praktek-praktek GCG. Pedoman lebih lanjut mengenai GCG
dituangkan dalam bentuk SK Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan
BUMN No.KEP–23/M–PM.PBUMN/2000 tentang Pengembangan Praktek GCG
dalam Perusahaan Perseroan.
Untuk mengoperasionalisasikan prinsip-prinsip tersebut, pemerintah telah
menyusun sejumlah praktek GCG yang akan diperkenalkan kepada BUMN, antara
lain : (Kementerian Negara BUMN, 2002)
a. Komisaris/ Dewan Pengawas akan didorong untuk lebih aktif dalam mengawasi
dan memberikan pendapat kepada Direksi dalam pengelolaan BUMN. Untuk itu,
peran dan tanggung jawab Direksi akan diperjelas, khususnya sehubungan dengan
tujuan utama masing-masing BUMN.
b. Pembentukan Komite Audit dan Komite Remunerasi sebagai sub-komite
Komisaris secara bertahap akan diterapkan kepada seluruh BUMN; Komite Audit
bertujuan untuk membantu Komisaris antara lain melakukan penilaian atas hasil
audit yang dilaksanakan oleh auditor intern maupun ekstern, sistem pengawasan
perusahaan dan laporan keuangan. Komite Remunerasi bertugas memberikan
rekomendasi terhadap keputusan-keputusan yang menyangkut remunerasi dan
kompensasi serta sistem pensiun.
c. Kriteria seleksi dan proses penunjukan yang transparan dan terencana bagi
Komisaris / Dewan Pengawas dan Direksi akan diimplementasikan, termasuk
pembuatan Surat Penunjukan bagi keduanya, yang secara formal akan
menjelaskan tugas, tanggungjawab serta harapan-harapan Pemerintah. Untuk
mendukung dan memastikannya akan dilakukan program orientasi bagi Komisaris
/ Dewan Pengawas dan direksi baru.
d. Dokumen Statement of Corporate Intent (SCI) akan diterapkan bagi semua
BUMN yang 100 % sahamnya dimiliki Pemerintah, yang intinya memuat targettarget
kinerja dan sistem pemantauannya. Dokumen ini akan tersedia dan dapat
diakses oleh publik.
e. Sistem Remunerasi Berdasarkan Kinerja (Performance Incentive System) akan
diterapkan kepada Direksi agar dapat bertindak secara profesional dan objektif
sejalan dengan tujuan-tujuan Pemerintah sebagai pemegang saham.
f. Peluncuran fasilitas BUMN Online sejak 8 Maret 2002.
g. Pembuatan Master Plan BUMN Tahun 2002-2006.
h. Penyusunan RUU BUMN.
i. Pembentukan Tim Program Restrukturisasi dan Corporate Governance di
Lingkungan Kementerian BUMN (Kep.53/M.BUMN/2002).
j. Selektif dalam pengungkapan informasi dan pihak-pihak yang relevan untuk
mendapat informasi tersebut.
k. Penerbitan laporan dilakukan secara rutin setiap tahun kepada publik karena
merupakan suatu keharusan yang mengikat bagi perusahaan berdasarkan UU PT.
Dalam Laporan Tahunan terdapat informasi keuangan dan non keuangan yang
menunjukkan bagaimana pengelolaan perusahaan dilakukan oleh manajemen dan
komisaris dalam suatu periode waktu dan bagaimana pertanggungjawaban
pengelolaan sumber daya perusahaan milik shareholders yang dipercayakan
kepada manajemen.
Untuk itu, pemerintah telah menetapkan 5 perusahaan yang dijadikan sebagai
pilot project dalam pengujian penerapan model GCG, yaitu: PT Timah Tbk, PT PLN,
PT Jasa Marga, PT Pelni dan PT Perkebunan Nusantara VIII.
Posisi BUMN dalam peta perekonomian nasional memang masih sangat rentan.
Karenanya, reformasi BUMN yang kini sedang bergulir dapat menjadi momentum
yang tepat bagi BUMN untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya
berdasarkan prinsip-prinsip GCG.
2. Respon publik dalam menanggapi reformasi BUMN
Sementara itu, respon publik yang muncul menanggapi aksi restrukturisasi dan
privatisasi yang dilakukan oleh pemerintah cukup beraneka. Kompas; 16 April 2002
memberitakan :
“Sekitar 1.000 karyawan BUMN yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja
(FSP) BUMN, (Selasa, 16/4) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara,
Jalan Medan Merdeka Utara. Mereka mendesak pemerintah dan DPR untuk
menghentikan semua kegiatan privatisasi yang mereka nilai bernuansa obral aset
bangsa dan meminta agar pemerintah dan DPR menyusun UU tentang BUMN”.
Hal senada disampaikan oleh staf pengajar Fakultas Ekonomi UGM Revrisond
Baswir dalam makalahnya yang disampaikan pada seminar dan lokakarya Strategi
Reformasi BUMN di hotel Park Jakarta tanggal 27 Maret 2002, bahwa : (Kompas, 27
Maret 2002)
“Privatisasi bukan cara yang tepat untuk menanggulangi persoalan dan tantangan
yang dihadapi BUMN, apalagi jika proses tersebut dilaksanakan di bawah tekanan
IMF. Privatisasi dengan cara demikian, hanya akan menjadi jalan pintas untuk
memindahkan kepemilikan modal BUMN ketangan pemodal swasta. Karenanya,
privatisasi berpotensi untuk disalahgunakan oleh kekuatan modal internasional untuk
menjarah kekayaan Indonesia”.
Tidak begitu jauh berbeda, Ketua MPR Amien Rais dalam jumpa pers seusai
mengadakan pertemuan dengan Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI) digedung DPR
/ MPR, menyampaikan bahwa : (Kompas, 5 April 2002)
“Sebagai Negara yang berdaulat, sebagai anak-anak bangsa yang tetap memiliki
patriotisme dan nasionalisme, menjual asset Negara itu, kalau tidak amat sangat
terlalu terpaksa sekali, sebaiknya harus dihindarkan”.
Melihat opini yang berkembang, pengamat ekonomi dari UGM-Tony
Prasetyantono, sebelumnya telah mengakui bahwa : (Kompas, 31 Januari 2002)
“Langkah pemerintah menjual sejumlah BUMN kepada pihak swasta, sering
dibenturkan pada masalah nasionalisme dan sikap kedaerahan yang sempit. Hal itu
disebabkan pemahaman dan pengertian privatisasi belum disosialisasikan secara
luas ditengah masyarakat. Orang tahunya Pemerintah menjual dan mengobral asset
Negara tapi orang lupa bahwa perusahaan BUMN itu banyak utangnya. Kalau tidak
dijual kita menanggung hutang”.
Banyaknya perbedaan sikap didalam memandang persoalan restrukturisasi dan
privatisasi membuktikan bahwa persepsi masyarakat Indonesia atas langkah
reformasi BUMN ini masih belum sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Laboratorium Ilmu Politik FISIP-UI terungkap bahwa banyak kalangan masyarakat
menilai kinerja menteri negara BUMN belum memuaskan dengan transparansi kerja
masih menjadi persoalan krusial. Masyarakat juga menyimpan kecurigaan besar
terhadap independensi dan profesionalisme pejabat BUMN dari partai politik, bahkan
masyarakat masih ragu persoalan KKN di tubuh BUMN dapat segera
ditangani.(Kompas, 12 Maret 2002)
Sebagian kalangan juga menilai nuansa politis yang muncul di tubuh BUMN
juga masih sangat kental, misalnya dalam proses pergantian direksi atau yang lain.
Pernyataan Ketua Sub Komisi BUMN dan Investasi Komisi V, Azwir Dainy Tara
dapat menggambarkan adanya tarik-menarik kepentingan di BUMN : (Kompas, 10
Januari 2002)
“Kebijakan privatisasi asset BUMN dan penggantian Komisaris serta Direksi
BUMN, terkesan politis dan berlindung pada asas manfaat. Rencana privatisasi
Angkasa Pura II, Semen Gresik dan penggantian Direksi Bukit Asam, Perumnas dan
PT Asuransi Jiwasraya lebih mendasarkan pada kewenangannya dan asas manfaat
jangka pendek. Karena itu, anggota Komisi V dan IX DPR akan segera memanggil
Menneg BUMN Laksamana Sukardi, menyusul berbagai kebijakan yang
dikeluarkannya, khususnya privatisasi dan penggantian direksi yang bersifat
kontraproduktif, sehingga meresahkan banyak orang”.
Pada dasarnya, semua pihak tentu berharap BUMN dapat tumbuh dan
berkembang secara sehat dan wajar, terutama dalam rangka peningkatan nilai (value
creation) serta repositioning BUMN di era globalisasi. Karenanya pelaksanaan
reformasi BUMN ini harus tetap mengacu kepada peraturan perundang-undangan dan
dilaksanakan secara transparan, sehingga akan tercipta dukungan nasional yang
positif.
Secara sederhana gambar 1 akan memperlihatkan beberapa persoalan yang
terkait dengan proses reformasi BUMN di Indonesia, berdasarkan pembahasan yang
tadi telah dilakukan.
Strategi CRM Dalam Reformasi BUMN
Dengan mulai meluasnya bidang usaha BUMN kepada sektor-sektor yang
banyak digeluti swasta, serta semakin besarnya keberanian dan kemampuan sektor
swasta untuk merambah wilayah-wilayah yang dulunya dimonopoli oleh negara atas
nama kepentingan umum telah menciptakan dinamika tersendiri dalam cuaca
perekonomian nasional.
Sebagai konsekuensinya, sekalipun BUMN merupakan badan usaha nasional
yang memiliki tugas dan misi khusus, namun diera global yang penuh persaingan
seperti sekarang, setiap perusahaan negara dituntut untuk dapat berkiprah secara
profesional sebagaimana lazimnya perusahaan swasta. Perusahaan harus dapat
berkembang, bersaing secara sehat dan mendapatkan laba usaha. Tentu, untuk
menang dalam persaingan itu, BUMN harus benar-benar memahami karakter, peran
dan posisinya, sebab ini akan menentukan strategi apa yang akan dikembangkannya.
Untuk membangun dan memperbaiki internal manajemen di BUMN telah
diperkenalkan konsep GCG, yang relatif diyakini mampu menghubungkan berbagai
kepentingan shareholder dan stakeholder secara sehat. Bahkan untuk itu, pemerintah
telah menyusun beberapa langkah-langkah taktis yang secara bertahap nantinya akan
diterapkan oleh seluruh BUMN. Namun, untuk memenangkan persaingan dipasar
global, BUMN tidak cukup hanya bermodalkan itu. BUMN harus dapat menemukan
sebuah konsep yang jitu untuk merebut, mengolah dan mempertahankan pelanggan,
karena mayoritas produk dan layanan yang dihasilkan BUMN tidak lagi menjadi satusatunya
alternatif. Untuk menjawab kebutuhan ini, BUMN dapat mengembangkan
konsep CRM sebagai sebuah paradigma mendasar didalam orientasi logika bisnisnya.
Mengapa strategi CRM relatif cocok apabila diterapkan oleh BUMN ? Ada
beberapa landasan teoritis yang dapat dikemukakan, antara lain :
1. CRM merupakan strategi pemasaran yang menjadikan pelayanan dan kepuasan
pelanggan sebagai media untuk memenangkan persaingan. Hal ini sejalan dengan
hakekat kehadiran BUMN yang berorientasi pelayanan dan komitment BUMN
saat ini untuk menjadi entitas bisnis yang mampu bersaing.
2. CRM merupakan strategi pemasaran yang telah cukup dikenal di dunia bisnis.
Dengan diterapkannya strategi ini, secara tidak langsung akan meningkatkan
pamor dan citra BUMN sebagai sebuah institusi bisnis yang professional.
3. CRM merupakan strategi pemasaran yang mengharapkan terciptanya sebuah
hubungan yang terus berkelanjutan, antara produsen dan konsumen, sehingga
keduanya berposisi layaknya sebagai mitra sejajar. Hubungan semacam ini,
sangat tepat untuk merubah opini miring masyarakat akan BUMN, sekaligus
membangkitkan perasaan memiliki publik terhadap BUMN.
4. CRM merupakan strategi bisnis yang efektif dan efisien. Hal ini selaras dengan
komitment BUMN sekarang untuk menjadi institusi bisnis yang bernilai “plus”
dan mampu memberikan konstribusi optimal bagi negara.
5. CRM merupakan strategi pemasaran yang diarahkan untuk menciptakan nilai
tambah bagi konsumen, dengan jalan memahami kebutuhan dan perasaan
konsumen. Nilai tambah ini bisa dalam berbagai bentuk, misalnya dalam akses
dan transfer informasi. Diharapkan dengan CRM, masyarakat dapat lebih
memahami BUMN dan sebaliknya BUMN dapat lebih peka akan kebutuhan
masyarakat.
6. CRM efektif dapat digunakan pada semua jenis perusahaan dan bentuk usaha.
Strategi CRM memang ideal untuk diterapkan oleh BUMN, karena secara tidak
langsung strategi ini akan menggerakkan BUMN untuk meningkatkan kualitas
pelayanannya. Apalagi saat ini persoalan kualitas pelayanan BUMN telah menjadi isu
publik yang cukup keras. Lihat saja pernyataan ketua YLKI-Indah Sukmaningsih
berikut ini : (Kompas, 3 April 2002)
“Dalam menaikkan, misalnya BBM maupun jasa lain, pemerintah hanya
mengeluarkan surat keputusan kenaikan harga, tapi tak mengatur bagaimana
kualitas produk maupun pelayanan yang harus diberikan kepada konsumen. Lihat
saja, kenaikan listrik maupun tarif telepon saat ini tak diikuti oleh kenaikan kualitas
pelayanan. Kenaikan tarif listrik maupun telepon secara berkala hanya untuk
menutupi kerugian PT PLN dan Telkom. Kerugian disebabkan kesalahan mereka tapi
mengapa bebannya dilimpahkan kepada rakyat sebagai konsumen. Contoh buruk
lainnya juga diperlihatkan pemerintah lewat Pertamina dengan menaikkan BBM
tanpa pemberitahuan apalagi sosialisasi kepada konsumen. Pemerintah justru
memanfaatkan ketidaktahuan konsumen”.
Pertanyaan selanjutnya yang pasti akan muncul adalah apakah mungkin BUMN
menerapkan CRM. Sebuah artikel dalam situs INDOCRM, menulis bahwa CRM
tidak akan berjalan maksimal dalam suatu perusahaan, jika :
Pertama, hidupnya budaya memerintah dan mengontrol, karena biasanya mereka
terlalu introspektif dan birokratif.
Kedua, terdapatnya pengambilan keputusan marketing yang terpusat, dimana hal ini
jelas tidak termasuk faktor yang mendukung kesuksesan CRM, sebab pemasaran,
promosi dan penjualan sebaiknya berada di front line.
Ketiga, tidak adanya keinginan untuk melakukan perubahan di bagian sales dan
marketing. Pentingnya CRM haruslah dapat diterima dan di mengerti oleh setiap
orang dalam perusahaan.
Ketiga hal diatas, harus diakui memang cenderung telah menjadi kultur BUMN
di Indonesia, namun penerapan CRM secara maksimal bagi BUMN bukanlah suatu
hal yang mustahil, dikarenakan :
pertama, dengan mulai diterapkannya GCG sebagai sebuah perspektif bersama,
maka BUMN sebenarnya sedang dalam proses menuju profesionalitas dengan
semakin ditekannya aksi intervensi pemerintah yang tidak proporsional,
dikembangkannya pola manajemen modern yang efektif dan efisien, serta mulai
terbukanya BUMN terhadap perubahan.
kedua, kenyataan dilapangan membuktikan bahwa prinsip-prinsip CRM
sesungguhnya sudah mulai diterapkan oleh beberapa BUMN, seperti PT PLN dengan
konsep MULYA 2002 dan PT Indosat dengan model pelayanan Indosat one gallery.
jadi, tidak menutup kemungkinan jika kemudian hal ini diikuti oleh seluruh BUMN di
Indonesia.
Indosat one gallery merupakan model penerapan CRM yang akan menyiapkan
sistem penagihan (billing system) yang terintegrasi, satu tagihan untuk semua
layanan. Lalu pusat panggilan (call center) terintegrasi dan layanan bagi pelanggan
yang datang (walk in center). Dengan CRM pelanggan mendapat kemudahan dalam
sistem pelayanan dan tarif khusus untuk bundling. (Kompas, 7 Februari 2002)
Disamping PT Indosat dengan Indosat one gallery-nya, PT PLN melalui produk
MULYA (Multi Layanan) 2001 juga telah menerapkan logika-logika CRM. Produk
layanan MULYA 2001 merupakan suatu paket layanan kepada pelanggan yang
mengintegrasikan beberapa jenis pelayanan yang ada di PLN kedalam setiap loket
pelayanan, sehingga semua jenis pelayanan PLN tersebut dapat dilayani pada setiap
loket.
Ada beberapa pertimbangan yang mendasari penelitian ini, bahwa produk
MULYA ini telah sejalan dengan logika CRM, diantaranya : pertama, produk
MULYA 2001 telah memposisikan pelayanan dan kepuasan pelanggan sebagai
prioritas atau dengan kata lain pelanggan telah menjadi fokus perhatian. Dalam buku
panduan MULYA 2001 disebutkan munculnya MULYA 2001 didasarkan pada
pengertian konsep strategi bisnis yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan
jangka panjang dengan memberikan kepuasan kepada pelanggan.
Kedua, produk MULYA 2001 telah menerapkan pilar utama CRM yaitu
penciptaan nilai tambah bagi pelanggan. PLN memang mendominasi penyediaan
pasokan listrik di seluruh Indonesia, sehingga PLN sebenarnya tidak memiliki
saingan. Namun, strategi CRM tidaklah hanya berguna ketika ada pesaing, karena
target CRM dalam konteks BUMN bukan lagi semata-mata untuk memenangkan
persaingan, namun lebih kepada bagaimana membangun dan mempertahankan
sebuah hubungan yang mampu memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
MULYA telah memberikan nilai tambah dalam proses transaksi antara PLN
dengan para pelanggannya, yang meliputi : a) Memberikan kemudahan bagi
pelanggan, karena semua kebutuhan pelanggan dapat dilayani pada setiap loket
pelayanan. Jadi, pelanggan tidak harus berpindah ke loket yang lain untuk
mendapatkan jenis pelayanan yang berbeda. b) Proses pelayanan lebih cepat,
sehingga pelanggan tidak harus antri terlalu lama. c) Kenyamanan dalam pelayanan
yang dirasakan oleh pelanggan dengan front liner yang representatif dan perluasan
waktu pelayanan menjadi 24 jam untuk beberapa jenis pelayanan. d) Tidak adanya
pungutan tambahan.
Ketiga, terdapatnya sebuah sistem teknologi informasi yang terintegrasi,
sehingga segala informasi mengenai pelanggan dan segala perkembangannya yang
berhubungan dengan PLN dapat diketahui, misalnya lokasi dan kondisi pelanggan,
pergerakan / mutasi piutang listrik pelanggan, informasi tagihan rekening, pemakaian
Kwh, dan lain-lain.
Implementasi MULYA 2001 dilakukan dengan penggabungan program SIPL
(Sistem Informasi Pelayanan), ECC (Electronic Cash Control), SIGO (Sistem
Informasi Geografic), program cetak rekening diloket dan sistem informasi pelanggan
yang terhubung melalui jaringan LAN. Adanya sistem yang memungkinkan
terintegrasinya data-data pelanggan, merupakan syarat utama bagi aplikasi CRM.
Dalam targetan jangka panjang sistem teknologi yang terintgrasi semacam ini,
sangat bermanfaat sekali untuk turut menunjang realisasi electronical government (egov)
yang sampai hari ini masih menjadi konsep publik “yang malu-malu kucing”.
Jika saat ini sudah mulai ada beberapa Pemda yang coba mengembangkan embrio
konsep e-gov, maka BUMN dengan CRM-nya dapat menjadi sebuah elemen
pendukung untuk mempercepat realisasi konsep e-gov secara nasional.
Aplikasi CRM sebagai salah satu solusi untuk mengenal pelanggan atau
konsumen akan menjadi sebuah trend dalam dunia bisnis. Disamping PT PLN dan PT
Indosat, Telkomsel juga telah mengembangkan konsep serupa yang disebut dengan
Loyalty Program.
Sementara itu Bank bumiputera juga berusaha untuk mengaplikasikan CRM dan
berusaha menciptakan nilai tambah bagi pelanggannya melalui maksimalisasi
profitabilitas nasabah, peningkatan layanan yang berkualitas dan memaksimalkan
profit dan nilai share holder (www.koran tempo.com)
Untuk dapat segera menerapkan CRM, ada beberapa langkah yang harus
dilakukan oleh BUMN, yaitu :
Pertama, berorientasi untuk segera menyelesaikan semua proses restrukturisasi dan
privatisasi, bagi unit-unit usaha BUMN yang memang membutuhkanya.
Kedua, menerapkan praktek-praktek GCG yang sebelumnya telah ditetapkan oleh
pemerintah.
Ketiga, melakukan proses sosialisasi kepada seluruh komponen BUMN tentang
pentingnya peningkatan kualitas pelayanan dengan CRM sebagai konsep strategis
yang berpotensi untuk mewujudkan itu. Jadi, dalam konteks profesionalisme dan
peningkatan kualitas pelayanan, BUMN dapat menjadikan CRM sebagai paradigma
bersama, layaknya prinsip-prinsip GCG yang telah ditekankan sebelumnya.
Keempat, melakukan identifikasi menyeluruh terhadap karakter setiap unit usaha
BUMN, sekaligus menggali strategi-strategi pemasaran yang berorientasi pada
pelayanan (CRM) yang selama ini telah diterapkan dalam suatu unit usaha BUMN.
Kelima, menentukan unit-unit usaha BUMN yang akan dijadikan sebagai pilot
project penerapan konsep CRM. Untuk sementara ini, PT PLN dan INDOSAT dapat
dijadikan sebagai alternatif.
Keenam, dengan mengacu kepada unit-unit usaha yang menjadi pilot project
penerapan konsep CRM, setiap BUMN di Indonesia dapat mengembangkan strategi
CRM menurut karakter, kapasitas dan kebutuhan perusahaannya sendiri-sendiri.
Ketujuh, melakukan proses sosialisasi yang insentif kepada masyarakat pelanggan
tentang berbagai fasilitas pelayanan yang dikembangkan oleh setiap unit usaha
BUMN.
Secara sederhana posisi dan peran strategi CRM dalam konsep reformasi
BUMN dapat dijelaskan dalam gambar 2 yang memperlihatkan bagaimana posisi
CRM dan peran strategisnya dalam ikut menunjang terciptanya BUMN yang sehat,
kompetitif, valuable dan mampu memberikan pelayanan kepada prima. Kalau CGC
merupakan prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam pola hubungan antara BUMN
dengan para stakeholder dan shareholder, maka CRM merupakan paradigma yang
membangun pola hubungan antara BUMN dengan konsumen atau pelanggan yang
notabene, mayoritas adalah rakyat.
Dengan menggunakan strategi CRM, maka diharapkan akan tercipta kepuasan
dari para pelanggan atas pelayanan jasa ataupun produk fisik yang dihasilkan oleh
BUMN, disamping tentunya BUMN sendiri akan memperoleh keuntungan dari para
pelanggan yang memanfaatkan jasa layanan atau produk fisik mereka. Dengan
puasnya pelanggan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat atas komitmen
BUMN terhadap publik. Jika masyarakat sebagai pelanggan sudah percaya, maka
secara simultan akan tercipta dukungan nasional terhadap BUMN, bahkan
kepemimpinan nasional.
Pada dasarnya keberadaan BUMN di Indonesia sangat bernilai strategis, hingga
bila pengelolaannya tidak dilakukan secara bijaksana, tranparan dan modern, pasti
hanya akan menimbulkan malapetaka. Apapun dalih dan pertimbangan teknis
ekonomi bisnis, pengelolaan dan penentuan putusan mengenai BUMN, jika hanya
sepotong-potong dan tidak integral, hanya akan memperpanjang stagnasi serta tidak
mampu mencegah kemerosotan porsi, pangsa pasar dan kredibilitas BUMN ditengah
perekonomian nasional dan global.
Penutup
a. Reformasi BUMN dapat menjadi momentum strategis bagi BUMN untuk
memperbaiki kinerjanya menuju terwujudnya profesionalisme dan prinsip-prinsip
GCG. Untuk itu, Reformasi BUMN harus terus dilakukan secara transparan,
sesuai dengan peraturan, demokratis dan komunikatif, sehingga proses reformasi
BUMN ini dapat berjalan dengan baik dan terarah.
b. CRM adalah strategi bisnis yang saat ini cukup ideal untuk dikembangkan oleh
BUMN dalam menghadapi persaingan global, tanpa meninggalkan fokus
perhatiannya pada misi pelayanan dan fungsinya sebagai pendorong terciptanya
kesejahteraan sosial. Jadi dalam hal ini, penerapan CRM dapat ikut mendukung
pelaksanaan reformasi BUMN.
c. Sosialisasi mengenai prinsip-prinsip GCG harus dilakukan secara menyeluruh
kesetiap level manajemen di BUMN, agar perubahan positif yang diharapkan
dapat terwujud. Proses sosialisasi prinsip-psrinsip GCG, juga dapat dijadikan satu
paket dengan CRM, karena keduanya dapat saling melengkapi.

