IMAG0043

Pengenalan manajemen resiko (yang disampaikan oleh Bapak Soedarjono, Komisaris Independen PT. Bank Danamon Indonesia pada Forum Diskusi ISICOM) bahwa pada dasarnya resiko tidak dapat dihindari, dan tidak mengambil resiko pun sebenarnya beresiko. Untuk itulah manajemen resiko disebut juga metode untuk menyeimbangkan antara resiko dan return. Namun yang perlu dirubah saat ini menurutnya adalah cara memandang resiko.
Cara pandang lama seperti pemegang saham tidak peduli tentang resiko, manajemen perusahaan berpikiran bahwa mengambil resiko itu benar, karena meningkatkan diversifikasi, manajemen resiko merupakan upaya mencegah perusahaan dari masalah bencana, harus dilakukan secara sentralistik oleh kantor pusat dan pendekatan parsial dan terbagi-bagi dimana tiap resiko ditangani oleh spesialis resiko secara fundamental harus segera dirubah.
Tahapan manajemen resiko dimulai dari :
– kesadaran akan resiko,
– pengukuran resiko dan
– pengawasan.
Kesadaran akan adanya resiko dapat diperoleh melalui pelatihan, pendidikan, budaya dan komunikasi. Dan ini akan sangat dipengaruhi oleh personal judgment yang bersangkutan.
Pengukuran resiko bisa dilakukan melalui analisa resiko maupun model resiko.
Untuk pengawasan dapat diketahui dari titik-titik pengawasan resiko yang di tiap-tiap perusahaan berbeda-beda.
Upaya memperkecil resiko ditempuh dengan jalan menjual aset, derivative atau asuransi. Pengertian resiko yang berarti pengenalan mengenai masa depan yang tidak pasti, ketidakmampuan untuk meramal apa yang akan terjadi, dan juga menunjukkan bahwa tiap kegiatan dapat menghasilkan lebih dari satu kemungkinan. Ciri dari resiko yaitu mengindikasikan tingkatan ketidakpastian yang cukup signifikan untuk diperhatikan. Pada dasarnya resiko dapat diukur, namun bagaimanapun juga gunakan penilaian (judgment) yang terbaik.
Masalah yang sering timbul dalam manajemen resiko adalah bahwa tidak tersedia cukup informasi mengenai suatu situasi, dan situasi tidak akan pernah terulang kembali persis sama seperti yang sebelumnya. Untuk itulah diperlukan analisa resiko, yang merupakan metode kualitatif dan/atau kualitatif untuk mengukur dampak resiko pada situasi tertentu. Namun demikian analisa resiko hanyalah sekedar alat, dan sebaiknya tidak digunakan sebagai pengganti penilaian pribadi (personal judgment).
Dalam dunia usaha dikenal Enterprise Risk Management (ERM) yang bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja terpadu untuk mengukur profil resiko perusahaan. Langkah awal adalah menentukan tujuan perusahaan (langkah identifikasi), kemudian menilai
resiko (langkah pengukuran) dan akhirnya adalah menentukan langkah pengawasan yang diperlukan (langkah prioritas).
Dengan resiko yang telah terukur akan tergambar bentuk organisasi yang sesuai (yang akan mempengaruhi perencanaan strategis sehingga diperoleh sistem kontrol manajemen) dan rancangan permodalan/keuangan perusahaan. Dari pelaksanaan manajemen resiko akan dengan mudah disusun rancangan permodalan perusahaan. Karena sudah dihitung kerugian yang diramalkan (predictable) dan kerugian yang tidak diramalkan (unpredictable) yang berarti jumlah keduanya merupakan modal yang diperlukan oleh perusahaan.
Pendalaman manajemen berbasis resiko dengan kupasan mendalam mengenai aspek manusia (disampaikan oleh Roy Sembel dalam Forum Diskusi ISICOM). Menurutnya, dalam manajemen berbasis resiko sebaiknya informasi yang diterima mengenai situasi tertentu haruslah lengkap, sempurna dan simetris. Hal yang sering terjadi adalah informasi yang diterima tidak sempurna (imperfect), tidak lengkap (incomplete), dan asimetris. Akibatnya sangat fatal, analisa resiko tidak akurat sehingga menimbulkan resiko yang cukup signifikan. Contoh yang lazim digunakan dalam manajemen resiko adalah Hukum Murphy (Murphy’s Law) yang berbunyi “Anything that can go wrong, will go wrong” (Sesuatu yang berpotensi kacau akan menjadi kacau).
