Ada sembilan strategi pemasaran yang dipaparkan oleh Hermawan Kartajaya untuk memenangkan pasar pada tahun 2011. Sembilan strategi tersebut adalah YWN Sub-Culture, Digital Interactivity, Urban Lifestyle, Local Content and Context, Channel Mobility, Affordable Luxury, Identitiy Personification, Proactive Engagement, dan Shared Resources.
Pertama, Youth, Women, and Netizen Sub-Cultures. Marketer perlu memfokuskan pada Youth, Women, dan Netizen dan tentunya ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan marketer, yaitu anxiety dan desire daripada Y,W,N itu sendiri. Sekitar 40% Youth atau anak muda (konsumen usia 14 sampai 35) lebih berani mencoba produk atau inovasi terbaru dan sekitar 60% menggunakan new media. Kita sebagai marketer juga harus dapat memberikan empowerment dan melibatkan youth dalam kegiatan pembuatan produk atau pemasaran produk kita. Contohnya seperti LA Lights Indie Fest yang melibatkan anak muda dalam acara musik, atau seperti Es Krim Campina yang membuat Marketing Plan Competition untuk mahasiswa.
Sedangkan Women, Markplus menemukan fakta bahwa lebih dari 80% di Indonesia memegang kontrol keuangan rumah tangga. Mereka sangat peduli terhadap well-being keluarga, sangatlah penting menjaga kepercayaan mereka terhadap merek. Eksklusivitas juga sangat penting bagi wanita dan tentunya mereka adalah orang pertama yang mengikuti tren gaya hidup.
Sedangkan Netizen, terkenal suka melakukan conversation di dunia maya. Maka dari itu kita perlu menciptakan jalur, forum atau jaringan sehingga mereka dapat berkomunikasi satu sama lain dan agar dapat berinteraksi dengan merek kita. Jadi kita benar-benar harus connected dengan mereka, tidak hanya sekadar Well-Connected maupun Deep-Connection, tetapi Strong-Connectivity.
Kedua, Digital Interactivity. Teknologi hanya akan menjadi semakin murah di tahun-tahun mendatang. Dimulai dari pasar telepon genggam dimana sekarang semakin mengarah ke QWERTY, dan hampir sekarang semua handphone sudah connected dengan internet (facebook dan twitter). Contohnya sekarang banyak bermunculannya handphone murah buatan China yang dibanderol kurang dari 300 ribu rupiah sudah bisa facebook-an dan twitter-an. Tentunya seiring dengan berkembangnya teknologi dan telepon genggam dan komputer saling connected dengan internet, maka level interaksi akan naik, di tahun 2011, interaksi screen-to-face akan semakin menggantikan interaksi face-to-face. Interaksi ini tentunya akan meningkatkan servis perusahaan terhadap konsumen dan menguntungkan konsumen karena akan mengurangi beban waktu, biaya, dan tenaga.
Ketiga, Urban Lifestyle. Gaya hidup perkotaan yang dinamis. Konsumen perkotaan mempunyai kebiasaan mengikuti tren yang sedang hangat. Umumnya mereka membaca tren dari observasi di internet, media, atau mendengar dari teman-teman mereka. Contoh nyata konsumen perkotaan yang mengikuti tren adalah Piala AFF Suzuki, pada saat Tim Nasional Indonesia bermain dan menang, maka permintaan akan baju timnas pun naik tajam, inilah salah satu contoh orang-orang yang tidak mau ketinggalan tren.
Konsumen perkotaan menghabiskan sebagian besar uangnya untuk tiga hal, fashion, entertainment, dan socialization, sehingga marketers harus pintar “meramu” ketiga hal tersebut menjadi satu kesatuan untuk meraih sukses di 2011. Saat ini saya memperhatikan Pazia, yang dimana menurut saya mereka menggabungkan ketiga unsur tersebut. Mulai dari penataan ruang outlet yang menarik (fashion), mendeferensiasi toko IT yang berbeda dengan toko IT yang seperti biasanya dengan memberikan internet gratis kepada pengunjung dan dapat memainkankan layar sentuh di meja dan dilengkapi juga dengan kafe (entertainment) dan mereka menyediakan ruang/meja dengan tempat duduk yang cukup nyaman kepada pengunjung untuk dapat nongkrong atau sekedar ngumpul (socialization).