Balanced Scorecard Sebagai Alternatif untuk Mengukur Kinerja

I. PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan besar luar biasa dalam persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan penanganan transaksi antara perusahaan dengan pelanggan dan perusahaan dengan perusahaan lain. Persaingan yang bersifat global dan tajam menyebabkan terjadinya penciutan laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang memasuki persaingan tingkat dunia. Hanya perusahaan-perusahaan yang memiliki keunggulan pada tingkat dunia yang mampu memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen, mampu menghasilkan produk yang bermutu, dan cost effevtive (Mulyadi, 1997).

Perubahan-perubahan tersebut mendorong perusahaan untuk mempersiapkan dirinya agar bisa diterima di lingkungan global. Keadaan ini memaksa manajemen untuk berupaya menyiapkan, menyempurnakan ataupun mencari strategi-strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan tingkat dunia. Oleh karena itu perusahaan dalam hal ini manajemen harus mengkaji ulang prinsip-prinsip yang selama ini digunakan agar dapat bertahan dan bertumbuh dalam persaingan yang semakin ketat untuk dapat menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat.

Kunci persaingan dalam pasar global adalah kualitas total yang mancakup penekanan-penekanan pada kualitas produk, kualitas biaya atau harga, kualitas pelayanan, kualitas penyerahan tepat waktu, kualitas estetika dan bentuk-bentuk kualitas lain yang terus berkembang guna memberikan kepuasan terus menerus kepada pelanggan agar tercipta pelanggan yang loyal (Hansen dan Mowen, 1999). Sehingga meningkatnya persaingan bisnis memacu manajemen untuk lebih memperhatikan sedikitnya dua hal penting yaitu “keunggulan” dan “nilai”.

Penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan, pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.