Mencari keseimbangan antara resiko dan return adalah inti dari manajemen resiko. Dalam keadaan keseimbangan (equilibrium) selalu berlaku high risk high return, dan sebaliknya. Untuk menemukan keseimbangan antara resiko dan return perlu dikaji lebih mendalam aspek psikologis mengenai penggunaan otak kiri (rasionalitas, empiris) dan otak kanan (imajinasi, inovasi). Sebaiknya dalam manajemen resiko yang dominan sebaiknya adalah otak kiri.
Pada umumnya penyebab kegagalan bisnis hanya terdiri dari 3 hal, yaitu
– Tidak diterapkannya good governance,
– Strategi yang salah dan
– Tidak diterapkannya manajemen resiko.
Contohnya adalah kasus Barings, bangkrutnya kabupaten Orange County di Amerika, Long Term Capital Management (LTCM) dan Enron.
Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa manusia pada umumnya mengandalkan persepsi. Persepsi selalu mendominasi proses pengambilan keputusan. Padahal di dalam manajemen resiko banyak hal tidak seperti yang terlihat, sehingga jika tetap mengandalkan persepsi bukan kesuksesan tapi kegagalan yang kita peroleh. Metode yang terbaik adalah menggunakan kuantifikasi, karena metode ini jauh lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari pertanyaan peserta forum terlihat bahwa manajemen resiko adalah dunia keseharian komisaris, terutama komisaris independen, mengingat komisaris independen otomatis merupakan ketua komite audit. Terbukti dari banyaknya pertanyaan dan pernyataan/usulan yang sifatnya teknis operasional. Seperti pernyataan perlunya konsultan untuk menilai resiko dan penerapan manajemen berbasis resiko di BUMN untuk meningkatkan efisiensi dan mereduksi penyimpangan di BUMN. Disinyalir keengganan BUMN menerapkan manajemen berbasis resiko karena menganggap pemerintah akan turun tangan membantu apabila terjadi sesuatu di BUMN.
Ditanggapi bahwa langkah awal penerapan manajemen berbasis resiko adalah membuat UU BUMN. Tentukan visi/misi, ukuran dan akhirnya bentuk organisasi baru kemudian laksanakan risk assessment, risk analysis dan terakhir yaitu pengawasan. Bentuk organisasi misalnya Perum dan Perjan berorientasi sosial, sedangkan Persero harus berorientasi bisnis.
Permasalahan yang sangat krusial di dalam manajemen berbasis resiko adalah adanya budaya di Indonesia mengenai sistem informasi yang tidak teratur. Mayoritas data yang ada pasti tidak lengkap, tidak sempurna/akurat atau asimetris.
Ini berkaitan erat dengan perilaku sebagian besar masyarakat yang tidak menghargai informasi. Informasi tidak diperbarui secara berkala, tidak dilengkapi, bahkan yang lebih parah tidak sesuai dengan situasi yang ada. Hal ini merupakan awal dari kegagalan mengelola resiko, sehingga akibatnya adalah kerugian yang luar biasa besarnya. Juga ada aspirasi dari peserta yang juga anggota dari ISICOM untuk memperjuangkan landasan hukum yang lebih kuat (misalnya Keputusan Pemerintah) bagi kedudukan komisaris independen. Aspirasi ini didorong oleh kenyataan yang ada bahwa
aturan mengenai komisaris hanya ada pada Surat Keputusan Direksi BEJ. Kedudukan ini menurut Soedarjono dapat dimasukkan ke dalam UU PT yang akan segera diperbarui. Diharapkan dengan adanya UU PT baru ini akan semakin jelaslah posisi, wewenang, dan tanggung jawab komisaris independen.

About akangheriyana

Im fun. Im cool. Im Confident. Im Akang Heriyana..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s