Keempat, Local Content and Context. Walaupun nanti pada 2011 Indonesia akan diserbu oleh banyak pemain luar, bahkan banyak pemain luar yang menggandeng partner lokal agar sesuai dengan selera konsumen dan mempermudah akses, disini marketer harus cermat melihat situasi, kalau pemain luar saja berusaha memperhatikan kelokalannya, mengapa pemain dalam negeri tidak memperkuat diri dengan konten dan kemasan pemasaran lokal? Salah satu contoh elemen lokal yang digandeng pemain luar adalah nasi liwet. Ya, seperti yang diceritakan oleh Hermawan Kartajaya pada Markplus Conference kemarin, dia menceritakan nasi liwet, makanan khas Jawa yang biasa kita makan dengan harga kurang lebih 10 ribu rupiah, tetapi nasi liwet di Hotel Four Season seharga 145 ribu plus plus! Inilah contoh nyata konten lokal yang digunakan.
Kelima, Channel Mobility. Dinamisnya konsumen Indonesia memaksa munculnya gaya baru. Seperti yang dapat kita lihat belakangan ini,banyak konsumen yang berwirausaha dengan berjualan melalui kaskus, facebook, blog, maupun Blackberry Messenger. Ini menunjukkan konsumen menginginkan channel yang lebih mobile terkait penyediaan produk dan layanan. Awalnya teknologi hanya untuk konsumsi, kemudian konsumen mulai melihat peluang usaha dengan teknologi. Contohnya banyak orang yang tidak memiliki modal untuk menyewa tempat, bayar pegawai, dan lain sebagainya, menggunakan channel baru dengan berjualan via online.
Keenam, Affordable Luxury. Kemewahan yang terjangkau. Ada pepatah, “Mewah tidak harus mahal bukan?”. Nah, itulah yang harus ditawarkan kepada pasar Indonesia. Contohnya seperti mobil, penghuni perkotaan membutuhkan kendaraan transportasi yang terjangkau, dan pada tahun 2011 pasar mobil Indonesia akan diramaikan oleh mobil-mobil mungil yang dibanderol antara Rp 110-120 juta seperti Toyota Etios atau Honda Brio.
Ketujuh, Identity Personification. Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye pemasaran seringkali penuh hiperbola, terlalu dibuat-buat atau biasa disebut lebay. Konsumen mulai sebal dan gerah dengan terlalu lebay-nya kampenye pemasaran, sehingga marketer harus lebih realistis dan jujur dalam mengkampanyekan pemasaran.
Kedelapan, Proactive Engagement. Tentunya persaingan akan semakin ketat dari tahun ke tahun, sehingga perusahaan harus lebih proaktif dalam mengikat hubungan dengan konsumennya agar konsumen menjadi loyal dan enggan berpindah ke yang lain. Dengan mengetahui anxiety dan desire konsumen, perusahaan bisa mengikat hubungan lebih erat dengan konsumennya.
Kesembilan, Shared Resources. Dengan sumber daya yang terbatas, marketer atau perusahaan harus pintar-pintar memilih cara yang efektif dan efisien untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada. Contohnya bank-bank syariah yang berencana di 2011 untuk bekerja sama satu sama lain dan bahkan berkolaborasi dengan bank-bank konvensional dalam memasarkan produk-produk mereka dengan diinspirasi petunjuk dan anjuran dari Bank Indonesia.
Kesembilan strategi diatas tentunya akan membantu marketer lebih cepat beradaptasi dengan keadaan pasar Indonesia dan akan lebih baik didukung oleh teknik pemasaran New Wave yang low budget high impact dan tentunya tidak melupakan nilai-nilai (values driven) yang tertuang dalam Marketing 3.0.

Dari semua yang dipaparkan diatas, adaptasi adalah kata kuncinya. Mengulang kembali kata Charles Darwin, “Bukan yang terkuatlah yang akan bertahan, tetapi yang dapat beradaptasilah yang akan bertahan”. So, be ready for 2015!

About akangheriyana

Im fun. Im cool. Im Confident. Im Akang Heriyana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s