Pemakaian penilaian kinerja tradisional yaitu ROI, Profit Margin dan Rasio Operasi sebetulnya belum cukup mewakili untuk menyimpulkan apakah kinerja yang dimiliki oleh suatu perusahaan sudah baik atau belum. Hal ini disebabkan karena ROI, Profit Marjin dan Rasio Operasi hanya menggambarkan pengukuran efektivitas penggunaan aktiva serta laba dalam mendukung penjualan selama periode tgertentu. Ukuran-ukuran keuangan tidak memberikan gambaran yang riil mengenai keadaan perusahaan karena tidak memperhatikan hal-hal lain di luar sisi finansial misalnmya sisi pelanggan yang merupakan fokus penting bagi perusahaan dan karyawan, padahal dua hal tersebut merupakan roda penggerak bagi kegiatan perusahaan (Kaplan dan Norton, 1996).

Dalam akuntansi manajemen dikenal alat analisis yang bertujuan untuk menunjang proses manajemen yang disebut dengan Balanced Scorecard yang dikembangkan oleh Norton pada tahun 1990. Balanced Scorecard merupakan suatu ukuran yang cukup komprehensif dalam mewujudkan kinerja, yang mana keberhasilan keuangan yang dicapai perusahaan bersifat jangka panjang (Mulyadi dan Johny Setyawan, 1999). Balanced Scorecard tidak hanya sekedar alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi. Dengan pengukuran kinerja yang komprehensif tidak hanya merupakan ukuran-ukuran keuangan tetapi penggabungan ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih bai.

II PENILAIAN KINERJA DAN BALANCED SCORECARD

2.1. Kinerja dan Penilaian Kinerja

Kinerja adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki (Helfert, 1996).

Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa lalu atau yang diproyeksikan, dengan dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau akuntabilitas manajemen dan semacamnya.

Adapun kinerja menurut Mulyadi adalah penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tujuan utama dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personal dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi (Mulyadi dan Johny setyawan, 1999).

Penilaaian kinerja dapat digunakan untuk menekan perilaku yang tidak semstinya dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta pemberian penghargaan, baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.

Dengan adanya penilaian kinerja, manajer puncak dapat memperoleh dasar yang obyektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat membentuk motivasi dan rangsangan pada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien.

Menurut Mulyadi penilaian kinerja dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk:

-  Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.

-  Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawannya seperti promosi, pemberhentian, mutasi.

-  Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.

-  Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengeai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.

-  Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.

Adapun ukuran penilaian kinerja yang dapat digunakan untuk manilai kinerja secara kuantitatif (Mulyadi, 1997):

Ukuran Kinerja unggul adalah ukuran kinerja yang hanya menggunakan satu ukuran penilaian. Dengan digunakannya hanya satu ukuran kinerja, karyawan dan manajemen akan cenderung untuk memusatkan usahanya pdada kriteria tersebut dan mengabaikan kriteria yang lainnya, yang mungkin sama pentingnya dalam menentukan sukses tidaknya perusahaan atau bagian tertentu.

Ukuran kinerja beragam adalah ukuran kinerja yang menggunakan berbagai macam ukuran untuk menilai kinerja. Ukuran kinerja beragam merupakan cara untuk mengatasi kelemahan kriteria kinerja tunggal. Berbagai aspek kinerja manajer dicari ukuran kriterianya sehingga manajer diukur kinerjanya dengan berbagai kriteria.

Ukuran kinerja gabungan, adalah dengan adanya kesadaran beberapa kriteria lebih penting bagi perusahaan secara keseluruah dibandingkan dengan tujuan lain, maka perusahaan melakukan pembobotan terhadap ukuran kinerjanya. Misalnya manajer pemasaran diukur kinerjanya dengan menggunakan dua unsur, yaitu provitabilitas dan pangsa pasar dengan pembobotan masing-masing 5 dan 4. Dengan cara ini manajer pemasaran mengerti yang harus ditekankan agar tercapai sasaran yang dituju manajer puncak.

Dalam manajemen tradisional, ukuran kinerja yang biasa digunakan adalah ukuran keuangan, karena ukuran keuangan inilah yang dengan mudah dilakukan pengukurannya. Maka kinerja personil yang diukur adalah hanya yang berkaitan dengan keuangan, hal-hal yang sulit diukur diabaikan atau diberi nilai kuantitatif yang tidak seimbang.

Ukuran-ukuran keuangan tidak memberikan gambaran yang riil mengenai keadaan perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena adanya beberapa metode pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan yang diakui dalam akuntansi, misalnya depresiasi, pengakuan kas, metode penentuan laba, dan sebagainya.

2.2. Balanced Scorecard.

Balanced scorecard merupakan suatu metode penilaian kinerja perusahaan dengan mempertimbangkan empat perspektif untuk mengukur kinerja perusahaan yaitu: perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal serta proses pebelajaran dan pertumbuhan. Dari keempat perspektif tersebut dapat dilihat bahwa balanced scorecard menekankan perspektif keuangan dan non keuangan. Pendekatan Balanced Scorecard dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan pokok yaitu (Kaplan dan Norton, 1996):

-  Bagaimana penampilan perusahaan dimata para pemegang saham?. (perspektif keuangan).

-  Bagaimana pandangan para pelanggan terhadap perusahaan ? (Perspektif pelanggan).

-  Apa yang menjadi keunggulan perusahaan? (Perspektif proses internal).

-  Apa perusahaan harus terus menerus melakukan perbaikan dan menciptakan nilai secara berkesinambungan? (Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan).

Sehingga apabila digambarkan, balanced scorecard akan memberikan kerangka kerja untuk penerjemahaan strategi ke dalam kerangka operasional sebagai berikut:

Untuk berhasil secara finansial, apa yang harus kita perlihatkan kepada para pemegang saham? Finansial

] Tujuan

] Ukuran

] Sasaran

] Inisiatif

Untuk mewujudkan visi kita apa yang harus diperlihatkan kepada para pelanggan kita ?. Pelanggan

] Tujuan

] Ukuran

] Sasaran

] Inisiatif

VISI

DAN

STRATEGI

Untuk menyenangkan para pemegang saham dan pelanggan kita. Proses bisnis apa yang harus dikuasai?. Proses bisnis internal

] Tujuan

] Ukuran

] Sasaran

] Inisiatif

Untuk mewujudkan visi kita bagaimana kita memelihara kemampuan kita untuk berubah dan meningkatkan diri?. Pembelajaran dan pertumbuhan

] Tujuan

] Ukuran

] Sasaran

] Inisiatif

Balanced Scorecard memberi kerangka kerja untuk penerjemahan strategi ke dalam kerangka operasional.

 2.2.1. Konsep Balanced Scorecard.

Konsep balanced scorecard berkembang sejalan dengan perkembangan implementasi konsep tersebut. Kapalan dan Norton, 1996 menyatakan bahwa Balanced scorecard terdiri dari kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Kartu skor adalah kartu yang digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja seseorang. Kartu skor juga dapat digunakan untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan oleh peronil di masa depan. Melalui kartu skor, skor yang akan diwujudkan personil di masa depan dibandingkan dengan hasil kinerja sesungguhnya. Hasil perbandingan ini digunakan untuk melakukan evaluasi atas kinerja personil yang bersangkutan. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja personil diukur secara berimbang dari dua aspek: keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern. Oleh sebab itu personil harus mempertimbangkan keseimbangan antara pencapaian kinerja keuangan dan non keuangan, antara kinerja jangka pendek dan jangka panjang, serta antara kinerja yang bersifat intern dan yang bersifat ekstern jika kartu skor personil digunakan untuk merencanakan skor yang hendak diwujudkan di masa depan.

Balanced scorecard memperkenalkan empat proses manajemen yang baru, yang terbagi dan terkombinasi antara tujuan strategik jangka panjang dengan peristiwa-peristiwa jangka pendek. Keempat proses tersebut adalah (Kaplan dan Norton, 1996):

Menterjemahkan visi, misi dan strategi perusahaan.

Untuk menentukan ukuran kinerja, visi organisasi perlu dijabarkan dalam tujuan dan sasaran. Visi adalah gambaran kondisi yang akan diwujudkan oleh perusahaan di masa mendatang. Untuk mewujudkan kondisi yang digambarkan dalam visi, perusahaan perlu merumuskan strategi. Tujuan ini menjadi salah satu landasan bagi perumusan strategi untuk mewujudkannya. Dalam proses perencanaan strategik, tujuan ini kemudian dijabarkan ke dalam sasaran strategik dengan ukuran pencapaiannya.

Komunikasi dan Hubungan.

Balanced scorecard memperlihatkan kepada setiap karyawan apa yang dilakukan perusahaan untuk mencapai apa yang menjadi keinginan para pemegang saham dan konsumen karena oleh tujuan tersebut dibutuhkan kinerja karyawan yang baik. Untuk itu, balanced scorecard menunjukkan strategi yang menyeluruh yang terdiri dari tiga kegiatan:

-  Comunicating and educating

-  Setting Goals

-  Linking Reward to Performance Measures

Rencana Bisnis

Rencana bisnis memungkinkan organisasi mengintegrasikan antara rencana bisnis dan rencana keuangan mereka. Hampir semua organisasi saat mengimplementasikan berbagai macam program yang mempunyai keunggulannya masing-masing saling bersaing antara satu dengan yang lainnya. Keadaan tersebut membuat manajer mengalami kesulitan untuk mengintegrasikan ide-ide yang muncul dan berbeda di setiap departemen. Akan tetapi dengan menggunakan balanced scorecard sebagai dasar untuk mengalokasikan sumber daya dan mengatur mana yang lebih penting untuk diprioritaskan, akan menggerakkan ke arah tujuan jangka panjang perusahaan secara menyeluruh.

Umpan Balik dan Pembelajaran.

Proses keempat ini akan memberikan strategic learning kepada perusahaan. Dengan balanced scorecard sebagai pusat sistem perusahaan, maka perusahaan dapat melaukan monitoring terhadap apa yang telah dihasilkan perusahaan dalam jangka pendek, dari tiga pespektif yang ada yaitu: konsumen, proses bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan untuk dijadikan sebagai umpan balik dalam mengevaluasi strategi. Keempat proses tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

-  Memperjelas dan Menerjemahkan visi dan strategi

o  Memperjelas visi

o  Menghasilkan Konsensus

-  Merencanakan dan Me-netapkan sasaran

o  Menetapkan sasaran

o  Memadukan inisiatif strategis

o  Mengalokasikan sumber daya

o  Menetapkan tonggak-tonggak penting

-  Mengkomunikasikan dan Menghubungkan

o  Mengkominikasikan dan mendidik

o  Menetapkan tujuan

o  Mengkaitkan imbalan dengan ukuran kinerja Balanced scorecard

-  Umpan Balik dan Pembelajaran Strategis

o  Mengartikulasikan isi bersama

o  Memberikan umpan balik strategis

o   Memfasilitasi tinjauan ulang dan pembelajaran strategis

        Balanced Scorecard sebagai suatu kerangka kerja tindakan strategis

2.2.2.Tolok Ukur dalam Balanced Scorecard.

Perspektif Keuangan (finansial)

Perspektif keuangan tetap menjadi perhatian dalam balanced scorecard karena ukuran keuangan merupakan ikhtisar dari konsekuensi ekonomi yang terjadi akibat keputusan dan tindakan ekonomi yang diambil. Tujuan pencapaian kinerja keuangan yang baik merupakan fokus dari tujuan-tujuan yang ada dalam tiga perspektif lainnya. Sasaran-sasaran perspektif keuangan dibedakan pada masing-masing tahap dalam siklus bisnis yang oleh Kaplan dan Norton dibedakan menjadi tiga tahap:

Growth (Berkembang)

Berkembang merupakan tahap pertama dan tahap awal dari siklus kehidupan bisnis. Pada tahap ini suatu perusahaan memiliki tingkat pertumbuhan yang sama sekali atau peling tidak memiliki potensi untuk berkembang. Untuk menciptakan potensi ini, kemungkinan seorang manajer harus terikat komitmen untuk mengembangkan suatu produk atau jasa baru, membangun dan mengembangkan fasilitas produksi, menambah kemampuan operasi, mengembangkan sistem, infrastruktur dan jaringan distribusi yang akan mendukung hubungan global, serta mengasuh dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan. Perusahaan dalam tahap pertumbuhan mungkin secara aktual beroperasi dengan cash flow negatif dan tingkat pengembalian atas modal yang rendah. Investasi yang ditanam untuk kepentingan masa depan sangat memungkinkan memakai biaya yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah dana yang mampu dihasilkan dari basis operasi yang ada sekarang, dengan produk dan jasa dan konsumen yang masih terbatas. Sasaran keuangan untuk growth stage menekankan pada pertumbuhan penjualan di dalam pasar baru dari konsumen baru dan atau dari produk dan jasa baru.

Sustain Stage (Bertahan).

Bertahan merupakan tahap kedua yaitu suatu tahap dimana perusahaan masih melakukan investasi dan reinbestasi dengan mempersyaratkan tingkat pengembalian yang terbaik, Dalam tahap ini perusahaan berusaha mempertahankan pangsa pasar yang ada dan mengembankannya apabila mungkin. Investasi yang dilakukan umumnya diarahkan untuk menghilangkan kemacetan, mengembangkan kapasitas dan meningkatkan perbaikan operasional secara konsisten. Pada tahap ini perusahaan tidak lagi bertumpu pada strategi-stratei jangka panjang. Sasaran keuangan tahap ini lebih diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian atas investasi yang dilakukan.

Harvest (Panen).

Tahap ini merupakan tahap kematangan (mature), suatu tahap dimana perusahaan melakukan panen (harvest) terhadap investasi mereka. Perusahaan tidak lagi melakukan investasi lebih jauh kecuali hanya untuk memelihara dan perbaikan fasilitas, tidak untuk melakukan eksppansi atau membangun suatu kemampuan baru. Tujuan utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan arus kas yang masuk ke perusahaan. Sasaran keuangan untuk harvest adalah cash flow maksimum yang mampu dikembalikan dari investasi dimasa lalu.

Perspektif Pelanggan.

Pada masa lalu seringkali perusahaan mengkonsentrasikan diri pada kemampuan internal dan kurang memperhatikan kebutuhan konsumen. Sekarang strategi perusahaan telah bergeser fokusnya dari internal ke eksternal. Jika suatu unit bisnis inin mencapai kinerja keuangan yang superior dalam jangka panjang, mereka harus menciptakan dan menyajikan suatu produk atau jasa yang bernilai dari biaya perolehannya. Dan suatu produk akan semakin bernilai apabila kinerjanya semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan persepsikan konsumen (Heppy Julianto, 2000). Tolok ukur kinerja pelanggan dibagi menjadi dua kelompok (Budi W. Soejtipto, 1997):

Kelompok Inti

1). Pangsa pasar: mengukur seberapa besar pororsi segmen pasar tertentu yang dikuasai oleh perusahaan.

2). Tingkat perolehan para pelanggan baru: mengukur seberapa banyak perusahaan berhasil menarik pelanggan-pelanggan baru.

3). Kemampuan mempertahankan para pelanggan lama: mengukur seberapa banyak perusahaan berhasil mempertahankan pelangan-pelanggan lama.

4). Tingkat kepuasan pelanggan: mengukur seberapa jauh ppelanggan merasa puas terhadap layanan perusahaan.

5). Tingkat profitabilitas pelanggan: mengukur seberapa besar keuntungan yang berhasil diraih oleh perusahaan dari penjualan produk kepada para pelanggan.

Kelompok Penunjang.

1). Atribut-atribut produk (fungsi, harga dan mutu)

Tolok ukur atribut produk adalah tingkat harga eceran relatif, tingkat daya guna produk, tingkat pengembalian produk oleh pelanggan sebagai akibat ketidak sempurnaan proses produksi, mutu peralatan dan fasilitas produksi yang digunakan, kemampuan sumber daya manusia serta tingkat efisiensi produksi.

2). Hubungan dengan pelanggan

Tolok ukur yang termasuk sub kelompok ini, tingkat fleksibilitas perusahaan dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan para pelanggannya, penampilan fisik dan mut an yang diberikan oleh pramunaga serta penampilan fisik fasilitas penjualan.

3). Citra dan reputasi perusahaan beserta produk-produknya dimata para pelanggannya dan masyarakat konsumen.

Perspektif Proses Bisnis Internal.

Menurut Kaplan dan Norton 1996, dalam proses bisnis internal, manajer harus bisa mengidentifikasi proses internal yang penting dimana perusahaan diharuskan melakukan dengan baik karena proses internal tersebut mempunyai nilai-nilai yang diinginkan konsumen dan dapat memberikan pengembalian yang diharapkan oleh para pemegang saham. Tahapan dalam proses bisnis internal meliputi:

Inovasi.

Inovasi yang dilakukan dalam perusahaan biasanya dilakukan oleh bagian riset dan pengembangan. Dalam tahap inovasi ini tolok ukur yang digunakan adalah besarnya produk-produk baru, lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangan suatu produk secara relatif jika dibandingkan perusahaan pesaing, besarnya biaya, banyaknya produk baru yang berhasil dikembangkan.

Proses Operasi.

Tahapan ini merupakan tahapan dimana perusahaan berupaya untuk memberikan solusi kepada para pelanggan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Tolok ukur yang digunakan antara lain Manufacturing Cycle Effectiveness (MCE), tingkat kerusakan produk pra penjualan, banyaknya bahan baku terbuang percuma, frekuensi pengerjaan ulang produk sebagai akibat terjadinya kerusakan, banyaknya permintaan para pelanggan yang tidak dapat dipenuhi, penyimpangan biaya produksi aktual terhadap biaya anggaran produksi serta tingkat efisiensi per kegiatan produksi.

Proses Penyampaian Produk atau Jasa pada Pelanggan.

Aktivitas penyampaian produk atau jasa pada pelanggan meliputi pengumpulan, penuimpanan dan pendistribusian produk atau jasa serta layanan purna jual dimana perusahaan berupaya memberikan manfaat tambahan kepada pelanggan yang telalh membeli produknya seperti layanan pemeliharaan produk, layanan perbakan kerusakan, layanan penggantian suku cadang, dan perbaikan pembayaran.

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan.

Perspektif keempat dalam balanced scorecard mengembangkan pengukuran dan tujuan untuk mendorong organisasi agar berjalan dan tumbuh. Tujuan dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan adalah menyediakan infrastruktur untuk mendukung pencapaian tiga perspektif sebelumnya. Perspektif keuangan, pelanggan dan sasaran dari proses bisnis internal dapat mengungkapkan kesenjangan antara kemampuan yang ada dari orang, sistem dan prosedur dengan apa yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kinerja yang handal. Untuk memperkecil kesenjangan tersebut perusahaan harus melakukan investasi dalam bentuk reskilling employes. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah (Kaplan dan Norton, 1996):

Karyawan.

Hal yang perlu ditinjau adalah kepuasan karyawan dan produktivitas kerja karyawan. Untuk mengetahui tingkat kepuasan karyawan perusahaan perlu melakukan survei secara reguler. Beberapa elemen kepuasan karyawan adalah keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pengakuan, akses untuk memperoleh informasi, dorongan untuk melakukan kreativitas dan inisiatif serta dukungan dari atasan. Produktivitas kerja merupakan hasil dari pengaruh agregat peningkatan keahlian moral, inovasi, perbaikan proses internal dan tingkat kepuasan konsumen. Di dalam menilai produktivitas kerja setiap karyawan dibutuhkan pemantauan secara terus menerus.

Kemampuan Sistem Informasi.

Perusahaan perlu memiliki prosedur informasi yang mudah dipahami dan mudah dijalankan. Tolok ukur yang sering digunakan adalah bahwa informasi yang dibutuhkan mudah didapatkan, tepat dan tidak memerlukan waktu lama untuk mendapat informasi tersebut.

Keunggulan Balanced Scorecard.

Dibandingkan dengan pengukuran kinerja tradisional yang hanya mengukur kinerja berdasarkan perspektif keuangan, maka balanced scorecard memiliki beberapa keunggulan (Barbara Gunawan, 2000):

Komprehensif.

Balanced scorecard menekankan pengukuran kinerja tidak hanya aspek kuantitatif saja, tetapi juga aspek kealitatif. Aspek finansial dilengkapi dengan aspek customer, inovasi dan market development merupakan fokus pengukuran integral. Keempat perspektif menyediakan keseimbangan antara pengukuran eksternal seperti laba pada ukuran internal seperti pengembangan produk baru. Keseimbangan ini menunjukkan trade off yang dilakukan oleh manajer terhadap ukuran-ukuran tersebut untuk mendorong manajer untuk mencapai tujuan tanpa membuat trade off di antara kunci-kunci sukses tersebut melalui empat perspektif. Balanced scorecard mampu memandang berbagai faktor lingkungan secara menyeluruh.

Adaptif dan Responsif terhadap Perubahan Lingkungan Bisnis.

Pengukuran aspek keuangan tradisional melaporkan kejadian masa lalu tanpa menunjukkan cara meningkatkan kinerja di masa depan. Aspek customer, inovasi dan pengembangan, learning memberikan pedoman terhadap customer yang selalu berubah preferensinya.

Fokus terhadap tujuan perusahaan.

Adapun tujuan dan sasaran yang ingin dicapai pada setiap perspektif adalah (Barbara Gunawan, 2000):

Perspektif Keuangan.

Terwujudnya tanggung jawab ekonomi melalui penerapan pengetahuan manajemen dalam pengolahan bisnis dan peningkatan produktivitas yang dikuasai personil.

Perspektif Customer.

Terwujudnya tanggung jawab sosial sehingga perusahaan dikenal secara luas sebagai perusahaan yang akrab dengan lingkungan.

Perspektif Proses Bisnis Internal.

Terwujudnya pelipatgandaan kinerja seluruh personil perusahaan melalui implementasi.

Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan

Terwujudnya keunggulan jangka penjang perusahaan lingkungan bisnis global melalui pengembangan dan pemfokusan potensi sumber daya manusia.

III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN APLIKASI BALANCED SCORECARD

Dalam penelitian Nomura Research Institute (NRI) Papers No. 45, 1 April 2002 dikemukakan bahwa Jepang sudah beberapa tahun lalu mengintroduksikan pola kerja balance scorecard (BSC) terhadap lebih dari 20 perusahaan (Morisawa, 2002:3). Dari hasil penelitiannya, NRI dapat memberi kesimpulan bahwa berdasarkan pengalaman-pengalaman perusahaan yang menerapkan pengukuran kinerja dengan balanced scorecard tersebut merasakan bahwa balanced scorecard memang memiliki keunggulan yang dirangkum menjadi lima point sebagai berikut:

Balanced scorecard dapat digunakan untuk melakukan perbaikan keseimbangan di antara sasaran-sasaran jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Dapat menciptakan pemahaman strategi perubahan dengan menyusun atau menetapkan indikator-indikator non-finansial kuantitatif disamping indikator-indikator finansial.

Mengurangi keragu-raguan atau kekaburan dengan tetap menjaga indikator-indikator non finansial kuantitatif.

Mempromosikan proses pembelajaran organisasi melalui suatu pengulangan siklus hipotesis verifikasi.

Memperbaiki platform strategi komunikasi secara umum dalam organisasi yang mencerminkan keterkaitan antara pimpinan dan bawahan. NRI mengemukakan salah satu contoh kasus yang spektakuler tentang keberhasilan penerapan Balanced scorecard yang berimplikasi pada perbaikan kinerja perusahaan seperti yang dialami oleh perusahaan KANSAI ELECTRIC POWER CO. LTD, perusahaan terbesar kedua di Jepang yang memproduksi dan mensuplai kebutuhan listrik di Jepang. Perusahaan ini memperkenalkan cara kerja baru yang disebut “Linked Contract” yang kinerjanya diukur dengan Balanced Scorecard.

Murphy and Russel (2002:2) menemukan bahwa penggunaan Balanced Scorecard dapat menggantikan Costumer Relationship Management (CRM) Strategi, yakni suatu strategi dimana perusahaan mencoba mengelola hubungan yang baik dengan para pelanggan untuk menciptakan nilai tambah untuk para pelanggan dan untuk perusahaan itu sendiri. Hal ini ditunjukkan bahwa lebih dari setengah proyek-proyek CRM tidak menghasilkan nilai tambah apapun bagi perusahaan, dan 50% dari CRM Strategy tetap saja mengalami kegagalan dalam penerapannya di dunia bisnis, namun Balanced Scorecard dapat menggantikannya.

R. Abdul Haris dalam penelitiannya terhadap 64 BUMD di Jawa Timur menemukan bahwa kinerja BUMD tergolong baik, terutama perspektif keuangan yang seluruh indikatornya (pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, peningkatan laba dan pemanfaatan aktiva/ strategi investasi). Namun ditemukan pula adanya beberapa perspektif yang perlu dibenahi yaitu: perspektif pelanggan yakni pencapaian kuantitas produksi serta pangsa pasar yang dimiliki, perspektif proses bisnis internal yakni jaringan hubungan dengan pemasok dan pengendalian kualitas, serta perspektif pembelajaran dan pertumbuhan yakni peningkatan kinerja dan pemenuhan kebutuhan karyawan.


IV. KESIMPULAN

Dalam menilai kinerja suatu perusahaan, ukuran-ukuran keuangan saja dinilai kurang mewakili. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran keuangan memiliki beberapa kelemahan yaitu (Mulyadi, 1997): Pendekatan finansial bersifat historis sehingga hanya mampu memberikan indikator dari kinerja manajemen dan tidak mampu sepenuhnya menuntun perusahaan kearah yang lebih baik. Pengukuran lebih berorientasi kepada manajemen operasional dan kurang mengarah kepada manajemen strategis. Tidak mampu mempresentasikan kinerja intangible assets yang merupakan bagian struktur aser perusahaan.

Balanced scorecard dapat digunakan sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang lebih komprehensif dan tidak hanya bertumpu pada pengukuran atas dasar perspektif keuangan saja. Hal ini terbukti dengan adanya manfaat-manfaat yang dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang menerapkannya.

PENTINGNYA PENGETAHUAN PERPAJAKAN BAGI PENGUSAHA AGAR SUKSES MENJALANKAN RODA BISNISNYA

Jika Anda telah berhasil membangun kastil di udara, karya anda itu tidak perlu dibongkar kembali; karena berarti memang disitulah tempatnya. Sekarang bangunlah fondasi di bawahnya (Henry David Thoreau, Walden).

 

Dewasa ini, semakin banyak orang yang pindah kuadran dari kuadran kiri (Pegawai dan Perusahaan Perorangan/Tenaga Ahli) ke kuadran kanan (Entrepeneur atau Investor) dengan berbekal pengetahuan Perpajakan minim atau tidak tahu sama sekali.

Hal itu bisa kita lihat dari banyaknya Enterpreneur baru atau Investor baru yang memakai jasa konsultan pajak, baik konsultan resmi maupun konsultan freelan.

Pengetahuan Perpajakan bagi Pemilik Bisnis atau Enterpreneur, ibarat dia memakai pengungkit/leverage yang bisa mengkatrol pertumbuhan Bisnis mereka, karena dengan berbekal pengetahuan Perpajakan mereka bisa melihat peluang Bisnis atau Perusahaan atau Property yang menguntungkan dari kacamata Perpajakan khususnya sektor bisnis yang mendapat fasilitas kemudahan baik dari segi perpajakan dan dana, meskipun lokasi Bisnis atau Perusahaan atau Property jauh dari lokasi kita.

SEMAKIN BAIK KITA MEMAHAMI HUKUM PERPAJAKAKAN, kita semakin BAIK dalam MENGANALISIS INVESTASI dan BISNIS yang menguntungkan kita untuk jangka panjang.

PAJAK adalah PENGELUARAN TERBESAR yang kita bayarkan dari Semua Pengeluaran Kita sehari – hari.

Orang Kaya/Makmur dapat BERKELIT/MENGHINDAR dari PAJAK yang dikenakan kepada mereka. Untuk menghindari PAJAK Orang Kaya/Makmur BERLINDUNG DI BAWAH PERUSAHAAN/KORPORASI.

Yang tidak diketahui oleh banyak orang yang tidak pernah mendirikan Perusahaan/Korporasi adalah bahwa Sebuah Perusahaan/Korporasi BUKANLAH SESUATU YANG REAL/TERLIHAT NYATA. Korporasi hanyalah sebuah FILE FOLDER(MAP ARSIP) dengan beberapa dokumen legal didalamnya, tertumpuk di suatu kantor Pengacara yang terdaftar pada kantor Pemerintah/Negara. Ia bukanlah sebuah bangunan besar dengan nama korporasi diatasnya, pabrik/sekelompok Orang. Korporasi/Perusahaan hanyalah sebuah dokumen LEGAL yang menciptakan sebuah BADAN LEGAL TANPA JIWA.Dimana KEKAYAAN ORANG KAYA/MAKMUR DILINDUNGI. (Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant : ).

LAPORAN LABA RUGI PRIBADI

PEMASUKAN YANG TERKENA  PAJAK

PEMASUKAN

LAPORAN LABA RUGI KORPORASI/

PT PRIBADI                                                  

PENGELUARAN

PAJAK

PEMASUKAN

ASET

LIABILITIES

PEGELUARAN

PAJAK

(Disadur dari Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant : 112).

Orang kebanyakan, melakukan pembelian barang, membayar ongkos sekolah, makan, minum dan lain-lain setelah penghasilan mereka dikenakan PAJAK. Jadi hanya sedikit sisa penghasilan yang bisa dimanfaatkan untuk Investasi/Tabungan.

Pemilik Bisnis atau Investor, karena memahami dan menerapkan Hukum Pajak, melakukan pembelian barang, Rumah, Investasi, membayar ongkos sekolah, makan, minum dan biaya lainnya sebelum penghasilan mereka dikanakan PAJAK. Sehingga Aset/Investasi mereka makin bertambah seiring dengan berlalunya waktu.

Sebagaimana dikemukanan dalam uraian diatas, Perpajakan Identik dengan Melek Financial dan Ketrampilan Penting jika kita ingin berpindah dari kuadran kiri (pegawai dan Perusahaan Perorangan/Tenaga Ahli) ke kuadran kanan (Pengusaha dan Investor). Semakin banyak uang yang menjadi tanggung jawab kita, semakin dibutuhkan Pengungkit/Leverage. Pengetahuan Perpajakan merupakan salah satu Leverage/Pengungkit yang bisa menumbuhkan Bisnis/Usaha kita.

Definisi Pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH adalah :

    “ IURAN RAKYAT kepada KAS NEGARA berdasarkan UNDANG – UNDANG (yang dapat dipaksakan) dengan TANPA MENDAPAT IMBAL JASA (KONTRAPRESTASI) yang secara LANGSUNG DAPAT DITUNJUKAN dan yang DIGUNAKAN untuk MEMBAYAR PENGELUARAN UMUM/RUMAH TANGGA NEGARA”.(Rochmat Soemitro, Prof, Dr,SH, 1988 : 23).

Jadi Pajak mempunyai Unsur :

 1) Iuran dari Rakyat kepada Negara;

 2) Berdasarkan Undang-undang;

 3) Tinpa Imbal Jasa(Kontraprestasi) dari Negara yang secara Langsung dapat ditunjuk;

 4) Digunakan untuk Membayar/membiayai Pengeluaran Umum/Rumah Tangga Negara;

Informasi yang dihasilkan dari Perhitungan Pajak adalah Fakta, bukan Opini.

Kalau kita ingin berhasil di sisi kanan kuadran, yaitu kuadran B dan I, menurut Robert T Kiyosaki dalam bukunya yang best seller ” Cash Flows Quadrant”, kita harus tahu perbedaan antara Fakta dan Opini. Kita tidak bisa begitu saja menerima saran financial seperti yang dilakukan orang-orang di sisi kiri kuadran, sisi E dan S. Kita harus tahu ANGKA-ANGKANYA, FAKTA-FAKTANYA. Dan ANGKA memberitahu kita FAKTA-FAKTANYA. Keselamatan financial kita tergantung pada FAKTA, bukan pada opini bertele-tele seorang teman atau penasehat. (Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant :90).

Kebanyakan orang mengalami kesulitan financial karena mereka menghabiskan hidup mereka menggunakan OPINI dan bukan FAKTA ketika membuat keputusan financial, seperti opini rumah adalah aset, nilai real estate selalu naik, saham blue chip adalah investasi terbaik kita, dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang, saham selalu mengalahkan real estate, emas adalah aset. (Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant : 91).

Pengetahuan Perpajakan merupakan syarat agar kita berhasil di kuadran kanan. Dengan pemahaman yang mendalam tentang perpajakan, orang kaya bisa menggunakan Peraturan Pepajakan yang dipadukan dengan Pengetahuan Hukum Koorporasi, dan Treatmen Akuntansi, orang kaya bisa menumbuhkan dan mengamankan Aset/Bisnis yang sudah dirintisnya. Dalam kenyataan, satu-satunya hal yang merupakan aset atau liabilitas adalah diri kita sendiri, karena akhirnya kitalah yang membuat emas sebagai aset dan liabilitas.

Banyak orang tertipu karena mereka tidak mengetahui FAKTANYA.

Berjuta-juta orang telah membuat keputusan hidup berdasarkan opini yang diturunkan dari generasi ke generasi .. dan kemudian meraka bertanya mengapa mereka mengalami kesulitan financial. Sebagian besar hidup orang ditentukan oleh opini mereka, bukan oleh fakta. (Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant :93 ).

Semakin makmur dan maju suatu negara, semakin rumit peraturan perpajakannya dan semakin mendukung atau memihak para pemilik modal, karena para pemilik modal akan menanamkan investasinya ke negara yang rendah pajaknya dan mudah birokrasinya serta ada insentif dalam penanaman modal, khususnya di bidang perpajakan.

Para Pengusaha yang sukses pada umumnya tahu dan paham tentang Pajak, terutama Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai(PPN). Mereka mahir dalam membuat Perencanaan Pajak dan membaca fakta-fakta yang diwakili oleh angka-angka  hasil Perhitungan Pajak terhadap Bisnis/Usaha mereka.

Para Pengusaha yang sukses selalu menekankan pentingnya Kecerdasan Fiancial. Untuk bisa beroperasi di sisi kanan kuadran atau menjadi B dan I, Mereka harus bisa mengendalikan ke arah mana cash flow mereka mengalir. (Robert Kiyosaki, 2001, Cash Flow Kudrant :80).

Meningkatkan pengetahuan financial seorang Pengusaha atau Wirausahawan, khususnya pengetahuan Perpajakan, mengurangi resiko seorang Pengusaha atau Wirausahawan dan meningkatkan perolehan investasi-investasi seorang Pengusaha atau Wirausahawan.

Di era Informasi ini, negara-negara maju dan berkembang saling berlomba untuk menarik Investor untuk menanamkan modal ke negaranya dengan cara mengurangi tarif pajak, membebaskan bea masuk dan memudahkan prosedur Investasi serta memberikan fasilitas perpajakan kepada para Investor yang mau menanamkan modal ke negaranya.

Pada umumnya para pemilik modal menanamkan modalnya ke negara-negara yang memberlakukan tarif pajak rendah, mudah birokrasinya serta ada jaminan kepastian hukum dan fasilitas kemudahan perpajakan.

Biasanya para pemilik modal mempekerjakan konsultan pajak untuk mengurus masalah perpajakan di suatu negara yang ia akan tuju untuk menanamkan modalnya. Konsultan tersebut bisa konsultan resmi, maupun mereka merekrut seseorang untuk dijadikan karyawan yang mahir untuk masalah pajak di negara yang akan ia tuju menanamkan modalnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengamankan aset/investasinya di negara yang bersangkutan, selain dengan asuransi.

Pajak-pajak dari Pemerintah Pusat yang diterapkan di Indonesia terdiri dari :

1)   Pajak Penghasilan (PPh);

2)   Pajak Pertambahan Nilai (PPN);

3)   Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM);

4)   Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);

5)   Fiskal Luar Negeri;

6)   Bea Materai;

7)   Bea Masuk Import.

Definisi Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Pajak Penghasilan dibagi lagi menurut jenis penghasilan, wajib pajak dan lokasi penghasilan tersebut diperoleh. Pajak penghasilan terbagi menjadi :

a)    Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Psl 21);

b)   Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh Psl 22);

c)    Pajak Penghasilan Pasal 23 (PPh Psl 23);

d)   Pajak Penghasilan Pasal 24 (PPh Psl 24);

e)    Pajak Penghasilan Pasal 25 (PPh Psl 25);

f)     Pajak Penghasilan Pasal 26 (PPh Psl 26);

g)   Pajak Penghasilan Pasal 29 (PPh Psl 29).

          Definisi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) yang dilakukan di daerah pabean dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh pengusaha yang menghasilkan Barang Kena Pajak (BKP), mengimport BKP, mempunyai hubungan istimewa dengan pengusaha yang menghasilkan BKP dan pengusaha yang mengimport BKP, bertindak sebagai penyalur utama atau agen utama pengusaha yang menghasilkan BKP dan pengusaha yang mengimport BKP, menjadi pemegang hak atau pemegang hak menggunakan paten dan merek dagang dari BKP, Penyerahan BKP kepada pengusaha kena pajak (PKP) yang dilakukan di daerah pabean dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh pengusaha yang memilih untuk dikukuhkan menjadi PKP, Import BKP dan Jasa Kena Pajak (JKP), dan Penyerahan Jasa Kena Pajak.

          Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM) didefinisikan ” pajak yang dikenakan atas Penyerahan BKP yang tergolong mewah yang dilakukan oleh Pengusaha yang menghasilkan BKP yang tergolong mewah di dalam daerah pabean dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya, dan Import BKP yang tergolong mewah.

          Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dikenakan atas bumi, yaitu permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya dan/atau bangunan, yaitu konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan.

Fiskal Luar Negeri didefinisikan adalah pajak penghasilan yang dipungut atas orang pribadi yang bertolak ke luar negeri yang dilakukan oleh unit pelaksana Fiskal Luar Negeri di pelabuhan atau tempat pemberangkatan yang dapat dikreditkan ke kewajiban pajak wajib pajak yang bersangkutan.

          Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen, yaitu kertas yang berisikan tulisan yang mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan atau kenyataan bagi seseorang dan/atau pihak-pihak yang berkepentingan.

Bea Masuk Import adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang yang diimport, yaitu barang yang dimasukkan ke dalam daerah pabean Indonesia.

          Perencanaan pajak adalah analisa sistematik atas alternatif-alternatif besarnya pajak yang dibebankan dengan tujuan meminimalkan kewajiban pajak saat ini dan periode pajak mendatang(Cumbley D Larry, Friedmen Jack P, Anders Susan B, 1994).

Prof Dr H Mohammad Zain, Drs, Ak dalam bukunya Manajemen Perpajakan Edisi 3 menyatakan bahwa ”Perencanaan pajak adalah suatu proses yang mendeteksi cacat teoritis dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersebut, untuk kemudian diolah sedemikian rupa sehingga ditemukannya suatu cara penghindaran pajak yang dapat menghemat pajak akibat cacat teoritis tersebut”(Mohammad Zain, Prof. Dr, Drs.Ak, Manajemen Perpajakan Edisi 3, 2007 : 54).

Perencanaan Pajak Perusahaan Nasional

Dalam perencanaan pajak di Perusahaan Nasional, yang sering dilakukan adalah :

Ø  Penghindaran tarif pajak tertinggi, baik dengan memanfaatkan bunga, investasi, maupun arbitrase kerugian serta mengusahakan penghasilan yang stabil;

Ø  Percepatan dan penundaan pengakuan pendapatan(terutama untuk PPN) dan biaya-biaya untuk memperoleh keuntungan dari kemungkinan perubahan tarif pajak yang tinggi atau rendah;

Ø  Alokasi pajak ke beberapa Wajib Pajak maupun Tahun Pajak dengan cara menyebarkan penghasilan menjadi penghasilan beberapa wajib pajak dan menyebarkan penghasilan menjadi penghasilan beberapa tahun untuk mencegah penghasilan tersebut termasuk dalam kelas penghasilan yang tarif pajaknya tinggi;

Ø  Penangguhan pembayaran pajak;

Ø  Tax exclusive maximization(misalnya dengan pengaturan tempat melakukan jasa);

Ø  Transformasi pendapatan yang terkena pajak ke pendapatan yang tidak terkena pajak seperti mentransformasikan penghasilan biasa menjadi capital gain jangka panjang;

Ø  Tranformasi beban yang tidak boleh dikurangi pajak ke beban-beban yang boleh dikurangi pajak;

Ø  Mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari ketentuan-ketentuan mengenai pengecualian dan potongan-potongan;

Ø  Penciptaan maupun percepatan beban-beban yang boleh dikurangi pajak;

Ø  Menentukan tambahan modal dan/atau penggantian aset dengan meminimalkan pembayaran pajak atau menangguhkan pembayaran pajak;

Ø  Menggunakan uang hasil pembebasan pengenaan pajak untuk keperluan perluasan perusahaan yang mendapatkan kemudahan-kemudahan;

Ø  Memilih bentuk usaha terbaik untuk operasional usahanya;

Ø   Mendirikan perusahaan dalam satu jalur usaha sedemikian rupa, sehingga dapat diatur secara keseluruhan penggunaan tarif pajak, potensi menghasilkan, kerugian-kerugian dan aset yang dapat dihapus.

Perencanaan Pajak Perusahaan Multinasional

Dalam perencanaan pajak di Perusahaan Multinasional biasanya dikaitkan dengan tujuan manajemen perusahaan multinasional yang meliputi :

a)    Untuk menjamin agar sasaran yang dilaksanakan oleh unit-unit perusahaan multinasional sejalan dengan pencapaian sasaran dari induk perusahaan multinasional secara keseluruhan;

b)   Untuk mengarahkan para manajer unit-unit perusahaan multinasional dalam rangka pengambilan keputusannya seirama dengan tujuan induk perusahaan multinasional, agar tercapai efesiensi dalam alokasi sumber daya, baik antar unit maupun dalam masing-masing unit;

c)    Terdapat ukuran yang seragam untuk menilai prestasi dari semua unit-unit perusahaan multinasional yang bersangkutan;

d)   Untuk memudahkan terlaksananya komunikasi yang paling efektif antar seluruh unit perusahaan multinasional dan induk perusahaan multinasional.

Pada dasarnya perencanaan pajak perusahaan multinasional dilakukan memalui penghindaran pajak(tax avoidance) yang sangat tergantung pada keputusan manajemen tentang proses strategis perencanaan, sistem pengendalian manajemen dan evaluasi kinerja perusahaan multinasional.

Suatu sistem informasi perencanaan pajak dimaksudkan untuk mengurangi beban pajak global yang dibayar oleh perusahaan multinasional.

Prosedur yang lajim dilakukan dalam sistem informsi perencanaan pajak di perusahaan multinasional adalah :

(1)  Menetapkan sasaran perencanaan pajak dalam operasional perusahaan multinasional;

(2)  Mendelegasikan pertanggungjawaban perencanaan pajak tersebut, baik di tingkat pusat/perusahaan induk maupun cabang/anak perusahaan;

(3)  Menentukan operasi yang mana yang akan berdampak terhadap pengenaan pajak, bagaimana dan berapa besar dampak pajaknya;

(4)  Memberikan informasi yang diperlukan bagi penyusunan perencanaan pajak kepada perencana pajak dan para pengambil keputusan;

(5)  Mengevaluasi dampak perencanaan pajak tersebut terhadap strategi perencanaan dan sistem pengendalian manajemen;

(6)  Menentukan berapa harga transfer yang dipilih untuk barang dan jasa yang ditransfer melewati batas negara;

(7)  Penggunaan jenis atau bentuk perusahaan yang dipilih agar beban pajak yang ditanggung minimal dan dapat ditangguhkan

(8)  Memilih negara yang mempunyai kemudahan dan memberikan insentif perpajakan(tax heaven) sebagai tempat untuk Kantor Operasional, Kantor Induk perusahaan(Holding Company), Kantor Pemasaran dan kantor cabang atau anak perusahaan.

PPROBITY AUDIT PENGADAAN BARANG/JASA SEBAGAI SALAH SATU SOLUSI BAGI MANAJEMEN PUNCAK PEMERINTAHAN DALAM MENGEVALUASI KEBERHASILAN PEMBANGUNAN DAN TERWUJUDNYA GOOD GOVERMENT GOVERNANCE SERTA SALAH SATU ALTERNATIF TERBAIK DALAM PENCEGAHAN KORUPSI

 

Latar belakang dicetuskannya Probity Audit Pengadaan Barang/Jasa adalah karena makin maraknya kasus korupsi yang terungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti kasus Kementerian Pemuda dan Olah Raga atau Duren mentong, kasus najarudin yang sedang hangat-hangatnya atau apel malang dan apel washington, kasus Kementerian Kesehatan atau buah semangka, dan rehabilitas WC Gedung DPR dan pengadaan kursi Gedung DPR. Sehingga timbul pertanyaan apakah audit yang selama ini dilakukan oleh Aparat pengawasan baik aparat pengawasan internal (APIP) maupun aparat pengawasan eksternal (BPK RI) dalam bentuk audit pernyataan pendapat atas laporan keuangan, audit kinerja dan audit dengan tujuan tertentu telah berjalan efektif, bermutu serta sanggup mendeteksi secara dini kasus2 tersebut diatas? Integritas auditor dalam masalah ini dipertaruhkan, karena auditor dituntut agar dapat melaksanakan tugasnya secara jujur, teliti, bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh, dapat menunjukkan kesetiaan dalam segala hal yang berkaitan dengan profesi dan organisasi dalam melaksanakan tugas, dan dapat mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan dan mengungkapkan segala hal yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan dan profesi yang berlaku.  Jika belum, apa solusinya?

Selain itu, Berdasarkan penelitian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih dari 70,00 % kasus korupsi bersal dari pengadaan badang/jasa dan 90,00% kasus penyimpangan pengadaan barang/jasa terjadi pada tahap Perencanaan. Saat ini KPK sedang menangani kasus Tindak Pidana Korupsi yang melibatkan sedikitnya 176 Gubernur/Walikota/Bupati se-Indonesia. 

Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi Tahun 2011, Indonesia menempati posisi 100 dengan nilai 3,00. Negara 10 besar indeks persepsi korupsi adalah berturut-turut New Zealand dengan nilai 9,500, Denmark 9,40, Finlandia 9,40, Swedia 9,30, Singapura 9,20, Norwegia 9,00, Belanda 8,90, Australia 8,80, dan Swis 8,80. Dan timbul pertanyaan mengapa ke 10 negara tersebut dapat bersih dari korupsi? Apa yang dilakukan oleh negara2 tersebut?

Negara2 tersebut diatas bersih dari korupsi karena melakukan 4 (empat) hal yaitu mengimplementasikan dan menerapkan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP), melakukan pengawasan intern yang efektif, melakukan pengawasan pengadaan barang/jasa sejak perencanaan sampai dengan pemanfaatan, dan mendirikan KPK. Dan pada negara2 tersebut melakukan Probity Audit untuk negara Australia dan Negara2 Persemakmuran,serta Pre-Award Audit & Contract Audit untuk negara Amerika dan negara2 yang dipengaruhinya.

Sebelum membahas pengertian Probity Audit, kita terlebih dulu mengetahui arti dari kata Probity.  Probity diartikan sebagai integritas (integrity), kebenaran (uprightness), dan kejujuran (honesty).Probitypengadaan barang/jasa adalah GOOD PROCESS, yaitu prinsip-prinsip penegakan integritas, kebenaran, dan kejujuran untuk memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku.

Probity Audit didefinisikan “penilaian (independen) untuk memastikan bahwa proses pengadaan barang/jasa telah dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan prinsip penegakan integritas, kebenaran, dan kejujuran dan memenuhi ketentuan perundangan berlaku yang bertujuan meningkatkan akuntabilitas penggunaan dana sektor publik”.

Pengaruh Probity Audit atau Pre-Award Audit terhadap penghematan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tahun Anggaran

Penghematan Pengadaan Barang/Jasa

Total

Pre-Award audit

Post-Award audit

juta dolar

%

juta dolar

%

juta dolar

%

1999

32,7

76,22

10,2

23,78

42,9

100,00

2000

20,2

77,39

5,9

22,61

26,1

100,00

2001

17,1

41,20

24,4

58,80

41,5

100,00

2002

22,6

47,48

25,0

52,52

47,6

100,00

2003

58,2

70,55

24,3

29,45

82,5

100,00

Total

150,8

62,68

89,8

37,32

240,6

100,00

Sumber: Further Efforts Needed to Sustain VA’s Progress in Purchasing Medical Products and Services, GAO:Juni 2004

Probity Audit bertujuan untuk memastikan bahwa pengadaan barang/jasa dilakukan secara 8 (delapan) BENAR (butuh, jumlah, kualitas, waktu, nilai, lokasi, manfaat, pertanggungjawaban) dan menguntungkan negara, taat prosedur (Perpres 54 Th 2010), mencegah penyimpangan proses pengadaan, dan mengidentifikasi kelemahan Sistem Pengendalian Intern & penyempurnaan atas Sistem pengendalian intern tersebut. Disamping tujuan tersebut diatas, tujuan probity audit juga adalah untuk menyakinkan Proses PBJ Telah Sesuai Ketentuan yang Mengaturnya, memastikan Proses PBJ Mampu Melindungi Pihak-Pihak Berkepentingan, memastikan Penawaran yang Masuk Dinilai Berdasarkan Kriteria yang Sama, memelihara Tingkat Kepercayaan Publik dan Peserta Tender, meyakinkan Keputusan yang Dibuat Terhindar dari Tuntutan Hukum,  dan menciptakan Akuntabilitas dalam Proses  PBJ.

Probity Audit Pengadaan Barang/Jasa merupakan Audit Tujuan Tertentu berdasarkan penjelasan Pasal 4 (4) UU No.15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara). Audit dengan Tujuan Tertentu untuk Menilai Ketaatan terhadap Ketentuan Pengadaan Barang/Jasa, berupa audit yang dilaksanakan dengan pendekatan probity untuk memastikan bahwa seluruh ketentuan telah diikuti dengan Benar, Jujur dan Berintegritas, sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan dalam proses Pengadaan Barang/Jasa. Dan Probity Audit dilaksanakan selama Proses Pengadaan Barang/Jasa Berlangsung (Real Time) yang  dilakukan saat proses Pengadaan Barang/Jasa sedang berlangsung dan/atau segera setelah proses Pengadaan Barang/Jasa selesai.

Prioritas Probity Audit adalah untuk paket pekerjaan yang risiko tinggi dan bersifat kompleks dan/atau  di atas Rp100 milyar, latar belakang yang kontroversial /permasalahan hokum, sangat sensitif secara politis, berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, kepentingan masyarakat luas, pelayanan dasar masyarakat, dan nilai paket pekerjaan relatif besar.

Standar Audit Probity Audit adalah PerMENPAN Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008) tanggal 31 Maret 2008, meliputi:Standar Umum, Standar Koordinasi dan Kendali Mutu, Standar Pelaksanaan, Standar Pelaporan, dan Standar Tindak Lanjut.

Metodologi Probity sebagai berikut :

Output dari Probity Audit adalah berupa Laporan Hasil Audit (LHA) atas pengadaan barang/jasa yang menyajikan informasi mengenai hasil penilaian atas kondisi pengadaan barang/jasa yang diaudit, ditinjau dari prinsip-prinsif efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel. Sedangkan outcomenya yaitu Pengambilan keputusan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Direksi BI/BHMN/BUMN/BUMD/Badan Usaha Lainnya dalam rangka memperbaiki perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan pengadaan barang/jasa.

Laporan Hasil Audit memberikan informasi yang obyektif kepada pihak terkait mengenai kegiatan pengadaan barang/jasa pada K/L/D/I, BI/BHMN/BUMN/BUMD dan Badan Usaha Lainnya, Menyajikan hasil penilaian atas kondisi pelaksanaan pengadaan barang/jasa pada K/L/D/I, BI/BHMN/BUMN/BUMD dan Badan Usaha Lainnya, ditinjau dari prinsip-prinsip efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel, serta memberikan rekomendasi perbaikan, dan menyajikan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka memperbaiki perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan pengadaan barang/jasa yang lebih efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan akuntabel.

Probity Audit adalah audit yang dilakukan secara real time oleh auditor independen pada seluruh tahapan pengadaan barang/jasa yang dimulai dari tahap perencanaan pengadaan barang/jasa, persiapan pemilihan penyedia barang/jasa, pemilihan penyedia barang/jasa, pelaksanaan kontrak, penyerahan barang/jasa, penatausahaan barang/jasa, dan pemanfaatan barang/jasa untuk menilai integritas (integrity), kebenaran (uprightness), dan kejujuran (honesty)  meyakinkan bahwa pengadaan barang/jasa telah efesian dan efektif yang merupakan best value of money, transparan, terbuka, adil/tidak diskriminatif, bersaing, akuntabel, dan bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest). Sehingga proses pengadaan barang/jasa kredibel dan terhindar dari korupsi.

Resiko yang dihadapi dalam probity audit adalah :

Sedangkan modus penyimpangan pengadaan barang/jasa adalah :

 

Implementasi probity audit pada tahap perencanaan dan persiapan pengadaan barang/jasa adalah sebagai berikut :

 

Implementasi probity audit pada tahap pemilihan penyedia barang/jasa adalah sebagai berikut :

Implementasi probity audit pada tahap pelaksanaan kontrak adalah sebagai berikut :

Dan terakhir Implementasi probity audit pada tahap pemanfaatan barang/jasa adalah sebagai berikut :

 

Dengan diimplementasikannya atau dilaksanakannya probity audit oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah,  maka diharapkan akan bermanfaat bagi Manajemen Puncak Pemerintahan baik presiden, Gubernur maupun Walikota/Bupati dalam mengevaluasi keberhasilan pembangunan, terwujudnya Good Government Governance, dan bisa mencegah praktek korupsi, disamping itu manfaat probity audit adalah sebagai berikut:

  • Tujuan dan pandangan Independen terhadap prinsip uprightness/honesty/Integrity dalam Proses Pengadaan Barang/Jasa telah terpenuhi,
  • Menghindari Terjadinya Konflik Kepentingan,
  • Meningkatkan Integritas Sektor Publik melalui Perubahan Pengorganisasi dan Perilaku,
  • Meyakinkan Publik dan Pelaku Usaha Sektor Publik bahwa Proses dan Hasil Pengadaan Barang/Jasa Dapat Dipercaya
  • Meminimalkan Kemungkinan Terjadinya Proses Pengadilan yang Timbul karena Proses Pengadaan Barang/Jasa.

PEMBENTUKAN KAPASITAS PRIBADI LEWAT Emotional Spiritual Quotient (ESQ) MODEL

Definisi, Emosional Spiritual Quotient (ESQ) Model adalah Model Kemampuan seseorang untuk memberi Makna Spiritual terhadap Pemikiran, Prilaku/Ahlak dan Kegiatan, serta Mampu Menyinergikan IQ (Intelegent Quotient) yang terdiri dari IQ Logika/Berpikir dan IQ Financial/Kecerdasan memenuhi kebutuhan hidupnya/keuangan, EQ (Emosional Quotient) dan SQ(Spiritual Quotient) secara KOMPREHENSIF

Contahnya, model ESQ seseorang dalam kehidupan nyata adalah Badu bekerja di Perusahaan Otomotif sebagai BURUH. Tugasnya memasang & mengencangkan baut pada Jok Pengemudi. Tugas Rutin yg sdh dilakukan hampir 10 thn . Karena PENDIDIKAN hanya SLTP, sulit baginya meraih posisi Puncak. Menurut Badu Memasang & mengencangkan Baut pada Jok Pengemudi BUKAN Pekerjaan yang membosankan, Tetapi PEKERJAAN yang MULIA, karena Dia telah menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil – mobil. Dia mengencang kuatkan seluruh kursi Pengemudi yang Mereka duduki, sehingga mereka sekeluarga selamat. Badu bekerja begitu giat, sedang upahnya tidak besar dan dia tidak melakukan mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah, Karena Dia memahami keadaan ekonomi sulit dan perusahaan terkena imbas dan memahami keadaan Pimpinan Perusahaan yang sedang dalam Kesulitan. Kalau saya mogok kerja hanya akan memperberat masalah Perusahaan. Badu BEKERJA dengan PRINSIP MEMBERI, bukan untuk Perusahaan namun lebih kepada PENGABDIAN KEPADA TUHAN nya.

Agar tercipta HUBUNGAN YANG SEIMBANG antara HUBUNGAN MANUSIA dengan MANUSIA dan HUBUNGAN MANUSIA dengan TUHAN, maka DIPERLUKAN suatu POLA PEMAHAMAN dan PENGAMALAN yang sesuai dengan FITRAH MANUSIA sebagaimana Hadist ROSULULLAH SAW, yaitu “Bukanlah sebaik-baik kamu orang yang bekerja untuk dunianya saja tanpa akhiratnya, dan tidak pula orang-orang yang bekerja untuk akheratnya saja dan meninggalkan dunianya. Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya kamu adalah orang yang bekerja untuk akhirat (Tuhan) dan untuk Dunia”. Pola Pemahaman dan Pengamalan itu adalah ESQ MODEL atau Pola Hidup berdasarkan PRINSIP KESEIMBANGAN antara KEPENTINGAN Akherat dan Dunia (ISLAMI).

Howard Chandler Christy, menyatakan bahwa ”Setiap pagi saya menghabiskan lima belas menit untuk mengisi pikiran saya khusus untuk Tuhan. Dan dengan demikian tiada ruang kosong untuk berpikir cemas”.

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi ketika ditimpa malapetaka mereka banyak berdoa(Fushshilat : 51).

Marian Anderson berkata ”Doa berawal ketika kemampuan manusia berakhir”.

Sedangkan Gary Gulbranson pernah berujar bahwa ”Tuhan lebih memperhatikan siapa diri anda daripada apa yang anda kerjakan, dan Dia lebih memperhatikan apa yang anda kerjakan dari pada di mana anda mengerjakannya”.

Karena itu, ingatlah kamu kepada – Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada – Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat – Ku(Al – Baqarah : 152).

J A Spender berkata ”Takut kepada Tuhan ya, tetapi janganlah ketakutan kepada – Nya”.

Dan Iqbal pernah berkata bahwa ”Menyembah Tuhan Yang Esa (meskipun sulit) akan menyelamatkanmu dari menyembah tuhan-tuhan lainnya. Angkatlah diri anda ke tingkat yang Tuhan sendiri memintanya dari anda sesuai dengan yang anda inginkan sebelum menulis takdir anda”.

…. Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu … (Al – Ankabut : 17).

Tiada Tuhan selain Dia, hanya kepada – Nya aku bertawakal … (At – Taubah : 129).

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah – lah hati menjadi tentram(Ar – Ra’d : 28).

… Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur(Ali – Imran : 144).

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat – Ku, maka sesungguhnya adzab – Ku sangat pedih(Ibrahim : 7).

Dan Benjamin Franklin mengungkapkan bahwa ”Bekerjalah seolah-oleh engkau akan hidup seratus tahun lagi; Berdoalah seolah-olah engkau akan meninggal esok hari”.

Pola Pemahaman dan Pengamalan ESQ Model adalah dengan memahami dan mengamalkan Konsep Ikhsan, Iman dan Islam.

Ikhsan adalah BERIBADAHLAH/BERAMALLAH KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA SEAKAN  – AKAN ENGKAU MELIHAT  – NYA, DAN SEANDAINYA ENGKAU TIDAK DAPAT MELIHAT – NYA, ENGKAU YAKIN BAHWA DIA MELIHATMU (HR . Bukhari Muslim).

Iman yaitu Yakin dan percaya kepada Allah(Star Principle),kepada Malaikat (Angel Principle), kepada Rosul (Leadership Principle), kepada Kitab Allah (Learning Principle), kepada Hari Akhir (Vision Principle), kepada Qodho dan Qhodar Allah (Well Organized Principle).

Islam adalah mengucapkan 2 (dua) Kalimat Syahadat (Mission Statement), Sholat (Character Building), Puasa (Self Controlling), Zakat (Strategic Collaboration), Haji (Total Action).

Syarat untuk dapat mengaplikasikan KONSEP ESQ MODEL atau KONSEP IKHSAN, RUKUN IMAN dan RUKUN ISLAM adalah HATI KITA(GOD SPOT) harus FITRAH(BERSIH DARI SEGALA BELENGGU) atau ZERO MIND PROCESS(ZMP).

Belenggu-belenggu Suara Hati adalah :

1.   PRASANGKA atau DUGAAN

“ Kebanyakan mereka hanya mengikuti PRASANGKA/DUGAAN semata. Sungguh, Prasangka/Dugaan tiada berguna sedikitpun melawan Kebenaran. Sungguh, ALLAH mengetahui segala yang mereka lakukan”.(Q S Yunus : 36)

Oleh karena itu, hindarilah selalu BERPRASANGKA buruk, upayakan berprasangka BAIK kepada orang lain.

2.   PRINSIP/PEDOMAN/ATURAN/PAHAM/AJARAN HIDUP

“ Perumpamaan orang yang mengambil selain ALLAH sebagai PELINDUNG adalah seperti laba-laba yang membuat rumah untuk dirinya sendiri. Tetapi sebenarnya Rumah laba-laba itu adalah serapuh-rapuhnya rumah, jika mereka tahu”.(Q S Al – Ankabuut : 41)

Oleh sebab itu, Berprinsiplah selalu kepada ALLAH YANG MAHA ABADI.

3.   PENGALAMAN

“ Dalam hatinya ada penyakit(dari PENGALAMAN) dan ALLAH menambah penyakitnya itu. Mereka beroleh azab yang pedih menyakitkan, disebabkan karena mereka berdusta”. (Q S Al – Baqarah : 10)

Maka, bebaskan diri kita dari pengalaman- pengalaman yang membelenggu pikiran, dan berpikirlah merdeka.

4.   KEPENTINGAN/PRIORITAS

“ Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada ALLAH. Hendaklah setiap orang memperhatikan perbuatan apa yang telah dilakukannya, sebagai PERSEDIAAN untuk HARI ESOK. Bertakwalah kepada ALLAH. Sungguh, ALLAH tahu benar apa yang kamu lakukan”. (Q S Al – Hasyr : 18)

Oleh sebab itu, dengarlah SUARA HATI, peganglah Prinsip Karena Allah, berpikirlah MELINGKAR, sebelum menentukan KEPENTINGAN & PRIORITAS.

5.   SUDUT PANDANG

“ Hai orang-orang yang beriman! Taatlah Kepada ALLAH, dan taatlah kepada RASUL, dan ORANG – ORANG YANG BERKUASA diantara kamu. Dan bila kamu berselisih tentang SESUATU di kalanganmu sendiri, hendaklah kamu MENGEMBALIKANNYA kepada ALLAH dan RASUL. Jika kamu berman kepada ALLAH dan HARI KEMUDIAN, Itu lebih baik dan PENYELESAIAN yang paling INDAH”. (Q S An- Nisaa : 59)

Oleh karena itu, maka lihatlah dari semua SUDUT PANDANG secara BIJAKSANA, dan berdasarkan semua SUARA HATI yang bersumber dari ASMAUL HUSNA.

6.   PEMBANDING

“ Tetapi mereka tiada pengetahuan tentang itu. Mereka hanya mengikuti Dugaan /PEMBANDING BELAKA. Tetapi DUGAAN/PEMBANDING sungguh tiada berguna sedikitpun untuk mencapai KEBENARAN”. (QS An – Najm : 28).

Sedangkan Albert Einstein pernah berkata, bahwa “ SUATU PERMASALAHAN TIDAK DAPAT DIPECAHKAN DENGAN SUATU PEMIKIRAN YANG TERCIPTA, KETIKA PERMASALAHAN ITU TERJADI”.

Karena itu, periksalah pikiran kita terlebih dahulu sebelum MENILAI segala sesuatu, jangan melihat SESUATU karena PIKIRAN kita, tetapi LIHATLAH SESUATU karena apa ADANYA.

7.   LITERATUR

 “ Tidaklah orang-orang kafir itu dating kepadamu (membawa) SESUATU YANG GANJIL, melainkan kami datangkan kepadamu SUATU YANG BENAR dan YANG PALING BAIK PENJELASANNYA”. (Q S AL- Furqaan : 33)

Maka dari itu, janganlah kita TERBELENGGU oleh LITERATUR – LITERATUR, berpikirlah dengan MERDEKA, jadilah orang yang BERHATI “ UMMI”.

Dengan membebaskan diri kita dari belenggu-belenggu yang mengganggu dan menghambat pengembangan potensi diri kita, seperti belenggu prasangka negative, belenggu prinsip-prinsip hidup yang menyesatkan, belenggu pengalaman yang mempengaruhi pemikiran kita, belenggu kepentingan dan prioritas yang egois, belenggu sudut pandang yang sempit, belenggu pembanding-pembanding yang bersifat Subyektif dan belenggu literature yang menyesatkan, kita akan menjadi orang yang merdeka dan orang yang berhati fitrah atau bersih yang siap menerima sifat Ketuhanan atau Asmaul Khusna. Spiritual Quotient (SQ) yang dihasilkan dari pemahaman dan pengamalan prinsip Ikhsan, dengan menerima sifat Ketuhanan atau Asmaul Khusna melahirkan 7 (tujuh) Core Values,  yaitu :

-        Jujur, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Mukmin;

-        Tanggung Jawab, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Wakill;

-        Disiplin, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Matiin;

-        Kerja Sama, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Jaami”;

-        Adil, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Adl;

-        Visioner atau Pendangan/Wawasan Jauh ke Depan, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah Al Akhir;

-        Peduli, yang merupakan pengabdian manusia pada sifat Allah As Sami dan Al Bashi.

Emotional Quotient (EQ) adalah kecerdasan emosi seseorang bila berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, seperti inisiatif, ketangguhan, optimism, kemampuan beradaptasi seseorang dll. Emotional Quotient (EQ) dapat dibangun dan dikembangkan kemampuannya lewat ESQ (Emotional Spiritual Quotient) Model, yaitu dengan memahami dan mengamalkan rukun iman dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Pertama, yaitu Iman kepada Allah atau Star Prinsiple adalah :

*      Kita akan lebih bijaksana dalam berhubungan dengan orang lain dan alam semesta;

*      Kita akan mempunyai Integritas berupa kegigihan dalam bekerja dan mempunyai kemampuan dalam bidang keahliannya;

*      Kita akan mempunyai rasa aman atas setiap apa yang kita kerjakan;

*      Kita akan mampu beradaptasi menghadapi situasi yang terus berubah;

*      Kita akan mempunyai kepercayaan diri yang besar;

*      Kita akan mempunyai Instuisi yang tajam;

*      Kita akan mempunyai sumber motivasi yang tidak akan luntur.

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Kedua, yaitu Iman kepada Malaikat Allah atau Angel Prinsiple adalah :

*      Kita akan mampu bekerja dengan sebaik-baiknya, sepenuh hati, memiliki kesetiaan yang tiada tara, bekerja tanpa kenal lelah dan tidak memiliki kepentingan lain selain menyelesaikan pekerjaan yang diberikan hingga tuntas;

*      Kita akan memiliki Integritas dan Loyalitas (Kesetiaan) yang tinggi;

*      Kita akan memiliki komitmen (pegang janji) yang tinggi;

*      Kita akan memiliki saling percaya yang tinggi kepada sesama manusia;

*      Kita akan memiliki kegigihan dalam berusaha (Kausalitas upaya) untuk mendapatkan hasil kerja yang maksimal atau baik.

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Ketiga, yaitu Iman kepada Rosul Allah atau Leadership Prinsiple adalah :

*      Kita akan mampu menjadi pemimpin yang dicintai;

*      Kita akan mampu menjadi pemimpin yang dipercaya;

*      Kita akan mampu menjadi pemimpin sekaligus pembimbing;

*      Kita kan mampu menjadi pemimpin yang berkepribadian;

*      Kita akan mampu menjadi pemimpin yang abadi, seperti Rusulullah Muhammad SAW

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Keempat, yaitu Iman kepada Kitab Allah atau Learning Prinsiple adalah :

*      Kita akan selalu belajar atau membaca;

*      Kita akan selalu mencari kebenaran;

*      Kita akan selalu berpikir kritis;

*      Kita akan selalu mengevaluasi diri kita dan menyempurnakannnya (up grade) diri kita untuk mencapai kesempurnaan;

*      Kita akan selalu mencari pedoman atau ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh Allah, yaitu berupa Al – Qur’an.

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Kelima, yaitu Iman kepada Hari Akhir atau Vision Prinsiple adalah :

*      Kita akan selalu berorientasi pada tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang;

*      Kita akan selalu berusaha mengoptimalkan upaya atau usaha untuk mencapai tujuan kita;

*      Kita akan selalu mempunyai pengendalian diri dan social;

*      Kita akan selalu mempunyai jaminan masa depan;

*      Kita akan selalu mempunyai ketenangan batiniah.

Pemahaman dan pengamalan Prinsip Rukun Iman yang Keenam, yaitu Iman kepada Hari Qodho dan Qodhar Allah atau Well Organized Prinsiple adalah :

*      Kita akan selalu memulai pekerjaan dengan menentukan tujuan akhir terlebih dahulu;

*      Kita akan selalu melaksanakan semua kegiatan atau aktivitas melalui proses tahap demi tahap;

*      Kita akan selalu meyakini adanya kepastian Hukum Alam dan Hukum Sosial;

*      Kita akan selalu berorientasi pembentukan sistem yang selalu bersinergi dengan sistem buatan Allah;

*      Kita akan selalu dalam membuat sistem meneladani sistem managemen alam semesta;

*      Kita akan selalu berorientasi pada pemeliharaan sistem yang sudah baik dengan menjaga sinergi.

Setelah kita paham dan mengamalkan Prinsip Ikhsan dan Rukun Iman atau SQ dan EQ dalam diri kita dan kita berada pada posisi telah memiliki pegangan atau prinsip hidup yang kokoh dan jelas, maka kita bisa dikatakan telah memiliki Ketangguhan Pribadi atau Personal Stength.

Ciri kita telah memiliki ketangguhan pribadi adalah jika :

-        Tidak terpengaruh oleh lingkungannya yang terus berubah dengan cepat;

-        Tidak goyah meski diterpa badai sekeras apapun;

-        Mampu untuk mengambil suatu keputusan yang bijaksana dengan menyelaraskan prinsip atau pedoman hidup yang dianut dengan kondisi lingkungan, tanpa harus kehilangan pegangan atau pedoman hidup;

-        Mempunyai prinsip dari dalam diri yang mengalir ke luar, bukan dari luar dirinya masuk ke dalam diri;

-        Mampu mengendalikan pikirannya sendiri ketika berhadapan dengan situasi yang menekan;

-        Mempunyai kemerdekaan dari berbagai belenggu yang menyesatkan penglihatan dan pikiran serta terbebas dari paradigm yang keliru;

-        Mampu untuk memilih respon atau reaksi yang sesuai dengan prinsip yang dianut;

-        Memiliki pedoman yang jelas dalam mencari tujuan hidup dan tetap fleksibel serta bijaksana dalam menghadapi berbagai realitas kehidupan yang riil;

-        Mampu keluar dari dalam diri untuk melihat dirinya sendiri dari luar, sehingga mampu bersikap adil dan terbuka pada dirinya dan orang lain.

Kita  dikatakan tangguh secara pribadi, jika kita telah memiliki EQ yang paripurna, yaitu kita telah memiliki dan paham serta mengamalkan 6 (enam) prinsip moral atau rukun Iman, yaitu :

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip dasar Tauhid (Star Principle), yaitu berprinsip hanya kepada Allah atau mempunyai Spiritual Commitment;

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip Kepercayaan (Angel Principle), berupa komitmen seperti malaikat atau Spiritual Integrity;

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip Kepemimpinan (Leadership Principle), berupa meneladani Nabi dan Rosul atau Spiritual Leadership;

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip Pembelajaran (Lerning Principle), berpa berpedoman pada Al – Qur’an atau Continuous Improvement;

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip Masa Depan (Vision Principle), berupa beriman pada hari Kemudian atau Spiritual Vision;

o   Kita telah memiliki, memahami dan mengamalkan prinsip Keteraturan (Well Organized Principle), berupa ikhlas pada Ketentuan dari Allah SWT atau Rules.

 Agar Konsep SQ dari pemahaman dan pengamalan Ikhsan atas Asmaul Khusna dan Konsep EQ dari pemahaman dan pengamalan Rukun Iman kita, dapat diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga misi penciptaan kita sebagai Manusia di Muka Bumi yaitu beribadah kepada Allah SWT dan tugas yang diemban kita sebagai manusia di alam semesta sebagai Khalifah atau pengelola atau penguasa alam semesta tercapai, maka diperlukan konsep Aplikasi Penggabungan IQ, EQ dan SQ dalam kegiatan operasional sehari-hari kita sebagai manusia. Konsep tersebut dikenal dengan Rukun Islam, yang terdiri dari :

a)    2 (dua) Kalimat Syahadat (Mission Statement/Penetapan Misi)

b)   Sholat (Character Building/Pembangunan Karakter/sifat/tabiat)

c)    Puasa (Self Controlling/Pengendalian diri)

d)   Zakat (Strategic Collaboration/Sinergi)

e)    Haji (Total Action/Aplikasi Total)

Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang merupakan konsep Aplikasi Penggabungan IQ, EQ dan SQ dalam kegiatan operasional sehari-hari kita sebagai manusia adalah sebagai berikut :

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Pertama yaitu 2 (dua) kalimat Syahadat (Mission Statement), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :

-        Kita akan dapat membangun misi Kehidupan, yaitu tiada Ilah (segala sesuatu yang dicintai, diikuti dan ditakuti) kecuali Allah dan Muhammad SAW adalah utusan atau tauladan atau Uswah dalam mengabdi kepada Allah SWT;

-        Kita akan membulatkan tekad kita dalam mencapai Visi kita, yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akherat dengan menjadikan kita rahmatan lil alamin atau memulai dengan tujuan akhir;

-        Kita akan dapat membangun visi kita yaitu menuju Allah atau Tuhan yang maha tinggi dengan menjadikan kita rahmatan lil alamin;

-        Kita akan dapat menciptakan wawasan kita dalam bekerja keras untuk menuju Allah dengan memelihara wawasan kita, seakan-akan ia anak-anak jiwa kita, rancangan untuk mencapai akhir kita;

-        Kita akan dapat mentransformasikan nilai spiritual atau asmaul husna ke dalam membumikan nilai spiritual atau asmaul khusna, sehingga tercipta akhlakul kharimah;

-        Kita akan mempunyai komitmen total untuk mencapai visi kehidupan yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akherat dengan menjadikan diri kita rahmatan lil alamin dan merealisasikan misi kita yaitu tiada illah (segala sesuatu yang dicintai, diikuti dan ditakuti) kecuali Allah dan Muhammad SAW adalah utusan atau tauladan atau Uswah dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Kedua yaitu Sholat  (Character Bulding), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :

-        Kita akan mempunyai waktu untuk relaksasi atau istirahat menyegarkan diri atau menjernihkan pikiran;

-        Kita akan mampu membangun kekuatan afirmasi (penegasan kembali), yaitu kekuatan yang dapat memvisualisasikan prinsip hidup yang diperolehnya melalui rukun Iman, dan menyelaraskan antara nilai-nilai dasar keimanan (asmaul khusna) dengan realitas kehidupan atau kenyataan hidup yang harus dihadapi. Afirmasi atau penegasan kembali memiliki lima dasar yaitu pribadi, positif, masa kini, visual dan emosi;

-        Kita akan mampu meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ), yaitu kecakapan emosi dan spiritual, berupa konsistensi (istiqomah), kerendahan hati (tawadhu), berusaha dan berserah diri (tawakal), ketulusan atau sincerity (Keikhlasan), totalitas (Kaffah), keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ikhsan), dan komitmen;

-        Kita akan mampu membangun pengalaman positif, yaitu menciptakan pengalaman batiniah sekaligus pengalaman fisik (reinforcement) yang mendorong paradigm baru/pergeseran paradigm baru (new paradigm shift) yang positif;

-        Kita akan membangkitkan dan menyeimbangkan energy batiniah, yaitu sumber daya manusia yang diilhami “Cahaya Allah” yang akan turut berperan untuk memakmurkan bumi, bias menambah energy baru yang terakumulasi menjadi kumpulan dorongan dahyat untuk segera berkarya (beribadah) dan mengaplikasikan pemikiran kita ke dalam alam realita kita, yang merupakan perjuangan nyata kita dalam menjalankan misi kita sebagai manusia yaitu Rahmatan Lil Alamin;

-        Kita akan mempunyai cara atau metode pengasahan prinsip rukun iman (EQ), yaitu pelatihan menyeluruh untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kejernihan emosi dan spiritual kita, menanamkan tujuan hidup (core purpose) ke dalam jiwa kita sebagai manusia, yaitu berupa terbangunnya kejelasan visi kita yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan akherat dan Rahmatan Lil Alamin serta misi kita sebagai manusia yaitu beribadah kepada Allah, yang membuat hidup kita sebagai manusia menjadi mantap dalam menjalani setiap aktivitas hidup kita;

-        Kita akan mempunyai pelatihan ketangguhan social (social strength), yaitu berupa sholat berjamaah atau tim yang terkoordinasi.

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Ketiga yaitu Puasa (Self Controlling), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :

-        Kita akan meraih kemerdekaan sejati, yaitu merdeka dan bebas dari berbagai belenggu yang mengungkung titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) kita;

-        Kita akan dapat memelihara titik Tuhan (God Spot/Spiritual Capital) pada diri kita, yaitu melindungi core values atau fitrah ruh ilahiah dan menjaga isi God Spot/Spiritual Capital agar selalu tetap memiliki kejernihan hati dan menghentikan bentuk penghambaan kepada selain Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Qudsi “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepadaku dengan puasa, hingga aku mencintainya, dan bila aku mencintainya, menjadilah pendengaranku yang digunakan untuk mendengar, penglihatanku yang digunakan untuk melihat, tanganku yang digunakan untuk bertindak, serta kakiku yang digunakan untuk berjalan”;

-         Kita akan dapat mengendalikan suasana hati kita yang sangat berkuasa atas wawasan, pikiran dan tindakan;

-        Kita akan dapat meningkatkan kecakapan emosi (EQ) secara fisiologis, hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman tarhadap anak-anak tk di Stanford USA;

-        Kita akan dapat mengendaliakn prinsip Rukun Iman (EQ), yaitu pengendalian pikiran dan hati agar tetap berada pada garis orbit yang telah digariskan dalam prinsip berpikir berdasarkan Rukun Iman;

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Keempat yaitu Zakat (Stategik Collaboration), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :

-     Kita akan mampu mengeluarkan semua potensi spiritual (core values), yaitu dengan mempergunakan dan member system pendelegasian fitrah (core values) semua sumber daya yang dipunyai untuk melakukan sinergi dalam rangka mencapai sebuah tujuan secara efektif dalam tindakan seperti member perhatian dan penghargaan kepada orang, memahami perasaan orang lain, menepati janji yang sudah kita berikan, bersikap toleran, mau mendengarkan orang lain, bersikap empati, menunjukkan integritas, menunujkkan sikap rahman dan rahim kepada orang lain dan suka menolong orang lain;

-     Kita akan menciptakan investasi kepercayaan diantara kedua belah pihak, mencairkan dan menghapus prasangka negative akibat perbedaan sudut pandang, dan mengubahnya menjadi hubungan saling percaya dua arah yang mendalam;

-     Kita akan dapat menciptakan investasi komitmen atau janji dua arah yang mendalam;

-     Kita akan mampu membangun dan menciptakan landasan kooperatif positif dan kondusif bagi terciptanya sebuah sinergi;

-     Kita akan mampu menciptakan investasi kredibilitas yang dibutuhkan sebagai pondasi untuk melakukan aliansi dengan orang lain;

-     Kita akan mampu menciptakan investasi keterbukaan, empati dan kompromi dalam berhubungan dengan orang lain.

Dengan Pemahaman dan pengamalan Konsep Rukun Islam yang Kelima yaitu Haji (Total Action), maka dalam keseharian kita, akan terbentuk tabiat atau sifat atau kebiasaan sebagai berikut :

-        Kita akan mampu memulai langkah mengosongkan pikiran dan suara hati kita (Zero Mind) dengan melakukan Ihram;

-        Kita Kita akan mampu melakukan evaluasi diri dan visualisasi gambaran masa depan atau wawasan melalui pelaksanaan wukuf di Arafah;

-        Kita akan mampu menghadapi tantangan yang selalu mengahadang melalui pelaksanaan lontar jumroh;

-        Kita akan mampu untuk mengasah komitmen atau janji dan integritas melalui Thawaf;

-        Kita akan mampu untuk mengasah AQ (Adversity Quotient), yaitu kecerdasan kita dalam mengatasi kesulitan dan sanggup bertahan hidup dengan melalui pelaksanaan sai;

-        Kita akan mampu menyinergikan seluruh potensi umat melalui pelaksanaan hajiitu sendiri oleh jemaah haji, termasuk diri kita.